My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Gagal



Nabila berbaring pasrah saat Tama memulai kegiatan diatasnya. Saling memuji dan membisikkan kata cinta, sudah menjadi kebiasaan mereka saat melakukan aktifitas bahagia ini. Tama selalu memanjakannya dengan sentuhan-sentuhan sensual yang ia berikan.


Jika dulu Nabila masih terlihat masih malu-malu saat berada dibawah Tama tanpa busana, kini tidak lagi. Bahkan ia bisa membalas dengan gejolak yang lebih bergairah. Dan akhir-akhir ini, Nabila sering memulai duluan, tak peduli dengan bagaimana lelahnya sang suami usai pulang dari kantor. Tama tentu saja tidak menolak, justru ia menyambut dengan bahagia.


"Bibir kamu kok manis?" Tama bertanya setelah melumaat bibir Nabila, dan kini ia sudah sangat siap untuk masuk ke Nabila dengan kakinya sudah terbuka lebar.


"Iya, tadi aku kan makan cake itu mungkin rasa manisnya masih---" belum sempat Nabila menyelesaikan kalimatnya, bibirnya kembali dibungkam.


Tama sudah memulai dengan gerakan awal yang sangat lembut dan pelan dibawah sana.


Sekitar satu menit penyatuan mereka, tiba-tiba ponsel Nabila yang tak jauh berada dari sampingnya bergetar tanda panggilan masuk. Dengan nafas yang terengah karena Tama sedang melakukan penyatuan dan pergerakan pada tubuhnya, ia meraih ponsel itu dengan sedikit kesusahan untuk menjangkaunya.


"Halo, Mas? Iya," jawab Nabila, memelankan suaranya.


Mendengar Nabila menjawab telepon dengan sebutan 'Mas' membuatnya berkerut kening, namun masih tetap melanjutkan pergerakan tanpa bertanya apapun, tak sanggup berkata-kata karena ia begitu menikmati istrinya saat ini.


"Mbak, ini saya udah di depan rumahnya, nomer 11A. Bener kan?" terdengar dari seberang sana, suara seorang lelaki, driver yang mengantarkan pesanannya.


"Oh iya, sebentar. Mas," Nabila langsung mengakhiri panggilan.


"Sa-Sayang, itu didepan ada Mas-Mas yang ngantar makanan, aku order makanan tadi,"


"Sebentar lagi, ini nanggung sayang."


"Aku udah lapar banget, nanti kita lanjutin lagi," dengan terpaksa Nabila mendorong tubuh suaminya. Ia pun bergegas mengenakan kembali seluruh pakaiannya. "Maaf sayang, kasian Masnya ntar kalo kelamaan nunggu," ucapnya sambil meraih dompet dari dalam tasnya.


"Terus kamu nggak kasian sama Mas yang ini?" Tama menunjuk dirinya sendiri. "liat nih, dia masih on banget, padahal dikit lagi," kemudian menunjuk ke arah bagian bawah tubuhnya yang masih tegak berdiri.


"Sorry banget sayang. Jangan marah, nanti lagi ya!" Nabila mendekat kepada Tama, mengecup keningnya sebagai permintaan maaf, dan kemudian berlari kecil keluar kamar, menuju pintu utama.


Dengan perasaan yang sedikit kesal, Tama berjalan kearah lemari, untuk mengenakan pakaianya. "Haduh, untung sayang," ujarnya pada diri sendiri, saat mengingat tingkah istrinya.


Tak lama kemudian, Nabila masuk kembali ke kamar sambil menenteng satu kantong plastik berisikian dua porsi ayam bakar.


"Ayo kita makan," ajaknya sambil berdiri di ambang pintu, ia melihat Tama yang sedang bermain ponsel diatas ranjang.


Tama bangun dari duduknya, berjalan mendekat ke Nabila, "Kamu ya aku ajak dinner diluar nggak mau, tapi malah order makanan dan ganggu kegiatan kita," ucap Tama dengan nada kesal, sambil mengusap pelan kepala Nabila. Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan.


"Iya aku pingin banget makan ini," setelah meletakkan ayam bakar itu diatas meja, Nabila mengambil piring dan menyiapkan dua gelas minuman. Sementara Tama duduk di kursi makan sambil menatap Nabila, antara kesal dan gemas.


"Emang apa sih?" tanya Tama penasaran.


Tama belum menyentuh makanannya sama sekali, ia masih menatap Nabila yang begitu lahap menikmati makanan pesanannya. Satu tangan ia letakkan dipipinya untuk menopang.


"Kok kayak orang nggak makan seminggu?"


"Kan udah aku bilang, aku lapar banget. Dan pingin banget makan ini," jawab Nabila tanpa menoleh ke arah suaminya.


"Kamu makan juga dong!" seru Nabila saat melirik sedikit ke arah Tama yang belum membuka kemasan makanan itu.


"Aku nggak lapar," jawabnya singkat.


"Aduh jangan ngambek dong sayang, mau aku suapin?"


Tama menggeleng, Nabila bangun dari duduknya untuk mengubah posisinya, duduk tepat disamping Tama. "Kamu coba dulu, ini enak beneran," dengan sedikit memaksa, Nabila menyodorkan satu suapan ke mulut Tama dan lelaki itu pun membuka mulutnya.


"Gimana? enak kan?"


"Boleh juga," jawabnya.


"Kamu nggak boleh marah-marah sama aku, ini kan hari jadi kita," Nabila menyadari bahwa saat ini suaminya sangat kesal karena kegiatan dan pelepasan yang tertunda tadi.


"Aku nggak marah, cuma kesal aja. Jadi, kamu kapan mulai cuti?"


"Ehm... besok, besok hari terakhir aku kerja, jadi lusa aku udah libur dan nggak kemana-mana."


"Bener ya? ini udah dua kali loh kamu janji sama aku, kalau ini juga kamu nggak nepatin, berarti udah tiga kali!" Tama meninggikan suaranya, ia sedikit kesal mengingat bagaimana keras kepala istrinya yang selalu menunda-nunda cuti.


"Iya bener, sayang. Kalau aku bosan dirumah, gimana? rasanya pasti beda, karena biasanya ketemu orang banyak diluaran sana. Nah ini dirumah terus."


"Tenang aja, kamu ikut aja kegiatan Mama. Dijamin, nggak bakal bosan."


Tama kembali membuka mulutnya berharap Nabila menyuapinya lagi. "Makan sendiri dong, jangan kayak anak kecil," ucap Nabila.


"Nggak, suapi aku sampe habis. Ini sebagai hukuman karena permainan kita yang gagal tadi,"


"Bisa aja kamu ya," Nabila sudah menyelesaikan makannya, dan kini ia harus menyuapi suami manjanya.


-------------------------


Hai, jangan lupa pencet like, sama komennya. Biar rameh, ehehehe. 😜