My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Bayi gorila



Alara sedang menyusui baby Ar di kamar, tangannya mengusap kepala putranya yang sudah hampir tertidur setelah cukup lama menyusu, namun tidak kunjung memejamkan matanya.


Alara harus memasak makan malam, suaminya sebentar lagi akan pulang dan kasihan jika tidak di masakin makan malam.


Alara tersenyum senang saat Arion akhirnya tidur, ia pelan-pelan melepaskan dadanya dari mulut putranya lalu hendak beranjak dari tempat tidur.


Namun sayang sekali karena segala kerja keras Alara untuk menidurkan putranya sia-sia tatkala pintu terbuka lebar secara tiba-tiba disertai panggilan yang begitu kencang.


Arion menangis dan terbangun dari tidurnya, hal itu membuat Alara ingin ikutan menangis.


Alara lalu menoleh ke arah si pemilik suara yang dengan tidak sopan nya berteriak saat putranya sudah tidur.


"Kamu tuh, Mas!!!!" desis Alara geram.


Alara mendekati suaminya, memberikan pukulan-pukulan kesal sebagai seorang ibu yang sudah bekerja keras untuk menidurkan putranya, dan sekarang si ayah bayi itu malah membuatnya terbangun kembali.


"Aduhh … aduh, Sayang. Ampun, aku nggak tau kali Arion lagi tidur, ampun Sayang!!" pinta Alderio seraya berusaha menutupi wajahnya agar tidak kena pukulan istrinya.


"Sukurin, kamu nggak tau perjuangan aku nidurin El gimana, sekarang kamu malah enak-enakan bangunin dia." Sahut Alara tetap memukuli suaminya.


Alderio memegang tangan istrinya yang tidak henti memukulnya terus, ia meletakkan tangan Alara di pinggangnya, kemudian tangannya sendiri di pinggang istrinya.


"Aku nggak tahu, Mama. Kirain kalian lagi main-main, maaf ya." Ucap Alderio dengan tulus.


Alara menekuk wajahnya, ia menjauhkan tangan Al dari pinggangnya.


"Lagian kamu ngapain teriak-teriak sih, kaya habis dapat jackpot aja." Celetuk Alara mendengus sebal.


Alderio tersenyum lebar, ia bukan hanya mendapat jackpot, melainkan mendapatkan sebuah hal yang selama ini sudah sangat dicita-citakan nya.


"Aku bahkan dapat lebih dari sekedar jackpot, Sayang." Ucap Alderio lalu menunjukkan sebuah map kepada istrinya.


Alara bingung, meskipun begitu ia tetap menerima map yang suaminya berikan.


Alara membukanya, ia membaca tiap deret kata yang tertulis diatas kertas putih dengan stempel resmi.


"Mas, ini …" Alara menggantung ucapannya.


"Iya, Sayang. Aku berhasil memiliki 30 persen perusahaan Jiang." Ucap Alderio manggut-manggut dengan penuh kebahagiaan.


Alara tersenyum bahagia, sebelumnya ia marah-marah kepada Alderio dan kini wanita itu malah memeluk suaminya dengan erat.


"Iya, Sayang. Terima kasih atas dukunganmu selama ini," balas Alderio mengusap punggung istrinya.


Fyi, Alderio dan Alara sama-sama sepakat untuk membeli beberapa persen perusahaan Jiang dengan tujuan memperluas jangkauan kerja sama untuk perusahaan keluarganya.


Perusahaan Jiang termasuk perusahaan besar dan bonafit, akan banyak keuntungan jika ketiga perusahaan besar itu saling bekerja sama.


"Aku akan beritahu Bima nanti, sekarang mau mandi dulu." Ucap Alderio dengan enteng.


Alara memegang tangan suaminya, ia menyipitkan matanya lalu menunjuk ke arah baby Ar yang sudah tidak menangis, dan tidak tidur kembali.


"Jagain Arion, aku mau masak. Tanggung jawab kamu!" ucap Alara dengan tatapan mata yang tajam.


Alderio mengusap wajahnya kasar, ia kira istrinya sudah tidak marah, ternyata ia salah. Alara tetap marah.


"Iya, Sayang. Aku jagain Arion, tapi setelah mandi ya?" tawar Alderio meminta waktu.


Alara mencubit hidung mancung suaminya karena kesal, bibirnya tidak henti mencibir kelakuan suaminya yang selalu saja berubah-ubah setiap hari.


"Besok-besok kalo kamu ganggu Arion tidur lagi, aku gigit kamu." Ancam Alara namun malah membuat seringai di wajah Alderio terbit.


"Mau dong digigit Mama Ara …" rengek Alderio dengan manja.


Alara memukul bahu suaminya agar bisa sadar, ia kesal sekali dengan mantan dosen pembimbingnya dulu.


"Mandi atau aku siram?" tanya Alara dan lagi-lagi membuat Alderio memiliki celah untuk menggoda sang istri.


"Mau dong di siram, main basah-basahan sambil panas-panasan." Sahut Alderio semakin gencar.


Alara mengusap dadanya sabar, jika saja ia lupa Alderio suaminya, mungkin sandal selow nya sudah melayang.


"Astagfirullah, sabar. Begini rasanya kalo ngadepin bayi gorila." Celetuk Alara membuat Alderio melototkan matanya.


BAYI GORILA NGGAK TUH😭😭😭


YANG SABAR YA PAK AL, EMANG MAMA ARA SUKA ASAL CEPLOS 😌


To be continued