
Akhirnya hari keberangkatan mereka ke kota Malang pun tiba. Nabila, wanita itu selalu saja terburu-buru. Meski waktu bangun tidurnya sudah di percepat, tapi dia tidak pernah santai di waktu pagi.
"Oke, semua nya sudah siap, koper, laptop dan berkas." Katanya, sambil memperhatikan lagi barang-barangnya apakah ada yang tertinggal.
"Sarapan dulu," Tiba-tiba Mamanya nyelonong masuk ke kamarnya.
"Iya Ma," Sambil mengangkat koper keluar kamar.
Kemudian Nabila pun duduk dikursi makan, menikmati masakan Mamanya. Pagi ini ia wajib sarapan karena mengingat akan meninggalkan rumah selama beberapa hari, pasti ia bakal rindu dengan masakan Mamanya.
"Tapi kamu nggak pergi sendirian, kan?"
"Enggak Ma, berdua sama rekan kantor kok," Jawabnya tanpa memberi tahu dengan siapa sebenarnya ia pergi ke kota Malang.
"Ya sudah, kalau begitu Mama jadi tenang."
Setelah menghabiskan sarapannya, Nabila berpamitan dengan Mamanya, dan kemudian memesan taksi online menuju stasiun.
"Mbak," Tiba-tiba suara Nayla, adiknya. Mencegah langkahnya menuju pagar rumah.
"Kirain kamu belum bangun," Ucap Nabila dan menoleh ke Nayla.
"Udah Mbak, hati-hati di jalan ya, Mbak uang saku ku sudah menipis," Ternyata Nayla ada maunya.
"Oh, sebentar," Nabila mengeluarkan dompet dari tas selempangnya kemudian mengambil 5 lembar uang seratus ribu, dan memberikannya ke Nayla.
"Makasih mbakku." Ucap Nayla.
"Iya, hemat-hemat ya, selama Mbak pergi itu harus cukup, oke?" Nabila kemudian bergegas keluar pagar untuk menunggu taksi yang sudah di pesannya.
Saat di dalam perjalanan menuju stasiun.
Drrt..drrt..
Nabila membuka chat yang masuk.
Aku udah sampai di Stasiun, kamu dimana?
Chat dari Tama.
Dalam perjalanan. Balasnya singkat.
Saat tiba di Stasiun, mata Nabila mencari-cari dimana Tama. Namun ternyata, duluan Tama yang mendapatinya.
"Nabila," Ucapnya yang sudah berdiri di belakang.
"Iya Tam," Nabila menoleh dan melihat penampilan Tama yang sangat santai, hanya memakai kaos oblong dan celana jeans selutut plus sepatu sneaker dengan sebuah tas ransel di bahunya.
Benar-benar mau liburan ya dia.
"Ayo kita langsung ke kereta aja, jadi nanti nggak berdesak-desakan," Ajak Tama kemudian membawakan koper Nabila.
Nabila hanya menurut dan mengikuti Tama dibelakang. Mereka duduk tepat di bangku masing-masing sesuai yang tertera pada tiket.
Setengah jam kemudian, kereta mulai berangkat. Nabila yang merasakan kantuk yang sangat berat akibat begadang menonton drama Korea seperti biasanya, kini mulai memejamkan mata.
Tama yang berada disebelahnya hanya tersenyum melihat Nabila yang sudah tertidur lelap, kemudian mengambil handsfree menyalakan musik dari ponselnya.
Setelah kurang lebih tujuh jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di kota Malang. Tempat pertama yang mereka tuju adalah hotel tempat mereka akan menginap selama di kota ini.
"Mbak, mau check in sudah booking melalui aplikasi" Kemudian Nabila menunjukkan kode booking yang ada di dalam ponselnya kepada resepsionis.
Sementara Tama yang berdiri disampingnya, juga membuka ponselnya untuk check in.
Setelah Nabila selesai, kemudian di susul oleh Tama.
"Loh, Mas nggak sekamar dengan Mbaknya ya?" Tanya resepsionis.
"Enggak Mbak, belum halal," Ucap Tama tersenyum ke arah Nabila. Mendengar kalimat Tama barusan, membuat Nabila membulatkan matanya.
"Maaf Mas, saya kira suami istri," Ucap resepsionis lagi.
Meski kamar mereka berada di lantai yang sama, namun jaraknya lumayan jauh, tidak berdekatan. Kira-kira selisihnya sekitar sepuluh nomor.
"Kamu nggak lapar?" Tanya Tama, saat mereka sudah berada di dalam lift.
"Lumayan, setelah nyimpan barang-barang ke kamar, kita makan dulu ya," Ajak Nabila.
"Iya," Jawab Tama singkat, kemudian mereka masuk ke kamar masing-masing.
