My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Sayur Lodeh dan Parfum



Beberapa menit setelah Nayla keluar dari ruangan, Nabila masih tetap fokus pada apa yang ia kerjakan tadi, tapi tiba-tiba pandangannya teralihkan pada kotak makan yang berada di hadapannya, membuat perutnya semakin keroncongan.


"Sarapan dulu ah, ntar keburu dingin," Ucapnya sambil membuka kotak makan berisi nasi dan sayur lodeh itu.


"Hemm wanginya," Nabila menghirup aroma sayur lodeh buatan mamanya, membuatnya semakin tak sabar untuk segera melahapnya.


Saat mulai mendaratkan suapan nasi ke mulutnya, tiba-tiba,


"Ya ampun, tega sekali kamu," Ucap pria tampan yang tiba-tiba nyelonong masuk ke ruangan itu.


"Hah? tega kenapa?" Nabila kembali meletakkan sendoknya, dan menunda sarapannya.


"Ya tegalah, sarapan nggak ngajak aku," Jawab pria itu kemudian duduk di hadapan Nabila, berpangku tangan di atas meja.


"Emangnya kamu belum sarapan?" Tanya Nabila sambil melanjutkan niatnya untuk melahap makanan itu, mengangkat lagi sendoknya.


"Aaaa...." Pria dihadapanya malah meminta Nabila untuk menyuapnya, Nabila tak mungkin menolak dan langsung menyuapinya terlebih dahulu, padahal ia sudah lapar bukan main.


"Enak banget, kamu yang masak?" kemudian membuka lagi mulutnya berharap Nabila menyuapnya lagi. Lagi-lagi Nabila menurutinya. Bahkan ia sendiri belum tahu bagaimana rasa makanan itu.


"Enggak Tam, Mamaku yang masak, tadi pagi aku nggak sempat sarapan, jadi mama nitip melalui adikku untuk di antar kesini," Kali ini Nabila tak mau kalah ia langsung melahapnya.


"Oh, jadi cewek yang tadi turun dari motor itu, adik kamu?"


"Iya," Jawab Nabila singkat karena sedang fokus menikmati masakan Mamanya.


"Kenapa? kamu tebar pesona juga sama adikku?" Tanya Nabila tersenyum sinis.


"Enggak, aku cuma senyum." Jawabnya.


"Kalau Mamanya pintar masak, berati kamu juga dong?"


"Enggak Tam, kamu salah. Jangan terlalu banyak berharap sama aku, aku nggak bisa masak sama sekali, gimana dong?" Tanya Nabila mengangkat bahunya.


"Nggak masalah selama masih ada warung siap saji yang buka," Jawabnya.


"Jadi kamu kenapa belum sarapan? padahal datangnya telat,"


"Rencananya aku mau sarapan bareng calon istri,"


"Ssst," memukul tangan Tama.


"Kamu jangan bicara aneh-aneh ya selama di kantor, jangan sampai ada yang tau hubungan kita, awas kamu," Kali ini Nabila berbicara serius.


"Iya tenang aja sayang,"


"Jangan, jangan sebut kata-kata itu selagi dikantor,"


"Iya, siap Ibu Nabila, puas?" Mencubit kedua pipi Nabila.


Nabila tidak menjawab, hanya tersenyum kecil, kemudian segera menepis tangan Tama.


"Kamu kok bisa tahu aku disini?" Tanya Nabila.


"Emangnya dimana lagi? kan nggak mungkin di ruang belakang bareng OB,"


Jawabannya menyebalkan sekali, tapi yang ia katakan ada benarnya juga.


--- Diruangan bawah ---


"Selamat pagi Bu, ada yang bisa kami bantu, Ibu mau berkonsultasi?" Tanya Clara pada seorang wanita yang tiba-tiba datang dan langsung masuk keruangan mereka.


"Saya mau ketemu sama Tama, dimana dia?" Jawabnya ketus.


"Oh, jika ingin berkonsultasi bisa melalui kami Bu," Jawab Clara yang masih tak paham maksud wanita itu.


