
Setelah selesai berchating ala kadarnya bersama lelaki bernama Leo itu, satu jam kemudian Nabila terus mengecek ponselnya mengapa tidak ada notifikasi dari orang yang ia tunggu-tunggu. Ponsel yang berada didalam genggamannya terus ia tatap, ya dia masih berharap Tama menghubunginya tapi kenapa lelaki itu tidak menghubunginya sama sekali? apa hubungan mereka benar-benar sudah berakhir sekarang.
Dasar laki-laki nggak berperasaan. Gerutunya, kemudian memejamkan mata. Namun tak bisa juga ia tertidur, dipikirannya terlintas sesuatu.
Oh ya Ampun Tama, maafin aku. Nabila mengingat siang tadi ia telah memblokir nomor nya, pantas saja tidak ada notifikasi apapun.
Detik itu juga Nabila membuka blokirnya dan kembali seperti semula.
Tanpa menunggu lama, benar saja chat masuk bertubi-tubi ke ponselnya.
Nabila
Sayang
Maafin aku
Nabila
Kasih aku kesempatan lagi.
Melihat chat itu, Nabila segera membalas, tak tega mendiamkannya terlalu lama.
Selesaikan dulu urusan kamu dengan perempuan itu, kalau diantara kita masih ada dia dan terus mengganggu kamu, lebih baik aku yang ngalah. Aku nggak bisa berbagi Tama. Itu menyakitkan, tolong kamu ngerti.
Kalimat padat menggambarkan rasa kekecewaan dan sakit hatinya ia tujukan pada Tama. Siapa sih yang mau hubungannya ada pengganggu, Nabila akan memgalah jika memang hubungan Tama dan Citea belum berakhir. Tak masalah baginya, gagal menikah untuk kedua kali? sudahlah mungkin memang sudah nasibnya. Atau memang jodonya belum dekat, Itulah yang tersirat dalam benaknya.
Tapi Nabila, sumpah aku udah nggak ada hubungan apapun sama dia, kalau kamu nggak percaya, apa perlu mamaku yang bicara sama kamu?
"Kenapa juga harus bawa-bawa mamanya dalam masalah ini?"
Apapun itu, aku cuma butuh waktu untuk sendiri dulu tanpa kamu... dan kamu bisa instropeksi diri dulu, tolong ngertiin aku ya.
Disisi lain, Tama mengacak kasar rambutnya, ia benci keadaan ini. Tapi ia sadar jika ini murni kesalahannya, kalau saja saat Citra mendekatinya waktu itu ia langsung menolak, tentu hal ini tidak akan terjadi. Sekarang ia sadar telah menyia-nyiakan apa yang ia perjuangkan selama bertahun-tahun yaitu kepercayaan dari Nabila. Saat ini ia hanya bisa mengumpat diri sendiri, dan menyusun rencana untuk selanjutnya berharap bantuan dari sang Mama yang sepertinya juga tidak memihak kepadanya.
---------------
Nabila sedang membereskan sebagian dokumen-dokumen penting terkait kasus yang sedang ia tangani, untunglah tidak ada sidang hari ini, mengingat kartu advokatnya belum berada ditangannya. Nabila melirik ke arah jam tangan sudah hampir pukul satu siang, sesuai janjinya malam tadi, ia akan bertemu dengan lelaki yang ia anggap penyelamat itu.
Ponselnya yang berada diatas meja berdering, tertera nama Leo disana.
"Halo Mas,"
"Mbak Nabila, saya udah nyampe ya."
"Oh iya Mas sebentar saya baru mau jalan, maaf ya harus menunggu."
"Nggak apa-apa Mbak, hati-hati."
Padahal belum jam satu, waktu yang mereka sepakati untuk bertemu, tapi ternyata lelaki itu tiba lebih awal. Sejak Nabila menerima panggilan tadi, Tama terus menatapnya. Nabila melangkah keluar ruangan tak lupa membawa tasnya, sudah pasti Tama mengikutinya.
"Kamu mau kemana?" sudah Nabila duga pasti akan seperti ini.
"Aku mau ketemu orang yang nemuin kartu advokat ku," jawab Nabila tanpa menoleh ke arah Tama.
"Ehm, aku antar ya. Cowok kan?"
"Nggak usah Tama, makasih. Dan mau cewek atau cowok, itu bukan urusan kamu." jawabnya ketus.
"Apa hubungan kita benar-benar berakhir, Nabila?" suara lelaki itu terdengar lirih.
"Untuk sementara ini, aku nggak mau menjalin hubungan dulu. Jika nanti kita memang berjodoh, gimana pun jalannya, pasti kita dipertemukan." Jawab Nabila dengan memberikan senyum termanisnya, ucapannya benar-benar tulus, membuat Tama semakin bingung. Nabila tidak marah padanya? tapi kenapa kata-katanya begitu menusuk dihatinya.
"Dan kita akan tetap seperti biasa, rekan kerja. Aku nggak pernah nganggap kamu musuh," lanjut Nabila lagi.
Tama hanya terdiam terpaku mendengar setiap kalimat yang di lontarkan Nabila. Kemudian menatapnya pergi dan menghilang dari pandangannya.
----------
Sudah sampai direstoran, sebelum benar-benar melangkah masuk, Nabila mencari sosok yang ia kenal. Mengedarkan pandangannya dan terhenti pada seorang lelaki yang mengenakan kemeja berwarna biru dongker, terlihat sedang menikmati secangkir kopi sambil menatap layar ponselnya.
"Hai Mas Leo?" Lelaki itu menoleh, menatap Nabila yang berada tepat dihadapannya.
