
Malam hari seusai makan malam, Tama segera kembali ke kamarnya untuk bersantai sambil sambil mendengarkan lagu-lagi kesukaannya. Baru saja ia hendak merebahkan tubuhnya, tiba-tiba Bu Irin nyelonong masuk ke kamarnya seperti biasa, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Mama?" ucapnya, lalu mengecilkan volume musik yang ia dengarkan melalui earpod nya.
"Mama mau cerita deh," Bu Irin duduk di sofa yang menghadap ke balkon, sementara Tama duduk bersandar di ranjang. "Kamu dengar nggak?" teriak Bu Irin kala menatap putranya tidak sedikitpun menoleh ke arahnya, terlebih telinganya tertutup.
"Dengar Ma, dengar. Jangan teriak-teriak, ini ceritanya penting nggak kira-kira?" mendapat tatapan tajam dari sang Mama, barulah ia mengalihkan pandangannya, melepas sesuatu ditelinganya.
"Jadi, tadi siang Mama pergi kerumah Bude Morina, kebetulan arisan keluarga bulan ini di rumah Bude Morin, kamu mau tau seseuatu nggak?"
"Ma, ceritanya jangan setengah-setengah dong, emang apaan sih?"
"Kamu penasaran?" Bu Irin menunjuk ke arah Tama dengan seringai mengejek.
"Udah kalau nggak penting, nggak usah diterusin Ma... mending bahas masa depan aku aja."
"Sebenarnya nggak terlalu penting juga sih, tapi Mama penasaran aja. Kata Bude Morin, Leo udah nemuin calon istri yang pas, kayaknya taun ini dia bener bakalan nikah. Udah tiga dua loh umurnya." Jelas Bu Irin. Bude Morina adalah Mamanya Leo dan Kakak tertua Bu Irin.
"Apa? calon istri?" seketika Tama langsung mengingat Nabila. Oh ini tak bisa dibiarkan, sebelum menggebu-gebu, Tama lebih dulu ingin mendengarkan cerita Mamanya lebih lanjut.
"Iya, Leo cerita ke Mamanya, katanya cewek itu cantik banget, profesinya pengacara juga, terus Bude Morin ceritain itu bangga gitu, padahal dia nggak tau kalau calon mantu Mama juga cantik dan keren, iya kan?" Bu Irin terkekeh pelan, sementara Tama sedang menahan sesuatu dalam dirinya.
sialan!! umpat Tama dalam hati.
"Kamu kenapa? kamu jadi kan ngelamar Nabila?" melihat ekspresi wajah Tama, Bu Irin mengernyitkan dahi.
"Mama mau tau sesuatu? yang di maksud si Leo itu Nabila Ma, kita lihat aja siapa yang duluan nikah taun ini."
"Nabila? kamu yakin? yang benar aja Tama, kota Jogja ini luas, dan cewek yang berprofesi Pengacara juga bukan cuma Nabila."
"Panjang ceritanya Ma, dan itu beneran Nabila."
"Kok bisa? gimana ceritanya? kalau gitu, Mama mau nelpon Bude Morin sekarang, suapaya dia nggak kesenangan berlebihan gitu dan ngaku-ngaku calon mantu Mama jadi calon mantu dia,"
"Ceritanya panjang, udah Ma, nggak usah. Biar aku yang aja yang urus, pokoknya Nabila bakalan tetap jadi menantu Mama." ucapnya dengan percaya diri.
--------------------
Didalam mobil yang sedang dikemudikan Tama, Nabila terlihat begitu gelisah. Ia takut akan sesuatu nanti saat mereka bertemu dengan Leo, bisa saja kan Tama berbuat sesuatu yang konyol dan akan mempermalukan dirinya.
"Kamu kenapa?" Tama sesekali mengalihkan pandangannya ke arah Nabila.
"Eh, nggak kok." Nabila mengelak dan memasang ekspresi biasa.
"Jangan khawatir, yang kamu takut nggak bakalan terjadi, asal Leonya nggak macam-macam sama kamu." Tama seolah mengerti apa yang ada didalam pikiran Nabila.
"Dia baik kok, sopan juga. Nggak mugkin berani macam-macam." ucap Nabila, secara tak langsung ia sudah berani memuji pria lain dihadapan Tama.
"Aku nggak bilang kamu kayak gitu Tam, oh gitu ya sama dong kayak kamu dulu. Waktu masa-masa kuliah, udah berapa cewek yang kamu kenal di club malam?"
