My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Memutuskan hubungan



Alderio kembali ke Bandung untuk melihat kondisi Mika, ia tidak membawa Alara karena tidak mau istrinya sampai dihina apalagi di fitnah oleh Renata.


Saat sampai di rumah sakit, Al langsung menuju ruang rawat Mika. Ia mengetuk pintu beberapa kali setelah itu barulah membuka pintu dan langsung masuk.


Semua mata tertuju pada Al ketika pria itu baru saja datang, terutama Bima yang melempar tatapan tidak suka.


"Al, kamu datang?" tanya Renata senang.


Alderio tidak menjawab, ia menatap kedua orang tuanya yang hanya diam lalu beralih menatap wanita yang terbaring di atas brankar sambil melamun.


"Bagaimana keadaan Mika?" tanya Alderio dingin.


"Jangan pura-pura peduli, Al. Kau pikir aku tidak tahu niatmu sesungguhnya," sahut Bima dengan nada tidak bersahabat.


"Apa maksudmu?" tanya Alderio mendelik tajam.


"Al, Mika sudah mengatakan segalanya." Ujar Mama Mira akhirnya membuka suara.


"Apa yang dia katakan?" tanya Alderio tidak sabar.


"Mika bilang, memang Alara yang sudah mendorongnya sampai terjatuh di kamar mandi." Jawab Mama Mira sedih.


Alderio tiba-tiba terkekeh, ia merasa sedang menonton film komedi disini. Ternyata benar dugaan nya, bahwa Mika itu sama seperti kakaknya.


"Kenapa kamu tertawa, Al?" tanya Papa Aden heran.


"Bagaimana tidak tertawa, Pa. Sedang ada lelucon disini," jawab Alderio menutup mulutnya yang masih mengeluarkan tawa.


"Apa maksudmu, hah?!" Bentak Bima hendak mendekati Al, namun ditahan oleh Papa Aden.


"Al, kamu pikir Mika akan berbohong?" tanya Renata menyipitkan matanya bingung.


Alderio menghentikan tawanya, ia menatap tajam Renata. "Dan kalian pikir istriku yang berbohong?" tanya Alderio balik.


"Al, Mika adalah korban dan kesaksiannya lah yang paling akurat saat ini!" Seru Mama Mira.


"Jadi Mama percaya jika Alara yang sudah mendorong Mika?" tanya Alderio tidak menyangka.


"Al, siapapun pasti akan percaya jika korban sudah angkat bicara." Jawab Mama Mira.


"Apakah Mama tidak berpikir bahwa Mika bisa saja berbohong?" tanya Alderio dingin.


Bima mengerem kesal, ia melepaskan pegangan sang Papa lalu mendekati Alderio dan hendak meninju wajah kakaknya, namun Al dengan cepat menghentikan nya.


"Brengsekk!! Istriku sudah kehilangan anaknya, dan kau masih bisa berpikir bahwa dia berbohong?!" tanya Bima seraya terus mengeluarkan umpatan.


Renata tersentak, ia mendadak gugup dan khawatir saat menyadari tatapan Alderio terhadapnya.


"Al, lebih baik kau pergi dari sini jika kehadiranmu hanya membuat keributan." Ucap Papa Aden tegas.


Alderio mendorong Bima menjauh, ia menatap sang Papa dengan tatapan bingung, kecewa dan tidak menyangka.


"Baiklah, aku akan pergi. Tapi aku tidak akan pernah membiarkan istriku terus di fitnah oleh kalian!" Timpal Alderio menatap setiap manusia yang ada disana.


"Dan Mama, aku tidak menyangka Mama akan berpikir sangat buruk tentang Alara." Lanjut Alderio geleng-geleng kepala.


"Al, Mama hanya–" Ucapan Mama Mira terhenti saat Alderio mengangkat tangannya.


"Kalian lebih percaya padanya, baiklah tidak masalah, tapi …" Alderio menggantung ucapannya.


"Jangan pernah menganggapku ataupun Alara sebagai bagian keluarga kalian," lanjut Alderio.


"Al, kamu sadar ucapanmu?" tanya Papa Aden dengan suara meninggi.


"Aku sangat sadar, Ma. Perlakuan kalian sudah benar-benar melebihi orang lain," jawab Alderio dengan sangat yakin.


Bima bertepuk tangan, ia kembali mendekati Alderio lalu menepuk bahu pria yang merupakan kakak nya itu.


"Hati-hati, Al. Kau bisa menyesali perkataan mu nantinya." Ucap Bima mengolok-olok.


Alderio terkekeh, ia menepis tangan Bima dari bahunya. "Kenapa? Bukankah ini yang kau mau?" tanya Alderio tersenyum remeh.


"Tenang saja, kini kau bisa benar-benar menguasai harta orang tuamu, aku tidak membutuhkan nya." Lanjut Alderio menatap adiknya sinis.


"Demi seorang wanita kau rela meninggalkan keluargamu?" tanya Bima meremehkan.


"Aku bahkan rela mati jika untuk Alara, aku lebih mempercayai istriku dibandingkan siapapun di dunia ini termasuk diriku sendiri." Jawab Alderio kemudian langsung pergi.


"Al, dengarkan Mama dulu!!" panggil Mama Mira, namun tidak digubris oleh putranya.


Renata ikut syok mendengar ucapan Alderio, sebesar itukah cinta Alderio untuk istrinya, sampai ia rela memutus hubungan keluarga.


Mama Mira terlihat menangis, ia tidak menyangka putra yang begitu ia sayangi akan semarah ini padanya, bahkan dengan ringan mulut Al berkata hal yang tidak mungkin dilakukan. Hubungan keluarga tidak bisa putus.


ALDERIO KALO UDAH MARAH NGGAK MAIN-MAIN YA😭😭


To be continued