
Mereka harus berpisah selama satu minggu, Karena adat yang mengharuskan mereka untuk tidak bertemu selama itu. Dan selama satu minggu itu pula, setiap malam Tama selalu menghubungi Nabila baik melalui telepon ataupun chat dengan kalimat-kalimat kebanggaannya.
Hai calon istriku.
Hai yang sebentar lagi bobonya bareng aku. Layani aku sepenuh hatimu, ya!
Nabila calon istriku, atasanku yang galak.
Kenapa makin dekat harinya semakin terasa lama ya?
Bertahun-tahun aku sanggup nungguin kamu. Tapi ini tinggal beberapa hari lagi, kenapa aku semakin nggak berdaya?
Seperti itulah kalimat-kalimat dari calon suaminya yang tak jarang membuatnya tersipu. Nabila pun tak mau kalah, mendapat kalimat-kalimat rayu seperti itu, tentu saja ia membalasnya.
Iya calon suamiku.
Makin nggak sabar ya mau bobo bareng aku? Oke, full service berani bayar berapa?
Galak gini, tapi kamu cinta kan?
Karena aku selalu ada di dalam pikiran kamu.
Kamu udah nyiapin tiket honeymoon kita kan?
Seperti Abege yang sedang di mabuk cinta, kadang mereka lupa akan usia.
-----------------
"Mbak, cantik banget kamu. Ya ampun, ini beneran Mbakku?" tanya Nayla kala Nabila sudah selesai di beri riasan flawles pada wajah cantiknya.
"Nay, beneran di wajah Mbak nggak ada yang aneh kan?" Nabila berkali-kali menatap dirinya pada cermin, sebenarnya ia tak terlalu percaya diri dengan wajahnya yang di balut make up seperti ini.
"Udah, Nak?" Mama masuk hendak menjemput Nabila untuk keluar dari kamar ganti. Nabila menjawab dengan anggukan. "Kamu cantik, Mama jadi ingat dua puluh sembilan tahun silam," Mata Bu Devi mulai berkaca-kaca, karena wajah Nabila kini persis seperti dirinya saat akan melangsungkan akad nikah.
"Udah dong Ma," Nabila mengusap punggung tangan Mamanya yang berada di pundaknya.
"Liat Mbak Nabila cantik begini aku jadi nggak sabar pingin nikah juga, kira-kira jodohku siapa ya?" Ocehan Nayla membuat keduanya menoleh.
Akad nikah sekaligus resepsi mereka diselenggarakan di salah satu hotel ternama dikota Jogjakarta. Pak Darwin menginginkan yang terbaik untuk putra semata wayangnya, terlebih ia adalah Pengacara terkenal dan ternama di itu, tentu mengundang seluruh rekan dan relasinya dimana pun berada.
Hari ini adalah hari kebahagiaan bagi Tama dan Nabila. Duduk bersanding dengan perasaan yang tidak karuan, haru, bahagia dan juga gugup. Lelaki yang sebentar lagi akan sah menjadi suaminya itu kini sedang berjabat tangan dengan Pak Johnatan yang menjadi wali nasab Nabila. Dengan khidmat lelaki itu mengucapkan janji sakral dihadapan Tuhan. Dan langsung disambut dengan kata 'sah' oleh beberapa saksi.
Lelaki yang baru saja mengucapkan janji suci itu merasa bahwa dirinya sangat tampan hari ini, terlebih saat mengucapkan ijab kabul itu sangat lancar dan tanpa hambatan. Tama paham bahwa setelah mengucapkan janji itu, kini wanita yang sudah halal baginya itu akan menjadi tanggung jawab dirinya sepenuhnya. Nabila segera menyalami dan mencium punggung tangan suaminya dan langsung disambut oleh Tama yang kemudian mencium keningnya. Tak bisa di lukiskan bagaimana bahagianya Tama, akhir penantiannya selama ini tidak sia-sia, dan berakhir indah. Wanita pujaannya menjadi teman hidupnya kini, dan tentu ia berharap semoga akan selamanya.
Seusai akad nikah, suasana seketika menjadi haru membiru, saat Nabila mulai berlutut kemudian bersalaman, dan berpelukan dengan sang Mama. Tangisnya pecah, kedua wanita itu tak menyangka jika Nabila bisa sampai ke titik ini meski tanpa kehadiran sang Papa. Kemudian berlanjut kepada Pak Johnatan, Omnya yang sudah ia anggap seperti ayah sendiri. Beliau begitu banyak berperan dalam hidupnya semenjak Papa meninggalkannya.
Saat giliran Tama bersalaman dan berpelukan dengan Pak Johnatan, "Tama, Om percaya sama kamu. Tolong kamu jaga Nabila sebaik mungkin, hidupnya sudah cukup sulit selama ini, Om yakin bersama kamu, dia akan bahagia." Bisik Pak John di telinga Tama. "Baik Om, Nabila adalah perjuangan saya selama ini, nggak mungkin saya sia-siakan." jawabnya.
Selanjutnya, Nabila sungkeman dengan kedua mertuanya Pak Darwin dan Bu Irina. Ya, sekarang ia telah memiliki dua Mama. Mama Devi dan Mama Irin yang sangat bangga dan sangat menyukainya. "Selamat berbahagia sayang, kalau Tama nakal dan nyakitin perasaan kamu, kamu jangan sungkan-sungkan bilang ke Mama yah?" Karena paham bagaimana dan seperti apa masa lalu putranya, Bu Irin mengatakan itu kepada menantunya. Nabila mengangguk kemudian tersenyum lebar, "Iya Ma, makasih ya."
Satu jam kemudian, setelah berganti pakaian, mereka sudah berdiri di pelaminan mewah nan megah. Terlihat tamu undangan silih berganti memberi selamat kepada mereka. Teman-teman seangkatan saat kuliah, tentu saja banyak yang kaget dan tidak menyangka mendengar kabar bahagia mereka.
------------------
Penantian Tama akhirnya berujung ke pelaminan, setelah terombang ambing akibat patah hati beberapa tahun lalu.
Selamat berbahagia, Satrya Tama Fadillah dan Nabila Mariska Setyarini. 😄
Nah, sekarang sudah sah. Tama bebas mau ngapain aja 😂
Tama dan Nabila mengucapkan terimakasih untuk readers yang sudah hadir di hari bahagia mereka, jangan lupa kado VOTE nya ya. ❤