"Kok malah nuduh balik ke aku sih, aku nggak separah itu, sayang." tangan kirinya mengusap rambut Nabila, segera Nabila tepis. "Aku nggak percaya!! banyak yang bilang ke aku kayak gitu." Nabila menjawab dengan nada ketus.
"Udah dong, nggak usah bahas masa lalu. Aku nggak bisa bayangin ntar kalau punya anak, Mamanya galak kayak gini."
"Ya udah nggak usah dibayangin, atau nggak nyari calon Mama lain aja buat anak kamu, yang baik dan lemah lembut aku kan nggak pantas." Nabila memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Jangan gitu dong, aku bisa gila tanpa kamu." Tama mencoba meraih dagu Nabila agar menghadap kepadanya.
"Gila aja sana, silahkan. Emangnya aku peduli!!"
Tama mengalah, lebih baik dia diam saja, memang umur Nabila lebih tua dari dirinya, tapi belum tentu sikap Nabila lebih dewasa daripada Tama. Lagian yang mereka perdebatkan juga tak penting. "Ehm, ya udah aku minta maaf, ya." mengusap lembut rambut Nabila.
---------------
Sudah sampai direstoran tempat mereka janjian dengan Leo, sebelum benar-benar masuk, Tama meraih tangan Nabila agar melingkar pada lengannya. "Harus banget kayak gini ya? lebay tau!" tutur Nabila.
"Jadi calon istri yang nurut sayang, jangan suka membantah."
Mereka berdua berjalan dengan langkah yang sama, tangan kanan Nabila tidak bisa kemana-mana selain melingkar dilengan calon suaminya itu. Tama mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran, terlihat lah sosok Leo dipojokan, sedang bermain ponsel.
"Hai, Mas Leo." Bisa dibayangkan bagaimana ekspresi Leo saat ini, "Perasaan aku janjiannya sama Nabila, kenapa bisa ada kamu?" sementara Nabila yang masih berdiri disamping Tama hanya bisa melempar senyum kepada Leo.
"Ini maksudnya apa ya, Nabila? bisa kamu jelaskan?" Leo kecewa, ingin marah tapi masih bisa ia tahan, merasa dipermainkan selama ini.
Tama dan Nabila sudah duduk dihadapan Leo, "Santai dulu, Mas. Jangan emosi." Tama menampilkan senyum kemenangan karena paham bagaimana perasaan Leo saat ini.
"Nabila, calon istri aku Mas. Waktu tau kamu ngajak Nabila ketemuan, ya sekalian aja aku ikut kita kan udah lama ya nggak ketemu?" Leo ingin mendapatkan jawaban dari Nabila bukan Tama, maka sejak tadi pandangannya tak beralih dari Nabila.
"Mas Leo maaf, Tama memang calon suami aku." barulah Nabila memberanikan diri mengeluarkan suaranya.
Leo hanya tertawa sekilas, jika Tama bukan sepupunya mungkin saja ia sudah memaki. "Oke, oke. Aku paham sekarang, lama nggak ketemu kenapa kita harus ketemu sebagai rival begini ya?" Tanya Leo mengalihkan pandangannya pada Tama.
"Aku juga nggak nyangka ya, kota Jogja ini sempit banget. Mas Leo, aku nggak mau anggap kamu rival, karena udah pasti aku yang bakal menang." Percaya diri Tama sudah diambang batas, Leo hanya tersenyum sinis menanggapinya.
"Oke, aku turut bahagia kalau Nabila bahagia," ucapnya sambil menaikkan alisnya. Tak menyangka nasibnya akan seperti ini, sulit untuk menyukai wanita, sekalinya sudah tertarik malah ternyata malah calon istri sepupunya.
Mereka terlihat canggung sekali, terlebih Nabila yang jadi serba salah. Tak lama kemudian, ponsel Leo berdering panggilan masuk yang mengharuskannya segera pergi dari tempat ini. Ia pun langsung pamit kepada Nabila dan Tama. Dengan berbesar hati menerima kekalahan dan kenyataan bahwa tampan dan mapan tidak bisa mendapatkan target dengan mudah, karena semuanya butuh proses. Tama aja perlu waktu sewindu untuk mendapatkan hati Nabila 😄
----------------
Jangan lupa untuk pencet like dan tinggalkan komen ya 😘😘😘 makasiiih.