***
Nabila mengambil ponselnya, mengirimkan chat kepada Mamanya.
Ma, Nabila sudah sampai di Malang, sekarang lagi di hotel. Sebentar lagi mau keluar makan siang.
Di waktu yang sama, masuk chat dari Tama.
Aku udah di bawah ya, di lobi.
"Buru-buru amat sih, lapar berat kali yah," Nabila berbicara sendiri kemudian bangkit dari Ranjang, membuka kopernya, mengambil sisir karena rambutnya terlihat berantakan.
***
"Kita makan dimana? Aku nggak tahu daerah sini," Kata Tama.
"Sama dong, aku juga baru pertama kesini," Jawab Nabila.
"Ya sudah, kita jalan kaki aja dulu, siapa tahu ada tempat makan yang enak, tandain aja kalau rame, berarti enak" Kata Tama, sambil melihat ke arah kaki Nabila, memastikan sesuatu. Nabila pun hanya mengangguk.
"Untung kamu nggak pakai heels hari ini,"
"Emangnya kenapa?" Tanya Nabila heran.
"Kalau kamu pakai heels, aku harus jadi tukang pijat kamu lagi,"
"Lah, kan aku nggak nyuruh kamu buat pijitin kaki ku" Nabila sewot.
"Emang, tapi aku harus inisiatif, hahaha" Nabila tak menghiraukan Tama lagi, dia terus berjalan dan mempercepat langkahnya.
***
Setelah selesai makan, mereka kembali ke hotel, dan Nabila tidak lupa untuk singgah ke swalayan yang berada di sektiar hotel, untuk membeli beberapa makanan ringan, untuk di bawa ke kamar.
Malam hari pun tiba, dengan posisi telungkup dan bersandar di bantal, Nabila memainkan ponselnya. Kemudian berbaring lagi, ia benar-benar bosan.
Hingga akhirnya ia mengambil dan membuka laptopnya, apalagi tujuannya kalau bukan menonton drama Korea. Melanjutkan episode-episode yang membuatnya penasaran dan belum sempat ia tonton.
"Haduh, harus di batasi nih. 2 episode aja, kemudian stop. Shut down" Ucapnya pada diri sendiri.
Setelah selesai menonton drama Korea dan menghabiskan sebagian makanannya, Nabila menepati janjinya pada diri sendiri untuk berhenti dan hanya menonton 2 episode saja, karena mengingat besok pagi jadwal sidangnya mendampingi klien.
Waktu menunjukkan jam 23.55, dia terus memandangi jam di ponselnya. Karena lima menit lagi, usianya bertambah menjadi 28 tahun. Seperti biasa, pasti banyak yang mengirimkan chat untuk mengucapkan selamat kepadanya, baik itu kerabat dekat, rekan kantor bahkan teman-teman lainnya.
tiba-tiba...
Drrt.. drtt..
Satrya Tama F
Selamat ulang tahun, Nabila. Semoga aku menjadi jodohmu.
Mata Nabila terbelalak saat melihat chat pertama yang mengucapkan ulang tahun padanya adalah Tama, yang menggantikan posisi Mamanya yang setiap tahun selalu menjadi yang pertama, apalagi isi chatnya yang seperti itu.
Kemudian di susul dengan chat dari Mamanya.
Mama ❤
Selamat ulang tahun anakku, semoga diusiamu yang ke 28 tahun ini, kamu menemukan jodoh yang baik. Tetap semangat ya, Mama sayang kamu.
"Ya ampun Mama, kenapa dari tahun lalu do'anya jodoh terus" Ucapnya.
Nayla Resek
Selamat ulang tahun Mbakku tersayang, semoga Mbak cepet dapat suami yang kaya raya supaya aku nggak harus berhemat-hemat lagi, peace Mbak.
"Naylaaaaaa, bener-bener ya ini anak. Eh Tapi kenapa kompak banger bertiga ini do'anya tentang jodoh semua sih, apa karena usiaku yang hampir kepala 3," Nabila menggerutu kesal, namun sebenarnya dia bahagia, dan mengaminkan do'a-do'a itu.
Tapi seketika ia tersadar dengan chat yang dikirim Tama, Nabila mengulang lagi membacanya.
What? Do'anya dia menjadi jodohku? wah-wah ternyata sikapnya masih sama aja ya seperti 6 tahun yang lalu, eh tapi... kali ini dia benar-benar berbeda sikapnya jadi lebih dewasa.
Nabila tersenyum seketika mengingat segala sikap dan tingkah laku Tama selama pertemuan mereka, beberapa hari ini.
Sangat manis, manis sekali. Nabila tak berhenti tersenyum. Kemudian ia tersadar,
Nabila, apa yang salah denganmu?
***
Bersambung...