
Alara menyiapkan sarapan untuk suaminya, saat sedang asik memasak, ia merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya seraya memberikan usapan lembut di perut besarnya.
Alara sudah sangat hafal, siapa lagi jika bukan kelakuan suaminya. Ia tidak menolak ataupun membalas pelukan suaminya, biasanya ia akan membalas dengan mengusap tangan Al, tetapi sekarang tidak.
"Selamat pagi, Sayang. Selamat pagi anak Papa," sapa Alderio dengan begitu manis.
Al menolehkan kepalanya guna melihat wajah sang istri, ia mengecup kedua pipi Alara bergantian.
"Mama Ara kok diam aja, marah 'ya?" tanya Alderio dengan suara manja.
"Lepasin, Mas. Aku sedang memasak!" pinta Alara tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
"Aku tahu aku salah karena cuekin kamu semalam, itu karena pikiranku sedang kacau. Maafin aku ya Sayang," pinta Alderio menjelaskan tanpa diminta.
Alara membalik badan, ia menatap suaminya dengan tatapan sayu.
"Jadi kamu melampiaskan nya ke aku sama anak kita, kamu nggak tau semalam perut aku sakit dan mau diusap sama kamu, tapi kamu malah cuekin aku!" Ucap Alara panjang lebar.
"Hiks … jahat kamu, Mas. Kenapa harus membawa masalah ke rumah," lirih Alara menundukkan kepalanya.
Alderio tersentak, ia tidak menyangka perlakuannya semalam akan sangat menyakiti perasaan istrinya. Dengan cepat ia menarik Alara ke dalam pelukannya.
"Aku minta maaf, Sayang. Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba cuek sama kamu, aku juga nggak tahu kenapa aku harus membawa masalah luar ke rumah ini." Jelas Alderio seraya mengusap punggung istrinya.
"Aku tahu kamu marah karena aku nasihati kamu untuk jangan bersikap begitu kepada mama Mira 'kan?" tebak Alara mendongakkan kepalanya.
Alderio terdiam, membuat Alara kembali menangis.
"Mas, aku selalu dukung keputusan kamu, tapi aku nggak mau kamu jadi anak durhaka. Aku nggak suka lihat kamu bersikap keras kepada mama Mira." Tambah Alara seraya menyeka air matanya.
Alderio melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah cantik istrinya yang basah karena air mata.
"Aku tahu, Sayang. Tapi aku masih belum bisa menerima jika mereka menyalahkan kamu terus atas apa yang tidak kamu lakukan!" sahut Alderio lembut.
"Mas, kamu boleh benci sama Bima dan Mika, kamu juga boleh benci sama Renata, tapi jangan mama Mira ataupun papa Aden, bagaimanapun mereka orang tua." Ujar Alara menasehati.
Alderio menundukkan kepalanya, ia manggut-manggut paham mendengar nasehat dari istrinya.
"Iya, Sayang. Aku minta maaf," lirih Alderio menggenggam tangan istrinya.
"Jangan sama aku, Mas. Sama mama Mira dan papa Aden." Balas Alara menggeleng pelan.
Alderio ikut menggelengkan kepalanya, ia tidak menolak permintaan baik istrinya, hanya saja ia belum bisa menemui kedua orang tuanya apalagi masih ada bayang-bayang Mika dan Renata.
"Aku pasti akan minta maaf sama mereka, tapi nggak sekarang. Aku butuh waktu, Sayang." Pintar Alderio memohon.
Alara menghela nafas, untuk beberapa saat wanita itu terdiam mendengar ucapan suaminya.
"Iya, Sayang. Tapi aku tidak akan meminta harta apapun dari keluarga Haiyan, aku akan mencari uangku sendiri." Ucap Alderio enggan dibantah.
"Aku nggak akan ikut campur masalah ini, aku akan ikut keputusan kamu selama itu baik asal tidak menyakiti orang tua kita." Timpal Alara lembut.
Alara paham bahwa suaminya masih terlalu marah dan kecewa, untuk urusan harta ia tidak akan ikut campur, dan akan selalu berada di samping suaminya.
Namun jika soal kesopanan dan hubungan keluarga, Alara tidak akan membiarkan suaminya bersikap kasar terlebih lagi kepada orang tua.
"Makasih ya, Sayang." Ucap Alderio lalu menciumi punggung tangan istrinya.
Alara mengangguk seraya tersenyum manis, ia menarik Alderio ke dalam pelukannya dan ia dekap erat.
"Aku minta maaf jika salah bicara ya, Mas. Sebagai istri, tentu aku mau yang terbaik untuk kamu." Bisik Alara lalu mencium puncak kepala suaminya.
"Aku juga minta maaf, Sayang. Mungkin aku memang terlalu kasar kepada mama," balas Alderio tidak kalah berbisik.
Alara melepaskan pelukan, ia menatap wajah suaminya yang tampan meski belum mandi.
"Mandi dan siap-siap ke kampus gih, aku mau lanjutin masaknya." Tutur Alara perhatian.
"Hari ini aku nggak ke kampus, aku akan pergi ke kantor." Sahut Alderio tersenyum.
"Kantor siapa, Mas?" tanya Alara heran.
"Kantor aku, aku bekerja di perusahaan Jiang sebagai kepala keuangan." Jawab Alderio.
Alara melotot, ia menatap suaminya dengan penuh keterkejutan.
"Kepala keuangan, sejak kapan Mas?!!" pekik Alara.
"Seminggu yang lalu, aku akan bekerja sekaligus melihat perkembangan perusahaannya. Jika memang bagus, maka aku akan membeli saham nya." Jelas Alderio seraya merapikan rambut istrinya.
Alara kembali tersentak. "Mas, membeli saham itu kan mahal, kamu punya uang sebanyak itu?" tanya Alara.
"Aku bahkan bisa membeli seluruh sahamnya saat ini juga, Sayang." Jawab Alderio dengan santai.
Al mengecup bibir istrinya yang terbuka kemudian segera pergi ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap kerja.
Sementara Alara masih melongo, ia tidak tahu jika selama ini suaminya melakukan banyak hal, bahkan bekerja sebagai kepala keuangan di perusahaan yang sangat ternama.
"Alara, gimana sih jadi istri!!!" gerutu Alara memukuli kepalanya sendiri.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN NYA GUYSS 🌹🌹
To be continued