
Keesokan harinya, Alara bersama seluruh keluarganya sedang duduk sambil melakukan olahraga ringan di depan villa yang hijau karena rerumputan. Alara bersama Mika hanya melakukan gerakan ringan karena keduanya sedang hamil.
Sementara Alderio, Bima, dan para orang tua berlari ke sekeliling villa. Jangan tanyakan dimana Renata, karena belum ada yang melihat wanita itu sejak pagi.
"Alara, bisakah tolong bantu aku ambil air?" tanya Mika dengan nada yang tidak enak di dengar.
Alara tersenyum, ia beranjak dari duduknya lalu pergi untuk mengambil air minum, namun bukan untuk Mika, melainkan untuk dirinya sendiri.
Mika yang melihat itu tentu saja merasa kesal, ya mendekati Alara. "Apa-apaan sih, kan aku minta kamu untuk ambilin air, kenapa malah minum sendiri?" tanya Mika.
Alara mendongakkan kepalanya, ia tidak menjawab dan tetap menenggak minumannya sendiri.
"Alara, aku bicara padamu!" tegur Mika tidak sopan.
"Turunkan nada bicaramu, Mika. Meskipun kau lebih tua, tapi aku tetap kakak iparmu." Ucap Alara dengan tenang.
Alara bangkit, ia berdiri di depan Mika dengan tangan yang terlipat di dada.
"Kau tidak mau kan jika Mama Mira melihat kelakuanmu, bagaimana caramu bicara dan memerintahku." Lanjut Alara diakhiri senyuman manis.
Mika mengepalkan tangannya, ia hendak mengucapkan sebuah kata-kata untuk membalas Alara, namun mulutnya terkunci saat melihat mama Mira dan yang lain sudah selesai berolahraga.
"Sayang." Alderio mendekati istrinya yang masih menatap Mika.
Alara tersadar, ia melempar senyum manis kepada sang suami, lalu memeluk lengan Alderio dan bergelayut manja.
"Sudah selesai, mau minum sesuatu?" tawar Alara dengan lembut.
Alderio mengangukkan kepalanya. "Kangen jus jeruk buatan kamu." Ucap Alderio.
Alara terkekeh, ia melepaskan rangkulan tangan suaminya. "Aku buatin, kamu tunggu disini ya." Ucap Alara lembut
Alara segera masuk ke dalam villa untuk membuatkan suaminya jus, saat sampai di dapur, ia melihat Renata baru saja dari dapur juga.
"Mau kemana kau?" tanya Renata datar.
"Bukan urusanmu." Jawab Alara seraya terus melangkahkan kakinya.
Renata berdecih, ia segera keluar tanpa mau peduli pada Alara, namun yang pasti hari ini ia akan memberikan sebuah kejutan untuk wanita itu.
Saat sampai di luar, ia berpapasan dengan Mika yang hendak masuk ke dalam rumah.
"Darimana saja kau baru datang?" tanya Mika kesal.
"Sudahlah, aku akan jawab nanti. Kau mau kemana?" tanya Renata balik.
"Dapur, Bima memintaku membuatkan jus." Jawab Mika.
Mika hendak pergi, namun tangannya dipegang oleh sang kakak.
"Tumpahkan ini ke baju Alara, dan suruh dia ke kamar mandi dekat dapur." Ucap Renata memberikan sebuah minuman coklat di tangannya.
"Kenapa harus–" Pertanyaan Mika terhenti karena Renata memotongnya.
"Nanti saja, lakukan apa yang aku suruh." Potong Renata cepat.
"Astaga!!!" Alara memekik saat merasakan dingin di bagian punggungnya.
"Mika, apa yang kau lakukan?" tanya Alara terkejut.
"Ck, ini bukan salahku. Lihat saja, tanganku juga kotor." Jawab Mika menunjukkan tangannya.
Alara menggelengkan kepalanya pelan, ia hendak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum ke kamar nanti, tapi langkahnya didahului oleh Mika.
Alara hanya bisa menghela nafas pasrah, ia membiarkan Mika memakai kamar mandi dekat dapur, lalu dirinya pergi ke kamarnya sendiri untuk mandi dan mengganti pakaiannya.
Saat langkah Alara baru sampai anak tangga pertama, ia dikejutkan dengan teriakan Mika dari dapur.
"Mika." Gumam Alara kemudian langsung menghampiri asal suara.
Alara mengetuk pintu kamar mandi, ia bisa mendengar suara tangisan dan ringisan dari mulut Mika.
"Mika, ada apa? Buka pintunya!!" teriak Alara dari luar.
"Hiks … arghhhhh sakit!!!!" Ringis Mika dari dalam kamar mandi.
Alara segera membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci, ia terkejut melihat Mika terduduk dengan darah yang mengalir dari kaki, bahkan sudah membasahi bajunya sendiri.
"ASTAGA, MIKA!!!!!!" Alara mendekati wanita itu.
"Mika, apa yang terjadi?" tanya Alara mengusap lengan wanita itu.
"Hiks … panggilkan suamiku, panggil Bima." Jawab Mika berteriak.
Alara panik, ia segera pergi ke luar villa dengan tergesa-gesa, matanya merah karena ingin menangis, meskipun Mika itu jahat tetapi wanita itu tetap saja adik iparnya.
"Mas, Ma!!!" Alara berteriak membuat semua orang terkejut.
Alderio terkejut melihat istrinya menangis, apalagi noda darah yang menempel di ujung baju istrinya.
"Sayang, ada apa?" tanya Alderio panik.
Alara menunjuk ke arah dalam, nafasnya tersengal karena menangis.
"Mika … Mika jatuh dikamar mandi." Jawab Alara cepat.
Senyuman yang tadi ada diwajah Renata karena mengira darah di baju Alara ada darah keguguran hilang begitu saja saat mendengar nama adiknya disebut.
"APA!!!" Bima berteriak kemudian langsung berlari masuk ke dalam villa.
Renata dan yang lain ikut masuk untuk melihat kondisi Mika, ia berdecak antara kesal dan takut. Adiknya itu benar-benar susah jika diberi perintah, dan kini malah berakhir kepadanya sendiri.
Niat untuk membuat Alara kehilangan bayinya kini malah berbalik kepada Mika.
MAKAN TUH RENCANA🥴🥴
To be continued