My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Keyakinan bersama (End)



Pagi ini Alara lagi-lagi dibuat kelimpungan oleh tangisan Rio yang terdengar sampai ke satu rumah. Terbangun dari tidur langsung menangis dan mencari-cari keberadaan Alara.


"Cup … ini Mama, Sayang." Alara mengambil alih gendongan Rio dari Al.


Alara menimang-nimang putranya dengan harapan tangisnya berhenti, memang berhenti tetapi masih sedikit merengek.


"Mandi yuk, Sayang. Nanti abis itu makan puding, Mama buatin buat Rio loh." Ajak Alara dengan lembut.


Alderio memperhatikan istrinya yang begitu cekatan mengurus Rio, anaknya berhenti menangis. Kini memeluk Alara dengan erat.


"Berenang sama Papa yuk, Sayang?" ajak Alderio mendekati anak dan istrinya.


Rio diam dengan kepala yang bersandar di bahu Alara, tidak merespon ajakan Al sama sekali.


"Sayang." Panggil Al bermaksud menggoda putranya.


Rio kembali menangis, membuat Alara langsung menatap suaminya sambil geleng-geleng kepala.


"Mas, anaknya lagi rewel malah diledek." Desis Alara pelan.


Alderio memperhatikan anaknya yang kembali menangis dengan seksama, putranya itu memang sedang tumbuh gigi dibagian atas, bisa jadi itu alasan rewel nya.


"Kita ke dokter aja yuk, Sayang. Siapa tau Rio rewel gini karena giginya yang baru tumbuh." Ajak Alderio kepada istrinya.


Alara terdiam untuk beberapa saat, seketika ia teringat ucapan Mama Mira semalam yang mengatakan untuk memeriksa dirinya sendiri.


Takut dirinya hamil.


"Mas, kamu kalo lagi main keluarnya di dalem terus sih!" gerutu Alara tiba-tiba.


Alderio mengerutkan keningnya, ia heran karena istrinya tiba-tiba membahas masalah tersebut, padahal ia mengajaknya ke rumah sakit.


"Kenapa bahas itu, lagi pengen ya?" goda Alderio mengedipkan sebelah matanya.


Alara langsung memukul tangan suaminya yang malah menggodanya, padahal ia sedang berbicara serius, tetapi Al menganggapnya candaan.


"Aku serius, Mas." Tegas Alara tanpa senyuman di wajahnya.


Al langsung bungkam mendengar suara istrinya yang begitu tegas, ia sudah tidak berani bicara jika Alara sudah emosi begini.


"Jadi mau ke rumah sakit atau nggak, Sayang?" tanya Al lembut.


Alara menghela nafas, wanita itu mengangguk. Lebih cepat, lebih baik. Alara hanya berharap semoga dirinya tidak hamil secepat ini, putranya terlalu kecil untuk memiliki adik.


Al mandi duluan bersama Rio meskipun sedikit paksaan, entah mengapa Al merasa bahwa putranya sedikit menjauh darinya.


Setelah mandi, Alara membantu anaknya memakai baju dan rapi-rapi, lalu barulah dirinya yang mandi dan bersiap-siap.


Bukan wanita jika tidak menghabiskan waktu 1 jam untuk dandan saja. Sama hal nya dengan Alara saat ini, wanita itu benar-benar memperhatikan penampilannya sekarang, bahkan membuat Al merengut sebal.


"Mas, ayo!" Ajak Alara setelah cantik dan rapi.


Alara menggendong Rio yang sudah tampan dengan menggunakan gendongan model kangguru, sementara Al membawakan tas istrinya.


"Mama Ara cantik banget." Puji Alderio tiba-tiba.


"Iya dong, kan anak sama suami Mama tampan." Balas Alara mencubit gemas pipi Rio.


Alderio terkekeh mendengar balasan istrinya. Sepertinya mood istrinya kembali baik usai mandi dan berdandan.


Alderio bersyukur untuk itu.


Selama perjalanan Alara tidak henti bicara dengan Rio, menunjuk mobil atau apapun untuk mengenalkan kepada Rio sekaligus membuat bocah itu tidak menangis.


Al hanya menjadi pendengar dan fokus menyetir mobilnya.


Mereka akhirnya sampai di rumah sakit, Alara dan Alderio sudah membuat janji dadakan dengan dokter anak pribadi mereka.


Rio pun diperiksa oleh dokter, dan memang benar jika bocah itu rewel karena gatal di gusinya akibat pertumbuhan gigi, dan itu wajar.


"Jadi anak saya nggak ada sakit apa-apa kan, Dok?" tanya Al khawatir.


"Tidak, Pak Al. Rio sehat, pintar lagi." Jawab dokter seraya tersenyum kepada Rio.


Baik Alara maupun Al lega mendengarnya, mereka pun memutuskan untuk langsung pulang setelah menebus obat pencegah gusi sakit untuk Rio.


"Sayang, sini aku gendong Rio." Ucap Al mengambil alih menggendong putranya.


Kini Alderio yang menggendong putranya, sementara Alara terlihat bimbang, mau memeriksa keadaan nya atau tidak, ia takut.


"Sayang, kok melamun?" tanya Alderio menyadarkan istrinya.


