My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Terbongkar



Keluarga Haiyan saat ini sedang sarapan bersama, tidak ada pembicaraan dari siapapun, hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar di meja makan.


Semenjak Alderio marah, bahkan sampai memutuskan hubungan, keluarga itu seakan hilang semangat dan meredup, bahkan mama Mira seringkali menangis karena rindu dengan anak dan menantunya.


"Pa, kita suruh Al dan Alara kesini 'ya. Mama rindu sekali sama mereka," ucap Mama Mira pelan.


Papa Aden meletakkan sendok dan garpu nya, ia menatap sang istri yang beberapa hari ini mengeluh ingin bertemu Alara dan Alderio.


"Ma, pintu rumah ini terbuka lebar untuk mereka, tetapi justru pintu rumah mereka yang tertutup jika tujuannya datang kemari." Sahut Papa Aden.


"Mama lupa dengan perkataan Alderio, anak itu sangat marah bahkan sampai benar-benar tidak datang kesini." Tambah Papa Aden diakhiri helaan nafas pelan.


Mika menatap kedua mertuanya dengan iba, sejujurnya ia tidak tega kepada mama Mira dan papa Aden. Marahnya Alderio itu pasti karena tuduhan Renata kepada Alara.


Mika beralih menatap sang kakak yang begitu tenang, sungguh ia muak sekali melihat Renata yang betah tinggal di rumah mertuanya.


"Kak, kapan kau kembali ke Surabaya?" tanya Mika tiba-tiba.


Renata menghentikan acara makan nya, ia menatap sang adik dengan heran.


"Aku, tidak tahu." Jawab Renata seadanya.


"Kenapa tidak tahu, bukankah bisnis mu itu harus diurus. Jangan terlalu banyak bersantai di rumah mertuaku, Kak." Ujar Mika sengaja menyindir.


"Iya Renata, kenapa kamu tidak kunjung kembali ke Surabaya untuk mengurus bisnis disana?" tanya Mama Mira ikut menimpali.


Renata gelagapan, ia tidak mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan mama Mira, lagipula entah mengapa Mika tiba-tiba mengungkit masalah kepulangannya.


"Itu Tante, sebenarnya aku bisa mengontrol bisnis ku dari jarak jauh." Jawab Renata asal.


"Tetapi setidaknya kamu harus tetap ada disana, Nata. Kita tidak tahu sifat orang lain, bagaimana jika ada kecurangan yang tidak kamu ketahui." Timpal Papa Aden menasehati.


Renata semakin merasa terpojok, ia menatap Mika yang sedang santai menyantap sarapannya sambil bermain ponsel.


"Iya, Om. Mungkin aku akan kembali ke Surabaya secepatnya," balas Renata gugup.


"Tidak perlu menunggu lagi, Kak. Aku sudah memesankan tiketnya," ucap Mika tiba-tiba.


Mika menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan pesanan tiket ke Surabaya hari ini.


"Pulanglah hari ini," tutur Mika tersenyum manis.


Renata mengepalkan tangannya, ia tidak tahan dengan sikap Mika yang tiba-tiba memojokkan nya seperti ini.


Renata berusaha untuk tersenyum seraya mengangguk. "Baiklah, terima kasih." Sahut Renata manut.


"Mas, aku ke atas dulu ya. Entah mengapa tiba-tiba kepalaku pusing." Ucap Mika kepada suaminya.


"Iya, Sayang. Istirahatlah," balas Bima lembut.


Mika pun berpamitan kepada mertuanya sebelum pergi, setelahnya ia baru pergi ke kamarnya. Ia sangat yakin bahwa saat ini Renata sudah menunggu kedatangannya.


Sesampainya di kamar, benar dugaannya bahwa Renata ada disana sambil melipat tangan di dada.


"Mau apa, Kak. Kau tidak sopan memasuki kamar orang lain tanpa izin," sindir Mika sinis.


Renata mendekat, ia mencekal tangan adiknya cukup kuat.


"Maksud kamu apa mengatakan hal seperti tadi, apa kau mau aku pergi dari sini?" tanya Renata dengan suara tinggi.


"Iya, aku mau kamu pergi, Kak. Aku tidak tahan lagi melihat wajah sok polos mu, padahal jelas-jelas kau yang bersalah!" jawab Mika tidak kalah tinggi.


Renata menutup mulut Mika, ia khawatir akan ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Mika, kenapa tiba-tiba kau begini?" tanya Renata lembut.


Mika tersenyum miris, ia menepis tangan Renata dari bahunya.


"Sejak awal aku memang sudah begini, tetapi karena permintaanmu aku diam!" jawab Mika meninggi diakhir kalimatnya.


Renata menghela nafas, ia memegang kedua tangan adiknya, berusaha membuat wanita itu mengerti.


"Mika, aku mohon biarkan aku disini lebih lama. Aku belum mendapatkan apa yang aku mau, aku bahkan belum memulainya." Pinta Ranata memohon.


"Tidak bisa, Kak. Kau pergi atau aku membongkar semua kebusukan mu." Balas Mika mengancam.


"Mika, aku ini kakakmu!" tegur Renata tegas.


"Tetapi kau yang sudah membuatku kehilangan anakku!" balas Mika tidak kalah tinggi.


"APA?!!!"


Mika dan Renata sama-sama menoleh ke asal suara, mereka terkejut melihat sosok yang ada di ambang pintu dan mendengar semu pembicaraan mereka.


NAH LOHH SIAPA TUHHH????


To be continued