
Langkah Tama terhenti karena Pak John sudah berada di ambang pintu utama. Jika saja Pak John tidak muncul kala itu, mungkin saja kepalan tangan kanannya sudah mendarat di wajah Dimas yang ia anggap tidak tahu diri itu.
"Ada apa ini?" tanya Pak John dengan suara dangarnya yang khas. Ya dia bertanya-tanya kenapa Dimas lelaki sial*an yang sudah mempermainkan keponakannya itu berada di gedung kantornya?
"Pagi Pak. Saya selesai berkonsultasi dengan Nabila." jawabnya.
"Benar begitu Nabila?"
"Iya, Om."
Sebenarnya Dimas bisa saja mencari firma hukum lain untuk bisa membantu menyelesaikan kasusnya. Tapi ia tentu punya maksud lain, untuk bisa mendekati Nabila lagi.
Tama hanya bisa menatap dari jarak yang tidak terlalu dekat, sepertinya ia harus mencari tahu lebih jauh tentang laki-laki itu.
"Jika sudah selesai, saya permisi Pak Dimas." Ujar Nabila dan langsung berjalan menuju keruangan nya dan langkahnya terhenti kala melihat Tama yang memandangnya dengan tatapan penuh tanya. Tak pernah Tama menatapnya seperti itu, membuat Nabila takut dan berharap bahwa Tama tidak melihat dan mendengar apapun saat ia sedang bersama Dimas tadi.
"Tama, ka-kamu nungguin aku?"
"Iya, lebih tepatnya nungguin penjelasan kamu dari apa yang aku lihat barusan." nada datar dan dingin, ya kali ini Nabila yang merasa terpojok. Walau sebeanarnya ia tak melakukan kesalahan apapun.
"Kamu salah paham, Tama..."
"Aku tunggu jam makan siang," lanjutnya lagi. Nabila berdecak kesal, karena Tama tak percaya padanya. Lalu naik ke ruangan Pak John dengan menenteng beberapa map yang merupakan dokumen perihal kasus yang sedang dihadapi Dimas.
"Pagi, Om."
"Nabila, kamu nggak apa-apa?" Nabila menggeleng pelan lalu duduk dihadapan Omnya yang sedang menatapnya dengan serius.
Gimana nggak apa-apa mungkin setelah ini Tama akan marah padanya, tak pernah-pernah Nabila melihat tatapan tajam dari Tama seperti itu.
Ia pun segera menyadarkan lamunanya, "ini Om." menyerahkan map itu pada Pak John.
-----------------------
Jam makan siang tiba, Tama sudah menunggu Nabila didalam mobilnya. Dengan langkah pelan, Nabila berjalan menuju parkiran ke arah mobil lelaki itu.
"Tama--"
"Apa dia Dimas yang hampir menikah dengan kamu?"
"I-iya Tama,"
"Adegan yang aku lihat tadi itu apa, Nabila?" tanpa kata 'sayang' seperti biasanya, lelaki itu menahan emosi. tetap santai dan tak mau gegabah .
"Nggak penting Tama, yang jelas dia minta aku mengerti dan balik lagi sama dia..."
"Terus kamu terima?" Tama mendekatkan wajahnya pada Nabila, menatap lekat mata cokelat Nabila.
"Ya ampun Tama, ya enggak lah. udah dong Tama, aku nggak mau bahas masa lalu, kan aku udah ada kamu?"
"Udah ada siapa?" ingin sekali Tama mengukir senyum di bibirnya mendengar pengakuan wanita disampingnya, namun ia tahan. senyum yang membuatnya merasa menang karena Nabila sudah benar-benar jatuh ke pelukannya.
"Kamu! harus ya diulang-ulang? Ck!" Membuat wanita itu kesal dan melipat kedua tangannya di dada.
Oh ternyata sangat mudah mengendalikan emosi Tama, pengakuan seperti itu saja sudah bisa membuat emosinya stabil. Nabila mengira bahwa lelaki itu akan marah besar padanya, kini detak jantung Nabila perlahan mulai teratur.
"Lain kali kalau dia datang lagi, kamu harus menemuinya bareng aku!" ucapnya lagi dengan nada tinggi.
"Iya Tama tadi aku nggak tau kalau klien nya itu dia." Nabila meremas kecil rok yang ia kenakan. Ia salah mengira ternyata masih berlanjut.
"Mau dia atau bukan, harusnya kamu tetap sama aku, kan? kamu lupa tugas aku adalah mendampingi kamu." jelasnya lagi.
"Iya maaf, kamu jangan salah paham." Tama menghembuskan nafasnya kasar. Tak sehsrusnya ia seperti ini, jika di cerna sebenarnya Nabila tak melakukan apapun, itu adalah murni kesalahan Dimas yang memaksanya untuk mendengar penjelassn hingga harus menyentuh Nabila seperti itu. Tama mengingat bagaimana kesalahan yang ia lakukan pada Nabila. itu lebih menyakitkan jika Nabila mengetahuinya.
Ting. Ponsel Tama kembali berbunyi, kali ini ia membukanya. Tak ia sangka pesan itu adalah dari Citra yang sudah dua kali mengirimkan pesan untuknya.
Tama, aku harap yang kemarin bukan yang pertama dan terakhir.
Tama, tolong temui aku di Cafe biasa, ada hal penting yang mau aku omongin, setelah kamu langsung pergi dari rumahku kemarin, aku nggak sempat ngomong apapun.
Tama membaca pesan itu, Nabila masih terdiam tepat di sebelahnya.
Tama, kalau kamu abaikan aku seperti ini, aku yang akan temui kamu di kantor kamu sekarang. Pesan berlanjut, pesan tanpa nama di kontak Tama, dan ia sudah tahu kalau itu adalah Citra. wanita itu menggunakan nomor lain untuk menghubunginya. Karena Tama sudah memblokir nomornya beberapa minggu yang lalu.
"Siapa Tama? ada apa?" melihat wajah lelaki itu berubah, tentu saja Nabila bertanya.
"Bukan siapa-siapa, nggak penting." Nabila mengetahui bahwa lelaki itu sedang berbohong, tak segan-segan Nabila merampas ponsel yang berada di tangan Tama, membuat lelaki itu terkejut.
"Sayang, itu..."
"Ini pasti perempuan itu? iya kan?"
"Iya, udah dong yang penting aku nggak peduli sama dia."
"Ternyata urusan kamu sama dia belum selesai, Tama?" tanya Nabila lirih, terlihat kekecewaan di raut wajahnya.
"Aku nggak punya hubungan apapun lagi sama dia, kemarin aku dan Mama langsung kerumahnya dan menemui Mamanya untuk memutuskan perjodohan kami."
"Benar begitu?"
"Iya, emang muka aku kelihatan bohong?"
"Kalau gitu, ayo kita temui dia sekarang."
"A-apa? tapi untuk apa Nabila?"
Ajakan Nabila membuat Tama resah, bagaimana jadinya jika Nabila bertemu dengan Citra? Wanita itu pasti akan mengatakan hal yang bukan-bukan. Mengingat bagaimana liciknya Citra.
"Untuk memperjelas hubungan kita dihadapan dia, supaya dia nggak ganggu kamu lagi. Kamu nggak berniat main-main kan sama aku?"
-----------------
Dih, maaf baru up lagi. Author super sibuk akhir-akhir ini 😄