My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Perhatian Bima



Reina diperbolehkan untuk langsung pulang, tetapi karena hari sudah malam membuat keluarga Haiyan memutuskan untuk membiarkan Reina menginap di rumah sakit dan akan pulang besok.


Bima meminta kedua orang tuanya untuk pulang dan istirahat, begitupula dengan Alderio dan Alara, meskipun begitu Alara tetap memaksa untuk disana.


"Ra, mengertilah. Lo kan lagi hamil, udah gede juga. Lo harus banyak-banyak istirahat, lagian kan udah ada Pak Bima yang jagain gue." Ucap Reina mencoba menjelaskan.


"Yang Reina katakan benar, Sayang. Kamu lagi hamil besar dan butuh banyak istirahat, lagi pula sudah ada Bima bukan." Timpal Alderio lembut.


Ia berusaha membuat istrinya untuk mengerti tentang keadaannya sendiri.


Alara menghela nafas, ia mencerna kata-kata suami dan sahabatnya. Setelah beberapa saat akhirnya Alara mengangguk paham.


"Yaudah deh, gue balik, tapi besok gue kesini lagi 'ya." Ujar Alara memaksa.


"Iya, besok kesini lagi dan antar gue ke rumah tante Mira." Sahut Reina manggut-mangut.


Alara tersenyum, ia memeluk sahabatnya itu dengan erat.


"Gue balik dulu, jaga diri lo baik-baik." Tutur Alara lembut.


Reina menjawabnya dengan anggukan kepala, ia menggenggam tangan Alara sebentar lalu melepaskannya.


"Kak Bima, titip Reina 'ya." Ucap Alara kepada adik iparnya.


"Iya, Kakak ipar. Kau jangan khawatir, Reina akan aman bersamaku." Sahut Bima terkekeh.


"Ya sudah, kami pergi dulu 'ya. Selamat malam," ucap Alderio berpamitan.


Alderio merangkul pinggang Alara, ia mengajaknya untuk keluar dari ruang inap Reina lalu segera pergi dari rumah sakit dan kembali ke rumahnya.


Sementara itu di kamar inap Reina, wanita itu berbaring dengan perasaan yang gugup, bahkan suasana kamar yang sunyi terasa begitu canggung.


Bima berdehem, ia melepaskan jas miliknya lalu meletakkannya di sofa.


"Nona Reina, anda tidurlah. Saya juga akan tidur," ucap Bima membuka pembicaraan.


"Apa anda bisa?" tanya Reina tiba-tiba.


"Maksudnya?" tanya Bima bingung.


Reina menggigit bibirnya, ia ragu apakah Bima bisa tidur di sofa atau tidak, pasalnya ia yakin selama ini pria itu selalu tidur dengan kasur yang empuk dan nyaman.


"Anda, apakah anda bisa tidur di sofa?" tanya Reina ragu-ragu.


Bima tertawa pelan, jadi gadis dihadapannya ini memikirkan nya. Jika boleh jujur, tentu saja ia tidak bisa, bahkan tubuhnya bisa sakit besok pagi.


Namun ia tidak punya pilihan lain, ia juga tidak akan mungkin meninggalkan Reina seorang diri, apalagi gadis itu sampai masuk ke rumah sakit karena dirinya.


Bima melepas sepatu yang ia gunakan, sebelum tidur, ia memutuskan untuk mencuci wajahnya terlebih dahulu.


Bima kembali, dan Reina belum juga tidur. Bima mendekati bangsal, ia menepuk pelan bahu Reina, membuat gadis itu tersadar.


"Kenapa belum tidur, kau mau ke kamar mandi?" tanya Bima.


Reina mengangguk, sebenarnya ia sangat ingin ke kamar mandi sejak tadi, namun ia menahannya karena malu.


Bima tersenyum, ia lalu menggendong Reina tanpa ragu sama sekali.


"Pak?!!" Pekik Reina terkejut.


Reina reflek mengalungkan tangannya di leher Bima, ia bahkan bisa merasakan detak jantung pria itu karena tubuh mereka yang benar-benar menempel.


Saat sampai di kamar mandi, Bima menurunkan gadis itu di atas kloset dengan hati-hati.


"Panggil saya jika sudah selesai 'ya." Ucap Bima memberi pesan lalu keluar dari kamar mandi dan tidak lupa menutup pintunya.


Reina pun buang air kecil, ia harus bersusah payah untuk berdiri agar membuka celananya. Beberapa kali Reina meringis karena perih di kakinya yang terluka.


Setelah beberapa saat, Reina beres buang air kecil dan merapikan kembali penampilannya, namun ia belum juga memanggil Bima, ia takut bahkan tidak enak hati untuk memanggil pria itu.


"Coba aja gue bisa jalan, nggak akan gue manggil pak Bima, gue malu!" Cicit Reina seorang diri.


Reina menghela nafas, ia harus memanggil Bima, atau jika tidak maka ia harus bermalam di dalam kamar mandi.


"P-pak Bima!!" panggil Reina terbata.


Tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, Bima melempar senyum lalu menggendong Reina kembali dan mengajaknya untuk berbaring kembali di brankar.


"Sekarang tidurlah, atau jika tidak matamu bisa menghitam!" ucap Bima diakhiri tawa.


Reina terdiam, ia memperhatikan tiap kerutan di wajah Bima saat pria itu sedang tertawa. Tatapan Reina masih terkunci pada Bima yang mulai berbaring di sofa.


"Maafkan saya, Pak." Gumam Reina menundukkan kepalanya.


Ini semua karena kelalaiannya dan tim nya sampai membuat lampu pesta jatuh dan hampir mengenai Bima, ia tidak tahu jika ia terlambat, maka keluarga Haiyan pasti akan menuntut nya.


Reina menghela nafas, ia akhirnya berbaring dan mulai memejamkan matanya, menyusul Bima yang mungkin sudah pulas.


PERHATIAN BANGET MAS BIM😫😫


To be continued