My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Sebuah Pesan



Tak sanggup lagi memikirkan dan menebak siapa pengirim uang seratus juta ke nomor rekeningnya, Nabila memilih meletakkan ponselnya kembali. Sebenarnya ia meyakini seseorang yang melakukan itu, tapi ia masih ragu.


Nabila mengubah posisinya berbaring menghadap ke Tama yang masih memainkan ponsel, menempelkan wajahnya pada dada suaminya. Bertingkah manja, Tama tersenyum melihat tingkah istrinya saat ini, sepertinya Nabila benar-benar sudah tak bisa lepas lagi darinya.


"Kamu ngapain sih?" Tanya Nabila, suaranya terdengar samar.


"Nggak ngapa-ngapain, cuma baca chat grup aja." Tama menjawab jujur, memang itu yang ia lakukan.


"Banyak cewek-ceweknya ya didalam grup itu? betah banget." Berucap sambil satu kakinya ia naikkan untuk melingkar di kaki Tama.


"Iya banyak, cantik-cantik lagi. Grup alumni angkatanku sayang," Tama semakin memperjelas, wajah Nabila berubah langsung cemberut, meski Tama tak bisa menyaksikannya, tapi ia paham Nabila tak suka akan hal itu, dari nada bicaranya.


"Oh iya, udah nggak salah lagi. cewek-cewek itu pasti yang dulunya keluar masuk mobil kamu kan?" pertanyaan berlanjut dari Nabila, setelah itu ia berbalik membelakangi Tama yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Iya, kok kamu ingat sih?" Tama sengaja membuat Nabila semakin panas dan emosi, ia ingin menguji seberapa besar rasa cemburunya.


"Dasar playboy. Kalau dulunya gitu, sekarang sama aja. Nggak bakalan berubah juga kamu walaupun udah nikah sama aku." mendengar ocehan itu, Tama memeluk Nabila dari belakang memperlihatkan layar ponselnya pada istrinya agar mengetahui apa yang sedang mereka bahas. Nabila membaca satu persatu, kalimat-kalimat aneh yang memalukan.


Tama, gimana? Mbak Nabilanya hot nggak?


Gaes, malam ini Tama bakal jebolin perawan.


Tuh kan dianya nggak nongol, pasti lagi asyik manjat.


Ya iyalah penantian panjang hampir sepuluh tahun, terbayar malam ini.


Pake pelet apa si Tama kok senior kita sampe mau ama dia?


Berbagai chat dalam grup dari nomor yang berbeda-beda. Nabila tak habis pikir, ternyata itu bahasan dalam grup angkatannya, sungguh memalukan. Dirinya jadi bahan omongan. "Nggak penting banget sih teman-teman kamu bahas begituan, aku kan malu. Mereka pasti mikir macam-macam soal kita."


"Itu udah pasti sayang, namanya otak mereka isinya mesum semua, maklumin aja ya." Tama tertawa setelah mengatakan itu.


"Beda dong sayang, mesumnya aku udah ada tempat buat nyalurin, nah kalau mereka belum ada."


Nabila memilih memejamkan matanya, tak mau lagi membahas hal yang memalukan itu. Melihat Nabila yang semakin kesal, Tama meletakkan ponselnya dan memilih untuk memeluk Nabila lebih erat lagi. Mencium rambut istrinya yang sangat wangi, aroma tubuh Nabila kini menjadi candu untuknya.


"Aku mau tidur, sayang. Jangan gitu, geli." Nabila segera menepis tangan Tama yang mulai menjalar masuk kedalam bajunya dan mengusap-ngusap perut ratanya.


"Aku suka bikin kamu geli,"


-------------------------------


Pagi itu, Nabila terbangun lagi-lagi ia kaget karena ada sesuatu yang melingkar di perutnya. Mungkin karena belum terbiasa dengan hal itu. Sudah dua hari ini, ia bangun selalu dengan posisi yang sama yaitu didalam pelukan seorang lelaki yang begitu ia cintai. Melihat ke samping, matanya langsung tertuju pada ponselnya yang berkedip tanda ada notifikasi. Nabila membuka sebuah pesan dari nomor yang tidak ia kenal.


Hai, anak cantik kebanggaan Papa. Selamat berbahagia ya, Papa senang akhirnya kamu menemukan orang yang tepat untuk mendampingi kamu, semoga laki-laki yang menjadi suami kamu kini benar-benar bisa membahagiakan kamu, tidak seperti Papa. Papa juga tak menyangka ternyata kamu tumbuh menjadi perempuan yang hebat. Papa menyesal tidak bisa menjadi bagian dari moment-moment bahagia kamu. Tapi kamu harus tau, kalau Papa selalu mencari tau kabar kamu dengan cara Papa sendiri. Sebenanrnya Papa ingin sekali hadir dihari bahagia kamu, tapi Papa urungkan niat itu agar tak merusak hari bahagia kamu. Papa tau kamu benci Papa, tolong di maafkan semua kesalahan Papa ya. Sekali lagi, selamat berbahagia, Nabilaku sayang. Cuma itu hadiah yang bisa Papa berikan, tolong kamu terima ya.


Tanpa Nabila sadari, saat membaca pesan itu, air matanya mengalir. Ternyata dugaannya benar, Papanya yang mengirimkan uang itu. Nabila menangis sesenggukan, entah harus bahagia, sedih atau kesal. Lebih dari sepuluh tahun Papanya tanpa kabar, akhirnya kini kembali menghubunginya.


Tama menyadari istrinya menangis segera bangun dan membawa Nabila kedalam pelukannya, "Sayang, kamu kenapa?" Nabila memberikan ponselnya, agar Tama juga mengetahui apa yang menyebabkan ia menangis seperti itu.


"Aku juga sebenarnya menduga kalau itu Papa kamu, sayang. Cuma aku nggak mau bahas, takutnya bikin kamu sedih." ucap Tama setelah membaca pesan itu.


"Menurut kamu, aku harus gimana?"


"Kamu balas aja, beliau pasti senang dapat balasan dari kamu," Tama mengusap pipi Nabila, menghapus air matanya.


----------------


Siapa yang kemarin nebak itu dari Papanya Nabila... Nah kalian benar 😊