"Iya Mbak Nabila, silahkan."
Lelaki itu terlihat sibuk dengan dua ponsel yang berada di atas meja dan satu ponsel yang berada di genggamannya.
"Maaf ya saya lama," Nabila membuka pembicaraan.
"Oh iya nggak apa-apa kok, saya juga baru lima belas menit."
Nabila hanya membalas dengan senyuman lalu meraih menu diatas meja, Leo meletakkan ponsel yang ada digenggamannya di dalam saku kemejanya. Lalu meraih sesuatu dari dalam saku celananya,
"Ini yang Mbak cari, saya tahu itu sangat penting buat orang yang memiliki profesi seperti Mbak Nabila," meletakkan kartu itu di atas meja.
"Makasih ya Mas, saya sadar ini terjatuh di ATM, tapi setelah saya kembali kesana ternyata udah nggak ada,"
"Iya, sama-sama," Leo mengangguk.
Setelah mereka berdua memesan makanan, sembari menunggu pesanan mereka mengobrol santai, Leo benar-benar sangat menghargai Nabila. Tak sekalipun ia menoleh ke arah lain saat mereka berbicara. Mereka saling bertukar informasi pribadi dan juga pekerjaan.
Saat mereka sedang asyik mengobrol, salah satu ponsel Leo berdering.
"Ya Halo?"
"Pak Leo, saya... saya sudah di kampus."
"Kamu tunggu saja di depan ruangan saya, satu jam lagi saya kesana."
Leo langsung memutus sambungan telepon tanpa mendengar jawaban selanjutnya.
Nabila merasa ada yang aneh dari lelaki ini, saat berbicara dengannya setiap ucapan dan kalimatnya terdengar sangat lembut. Tapi kenapa saat menerima panggilan, nadanya begitu ketus dan tegas.
"Maaf ya, itu tadi mahasiswiku yang mau bimbingan," ucapnya seraya tersenyum. Nabila mengangkat alisnya seketika langsung paham bahwa Leo juga seorang Dosen.
"Oh, selain arsitektur, Mas Leo juga Dosen?" tanya Nabila, Leo menganguk.
"Tapi kenapa kejam banget sama mahasiswinya Mas?"
"Kalau nggak digituin, mereka bakalan ngelunjak. Dan genitnya semakin menjadi-jadi." ucap Leo. Nabila hanya mengangguk mengerti.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Mereka menikmati makanan tanpa bicara. Hanya menatap satu sama lain, Leo terlihat sangat senang bertemu dengan Nabila, mungkin lebih tepatnya kagum.
"Maaf kalau saya boleh tau, usia Mbak Nabila..."
"Ehm, saya dua puluh delapan tahun, Mas. Kalau Mas Leo?"
"Yang jelas, saya udah kepala tiga. hehe." jelasnya sambil sedikit tertawa.
"Oh...," Nabila melirik ke arah jam nya, sudah hampir jam dua siang, mengingat pekerjaannya masih sangat banyak.
"Mas, kayaknya saya nggak bisa lama-lama, pekerjaan saya masih banyak, nanti bos saya ngomel." Karena sudah menyelesaikan makannya Nabila ingin pamit.
"Oh iya saya juga udah ditunggu sama mahasiswi di kampus," Lalu Nabila hendak memanggil salah satu pelayan untuk meminta bill, sesuai janjinya malam tadi dialah yang akan mentraktir Leo sebagai ucapan terimakasih.
"Pelayannya lagi pada sibuk, kita ke kasir aja." ucap Leo yang sudah bangkit dari kursinya.
"Iya Mas," Nabila mengikutinya, sesampai di kasir ternyata Leo sudah mengeluarkan kartu debitnya untuk melakukam transaksi.
"Mas, biar saya aja," Nabila langsung mencegahnya.
"Dimana harga diri saya Nabila, kalau kamu yang bayar." menampilkan senyum manisnya, hampir saja Nabila tersihir, dan tiba-tiba Leo memanggilnya tanpa sebutan 'Mbak' lagi. Oh Nabila menyadari mungkin setelah memgetahui usia Nabila lebih muda darinya.
"Makasih Mas Leo, semoga kebaikan kamu dibalas sama Tuhan." ucap Nabila sebelum mereka benar-benar berpisah.
"Kantor kamu se arah sama kampus yang ingin saya tuju, gimana kalau saya antar?"
"Maaf Mas saya enggak ke kantor sekarang, mau ketemu seseorang dulu, ibu-ibu yang mau konsultasi." Terpaksa Nabila berbohong ia tidak mau Leo mengantarnya ke Kantor. Bagaimanapun, Nabila masih menghargai perasaan Tama. Apa jadinya kalau sampai Tama melihatnya di antar oleh seorang Laki-laki tampan, mapan.
"Baiklah kalau gitu, saya harap sekarang saya nggak sedang berhadapan dengan istri orang dan semoga ini bukan pertemuan terakhir kita," Ucap Leo sambil menyodorkan tangannya untuk bersslaman dengan Nabila.
"Saya belum nikah, Mas." ucap Nabila jujur. "Iya, semoga aja." lanjutnya. Mendengar pengakuan Nabila, senyum mengembang di bibir Leo.
Saat Nabila ingin melepaskan tangannya dari Leo, tapi lelaki itu menahannya. "Maaf," tutur Leo kemudian melepasnnya.
Mereka pun berpisah ke tujuan masing-masing.
----------------------
Nabila jangan berpaling dong dari Tama, kasian juga dia, duh 😂😂😂