"Nanti mampir ke apotek ya, Mas. Reina titip sesuatu sama aku," ucap Alara berbohong, nyatanya dia ingin membeli alat tes kehamilan.


Alderio menganggukkan kepalanya, ia mengiyakan saja permintaan istrinya.


***


Mereka pun sampai dirumah setelah dari rumah sakit. Rio tertidur sejak digendong Al tadi, dan kini sudah di pindahkan ke kamar.


"Aku mau istirahat dulu, nanti siang harus ke kantor." Ucap Al seraya ikut merebahkan tubuhnya di ranjang, disebelah putranya.


"Iya, Mas. Aku mau ganti baju dulu." Sahut Alara manggut-manggut.


Alara masuk ke dalam kamar mandi, dan tidak lupa membawa alat tes kehamilan yang sudah ia beli. Ini masih pagi, apalagi Alara belum makan apapun, jadi tidak masalah kan jika mengeceknya sekarang.


Alara menarik nafas, tidak tanggung-tanggung, Alara mengetes 3 alat sekaligus agar hasilnya dapat ia dapatkan secara akurat.


Alara menunggu dengan perasaan tegang, takut dan khawatir.


Setelah 5 menit, akhirnya hasilnya ia dapatkan. Tubuh Alara langsung lemas melihat 2 garis berwarna merah di tiga alat yang ia gunakan.


"A-aku hamil." Gumam Alara langsung jatuh terduduk di atas kloset.


Alara menangis di dalam kamar mandi, bukan tidak bersyukur atas apa yang Tuhan berikan, namun ia memikirkan putranya.


Alara mengambil salah satu alat lalu membawanya keluar kamar, ia mendekati ranjang dimana Al dan Rio tertidur pulas.


Pelan-pelan Alara naik ke atas ranjang, mencium seluruh wajah Rio sambil menangis.


"Maafin Mama ya, Rio." Lirih Alara ditelinga putranya.


Alara sudah berusaha menahan air mata dan isak tangisnya, namun sayangnya tetap terdengar oleh Alderio yang langsung bangun saat melihatnya menangis.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Al panik, dari rebahan berubah menjadi duduk.


Tangis Alara semakin pecah, ia menutup mulutnya agar anaknya tidak terbangun.


Sementara Al langsung berpindah ke sisi istrinya, berlutut di depan Alara seraya menggenggam tangan wanita itu.


"Hei, cerita sama aku, kamu kenapa?" tanya Al dengan lembut.


Alara mengambil sebelah tangan Al, kemudian menyerahkan alat tes kehamilan nya.


"Hiks … gara-gara kamu, Mas!" sarkas Alara kembali menangis dengan tersedu-sedu.


Al melihat tes kehamilan yang istrinya tunjukan dengan perasaan campur aduk. Bahagia, sedih, dan khawatir kini melebur menjadi satu.


"Gimana sama Rio, Mas. Dia masih kecil, kamu nggak pernah denger omongan aku!!" omel Alara seraya memukuli bahu Al.


Al memegang kedua tangan Alara yang sedang memukulinya, ia peluk erat tubuh istrinya yang mana semakin membuat Alara menangis.


"Selamat, Sayang. Kita akan punya anak lagi, ya ampun aku bahagia banget tahu kabar ini." Ungkap Al dengan jujur.


"Kamu bahagia, terus Rio gimana. Dia masih kecil, Mas." Lirih Alara tanpa menatap suaminya.


"Aku yakin kita bisa mengurusnya bersama. Ini sudah rejeki dari Tuhan, kita nggak bisa menolaknya." Balas Al dengan lembut.


"Emang kamu mau menggugurkan kandungan kamu?" tanya Al seketika membuat Alara mendongak.


"Enak aja!" jawab Alara sewot.


Al terkekeh, ia menyeka air mata istrinya lalu kembali memeluk Alara dengan erat.


"Tokcer juga goyangan aku ya, Sayang." Celetuk Al dengan begitu santainya.


Alara berdecak, ia menyentil bibir suaminya yang selalu asal bicara, tetapi Alara begitu mencintainya.


"Jangan pernah tinggalin aku ya, Mas." Pinta Alara pelan.


"Iya, Sayang. Sebaliknya ya, karena aku sangat mencintai kamu, selamanya." Balas Al sungguh-sungguh.


Al menangkup wajah cantik istrinya, ia cium bibir Alara dengan lembut, tanpa diimbangi nafsu di dalamnya.


Keluarga mereka akan semakin bahagia dan lengkap karena kehamilan Alara yang kedua ini. Sebagai suami, Al berjanji akan memenuhi kebutuhan istri dan anaknya dengan baik, tanpa ada rasa kekurangan kasih sayang.


Begitu juga dengan Alara, sebisa mungkin ia akan mencurahkan kasih sayang yang sama kepada anak-anaknya kelak, meskipun Rio masih kecil, tapi atas dukungan dari suami dan keluarga, Alara yakin bisa mengurusnya.


END✨✨


MASIH ADA EKSTRA PART YA, JADI TUNGGUIN. SEKALIAN NANTI AKU KASIH PENGUMUMAN CERITA BARU😚😚