"Saya nggak mau konsultasi apapun, saya cuma mau ketemu dengan yang namanya Tama, saya ada urusan pribadi dengan dia, paham?" Jawabnya dengan nada yang keras.


"Oke, nggak usah teriak-teriak disini, sebentar saya panggilkan." Jawab Clara dengan ketus.


Kemudian mengambil ponselnya, dan mulai menghubungi Tama karena ia terlalu berat untuk menaiki tangga hanya untuk memenuhi permintaan wanita cantik dihadapannya ini, yang ia tak tahu siapa.


"Tama, ada wanita cantik yang sedang menunggu kamu dibawah, segera turun ya!" Ucap Clara sambil terus menatap wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.


--- Di ruang atas ---


"Nabila, sebentar ya," Kemudian langsung keluar ruangan dan bergegas menuruni tangga, Tama sudah mengetahui siapa yang di maksud Clara.


Nabila pun bingung melihat Tama yang terkesan panik dan buru-buru.


***


Sesampainya di bawah, Tama langsung menarik lengan wanita itu untuk berbicara di luar kantor.


Clara dan Doni yang berada di dalam ruangan kala itu, hanya saling bertatapan.


"Pacarnya kali ya? tapi masa sih pacar nggak bisa hubungi gitu, aneh." Ucap Clara sewot.


Tama menarik Citra hingga memaksanya masuk ke dalam mobilnya kemudian melajukan mobil sekitar 100 meter dan mengentikannya, karena Tama tak mau disaksikan oleh orang-orang kantor, terlebih kalau Nabila sampai melihatnya.


"Kamu mau apalagi? sampai harus mencari aku ke kantor?"


"Kenapa kamu nggak jawab panggilanku?"


"Untuk apalagi? kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi Citra, aku mohon jangan ganggu aku."


"Oke, tapi kita bisa putus baik-baik kan? walaupun kita bukan sepasang kekasih lagi, tapi aku masih ingin bersahabat denganmu, apa bisa?" Citra tersenyum sinis, menatap Tama lebih dalam.


"terserah kamu aja, yang jelas sekarang jangan ganggu aku dan jangan hubungi aku lagi, paham Citra?"


"baiklah, ayo kita kembali ke kantormu, mobilku ada disana," Jawabnya santai.


Tama memutar balik, melajukan lagi mobilnya kembali ke kantor. Sebelum turun dari mobil Tama, Citra menyodorkan tangannya, ingin berjabat tangan dengan Tama.


"Ayo dong, salam persahabatan," Tama juga meyambut tangannya. dan tiba-tiba saja kecupan mendarat di pipi Tama. ia pun langsung mengindar, namun terlambat.


sial, dasar wanita murahan. Sambil mengelap pipi bekas ciuman Citra.


"Aku turun ya, bye." Ucapnya, Tama tak memperdulikannya lagi.


Sebelum turun dari mobil, Tama bercermin pada kaca spion di dalam mobilnya untuk memastikan tidak ada bekas lipstik yang menempel di pipinya.


Arrgh, kenapa dia selalu bertindak sesuka hati.


Setelah memastikan tidak ada bekas yang tertinggal di pipinya, Tama langsung turun dari mobil dan kembali ke ruangan atas.


"Loh, makanannya habis? aku nggak di sisain nih?" Kemudian duduk lagi dihadapan Nabila.


"Emang kamu kemana tadi?" Tanya Nabila.


"Oh, kebawah ada kurir yang ngantar barang,"


"Hem, sepertinya kurir itu pakai parfum kebanyakan yah? jadi wanginya nempel di baju kamu, soalnya tiba-tiba ruangan ini jadi wangi banget, wanginya beda dengan saat pertama kamu masuk tadi." Jawab Nabila panjang lebar.


"Masa sih?" Tama mencium kedua lengannya, untuk memastikan.


Aku tahu kamu sedang berbohong Tama.


***


Bersambung...