
Lanjut yah...
Saat pesanan datang, Nabila langsung meracik sotonya dengan menambahkan sedikit sambal dan kecap manis, seperti biasanya. Karena perutnya sangat lapar, dia langsung melahap makananya, tanpa memperdulikan Tama yang ada dihadapannya.
"Lapar atau doyan sih, pelan-pelan dong, kan masih panas" Ucap Tama saat melihat Nabila yang tidak sabaran saat makan.
"dua-duanya" Jawab Nabila singkat, Tama hanya tersenyum melihatnya.
"setelah ini kemana Nab?" Tanya Tama juga sambil menikmati sotonya.
"ehmm.. ke mana ya? duh aku lupa, ntar aku lihat schedule dulu" Jawab Nabila.
"emang jadwal kamu segitu padatnya ya? Sampe lupa harus kemana dulu" Tama.
"iya Tam, ntar kamu bakal ngerasain deh, eh tapi belum tentu. Soalnya Om John terlalu banyak menaruh kepercayaan padaku, jadi semua semua aku, kalau perkaranya lumayan berat, aku nyerah dan langsung Om John yang turun tangan" Jelas Nabila sambil mengelap mulutnya yang belepotan karena kuah soto.
"begitukah? hmmm, ternyata berat ya menjadi seorang Pengacara"
"Berat atau enggaknya itu tergantung gimana kita ngejalani nya Tam" Jawab Nabila, mengambil lipstik dari tasnya kemudian memoleskan dibibir indahnya, tanpa menggunakan cermin, dan tentunya rapi. Karena Nabila sudah biasa melakukannya, bahkan pernah di atas motor saat naik ojek.
Nabila tidak menyadari sedari tadi, Tama memperhatikan berbagai tingkah lucunya.
drrtt..... drtt..... drtt....
getaran ponsel pertanda panggilan masuk, Nabila melihat ke ponselnya yang berada di atas meja.
"Loh?" Ternyata bukan punya Nabila yang bergetar.
"Punyaku, bentar ya" Ucap Tama kemudian meninggalkan Nabila, karena akan menerima panggilan.
Karena Tama berpindah tak jauh jaraknya dari tempat duduk mereka, sehingga Nabila bisa mendengar samar percakapan Tama di telepon.
"iya, iya maaf, aku gak bisa nepatin janji, tapi kamu harus paham, hari ini adalah hari pertama aku bekerja, lain waktu kita makan siang bareng, oke?"
Nabila menguping
'siapa tuh? pacarnya kali ya'
"Cepet amat" Kata Nabila karena tak sampai 1 menit, Tama langsung mengakhiri panggilan dan kembali duduk dihadapan Nabila.
"iya, biasalah fans ngajak makan siang bareng, dan dia kecewa karena aku nggak bisa" Kata Tama yang tak jujur pada Nabila, padahal yang menelpon tadi adalah Citra yang merupakan kekasih Tama.
"dih, ternyata narsisnya belum hilang-hilang ya" Kata Nabila.
"Pak, hitung ya" Kata Nabila pada pemilik warung.
Tak lama kemudian, pemilik warung pun menghampiri mereka.
"Totalnya lima puluh dua ribu mbak" Kata Pemilik warung.
Nabila mengeluarkan sejumlah uang tersebut dari dalam dompetnya
"Makasih ya Pak" Nabila.
"Sama-sama mbak"
"ayo, Tam" Ajak Nabila dan bangkit dari kursinya.
"jadi aku di traktir nih?" Ucap Tama.
"iya, masa aku tega sih nyuruh anak magang yang bayar, hahaha"
"ini mau kemana Nab?" entah sudah berapa kali Tama menanyakan itu pada Nabila.
"Ya ampun, bentar-bentar" Kata Nabila sambil mengecek ponselnya.
"oh iya, ke Pengadilan Agama Sleman ya, mau ngambil berkas perceraian klien lain" Kata Nabila.
"oke" Jawab Tama singkat.
***
Setibanya di tempat tujuan mereka.
"Tam, kamu nunggu di mobil aja ya. Aku gak lama kok" Belum sempat Tama menjawab, Nabila langsung turun dari mobil, dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung Pengadilan.
Sesuai perkataan Nabila, Tama hanya menunggu di dalam mobil.
***
Sudah hampir setengah jam Tama menunggu Nabila di mobil, tapi Nabila tak kunjung tampak.
'kemana sih, katanya bentar aja, mau nelpon tapi gak punya nomornya, aku susul aja deh' Gumam Tama yang keluar dari mobil melangkah masuk ke gedung Pengadilan, dan saat memasuki pintu utama gedung, Tama melihat Nabila sedang asyik mengobrol dengan seorang wanita yang merupakan salah satu pegawai di Kantor Pengadilan ini.
Wanita tersebut adalah Dhea, sahabat Nabila sejak masa kuliah hingga sekarang.
Tama pun berjalan, kaki panjangnya melangkah mendekati mereka berdua, kemudian Dhea menyadari ada wajah yang tak asing menghampiri mereka.
"Nab, liat deh itu di belakang kamu, itu.. berondong yang ngejar-ngejar kamu dulu" Bisik Dhea.
"hah?" Nabila baru menyadari kalau dia sudah meninggalkan Tama di mobil terlalu lama.
Nabila pun menoleh, dan Tama sudah berada tepat dibelakangnya.
"Tam, maaf banget, aku keasyikan ngobrol, ayo kita kembali ke kantor" Ucap Nabila yang sedikit gugup.
Tapi kemudian Dhea menarik Nabila menjauh sedikit dari Tama.
"Nab, coba jelasin ke aku tentang semua ini" Jelas saja Dhea kaget, yang pertama karena Tama yang tiba-tiba muncul. Kedua, ternyata mereka Nabila dan Tama datang bersama kesini.
"Duh, ntar aku jelasin yah ceritanya panjang banget Dhe, hari sabtu kalau aku nggak sibuk kita ketemu yah, bye sayang" Ucap Nabila dan langsung pergi meninggalkan Dhea yang masih penasaran dengan wajah bengongnya.
*Dalam perjalanan kembali ke kantor*
"Tam, maaf yah.. aku benar-benar lupa kalau kamu nungguin aku soalnya aku udah terbiasa pergi sendiri, tanpa ada yang nungguin" Jelas Nabila dengan rasa bersalahnya.
"Gak papa Nab, aku maklum, namanya juga wanita kalau sudah ketemu teman, bisa lupa segalanya" Tama hanya tersenyum dan melirik ke arah Nabila yang sedang sibuk melihat berkas yang ia pegang.
"hehehe, sekali lagi maaf yah" Ucap Nabila membalas senyum Tama.
Sedari pagi mereka bersama, ada sesuatu yang sangat membuat Tama penasaran, sejak tadi Tama memperhatikan kedua tangan Nabila namun tidak ada cicin yang melingkar dijarinya.
'udah nikah, tapi kok cincin nya nggak di pake yah? apa mungkin Nabila udah cerai sama suaminya?'
itulah yang ada di pikiran Tama, sambil berpikir dan fokus menyetir, ada sedikit senyum yang terukir di wajah tampannya. berharap seolah harapan itu masih ada.
***
ini visual Nabila dan Tama ya readers βΊβΊππ