My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Rutinitas istri



6 bulan berlalu …..


Alara membantu suaminya bersiap-siap untuk pergi ke kantor, bukan perusahaan Jiang, melainkan perusahaan keluarga Haiyan.


Hari ini, baik Alderio dan juga Bima sama-sama diundang ke acara peresmian cabang baru di kota A.


Sebenarnya papa Aden ingin mengajak anak-anaknya untuk pergi ke kota A dan melihat peresmian secara langsung, tetapi karena Bima sedang sibuk mengurus istrinya yang sedang hamil muda membuat papa Aden mengurungkan niatnya.


"Sayang, nanti kalo Rio rewel lagi, ajak aja main ke mall atau kemana gitu. Nanti pulang dari kantor, aku jemput." Ucap Alderio seraya mengusap pinggang ramping istrinya.


Alara yang sedang memakaikan dasi hanya berdehem. Ia sedikit pusing karena beberapa hari ini Rio rewel sekali, tidak seperti biasanya yang anteng.


"Iya, Mas. Tapi aku masih heran, kenapa Rio tiba-tiba rewel, apa mungkin karena pertumbuhan gigi nya ya, Mas?" tanya Alara mendongak, menatap suaminya yang lebih tinggi.


Alderio melirik ranjang, dimana putranya yang baru berusia 7 bulan masih terlelap dengan begitu pulas.


"Mungkin, Sayang. Lagian, kita kan sudah tanya mama, dan katanya memang biasa bayi begitu kan." Jawab Alderio lembut.


Alara menghela nafas lalu mengangguk, ia membantu suaminya memakai jas dan sedikit merapikannya.


"Ihhh … gantengnya papa Rio, Mama sampai klepek-klepek liatnya." Puji Alderio untuk dirinya sendiri.


Alara tertawa, ternyata ada orang yang begitu percaya diri sampai memuji ketampanannya sendiri.


"Percaya diri banget sih suami aku." Celetuk Alara mengusap wajah tampan suaminya.


Alderio tertawa, ia semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang sang istri, mengikis jarak diantara mereka, bahkan hidung sudah saling bersentuhan.


"Kan kamu yang selalu buat aku percaya diri. Penampilan aku yang rapi dan tampan gini tentu saja atas bantuan istri pintar seperti kamu," balas Alderio jujur.


Alara mengecup bibir suaminya, ia gemas sekali dengan Alderio yang tidak pernah absen untuk memujinya.


Entah wajah, entah masakan, entah penampilan. Semua itu sudah menjadi kategori Alderio dalam memuji istrinya.


"Mas, suka mikir nggak sih gimana kalo kita nggak ketemu malam itu?" tanya Alara seraya menggandeng tangan suaminya keluar kamar.


"Maksudnya saat kita menghabiskan malam bersama?" tanya Alderio dijawab anggukan oleh Alara.


"Nggak pernah mikir apa-apa, aku yakin walaupun kita nggak ketemu malam itu, kita akan ketemu dengan cara yang lain, karena kita memang ditakdirkan berjodoh." Jawab Alderio lembut.


"Mungkin aja, tapi aku belum tentu mau sama kamu awalnya." Cetus Alara menahan tawa.


"Kenapa nggak mau sama aku, kan aku tampan?" tanya Alderio memicingkan matanya.


"Karena kamu killer, jadi dosen pembimbing aja anak orang disuruh revisi terus." Jawab Alara mengingatkan masa-masa mereka di kampus dulu.


Alderio menyentil hidung Alara pelan, ia juga menarik hidung mancung itu hingga si pemilik protes.


"Mas, ihhh." Rengek Alara memukul punggung tangan suaminya.


"Lagian kamu, aku nggak akan suruh revisi kalo kamu nggak salah, apalagi diajak nikah aja susahnya minta ampun." Timpal Alderio tidak mau kalah.


"Segala mau batalin nikah lagi, untung aku nggak kelewat batas waktu di hotel." Lanjut Alderio makin mengingatkan.


Alara merengut sebal, ia menarik-narik tangan suaminya yang terus saja memojokkan nya.


"Ya gimana aku nggak mau batalin, kamu aja pemaksaan ngajaknya." Sahut Alara sewot.


Seperti biasa, wanita tidak pernah bersalah. Yang bicara masa lalu duluan siapa, dan yang berakhir marah siapa.


Alderio menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya, ia takup wajah cantik Alara lalu menyatukan bibir mereka.


Alderio mencium bibir istrinya tanpa mau tahu jika art di rumahnya melihat, sudah gemas sekali dengan istrinya yang tidak mau kalah.


Alara melotot saat mendengar langkah kaki menuju lantai atas, ia buru-buru mendorong dada bidang suaminya. Jangan sampai ada yang melihat aksi suaminya ini.


"Ara, gue panggil dari tadi nggak nyaut ternyata masih disini." Ucap Reina yang entah datang kapan.


"Hehe, iya nih. Abis bantu suami gue siap-siap," sahut Alara terkekeh.


"Kak Al belum berangkat, tadi mas Bima kesini kirain kak Al udah berangkat." Ucap Reina pada suami sahabatnya sekaligus kakak iparnya.


"Saya mau sarapan dulu, mungkin Bima mau bicara sesuatu dengan papa, makanya datang lebih awal." Jelas Alderio manggut-manggut.


Alderio turun duluan menuju meja makan untuk sarapan, meninggalkan istrinya yang sedang turun bersama dengan Reina.


"Gimana, lo masih mual?" tanya Alara seraya menuruni anak tangga.


"Ya gitu deh, dokter bilang 3 bulan pertama emang gitu." Jawab Reina dibalas anggukan kecil oleh Alara.


"Iya emang gitu, yang penting dijaga pola makan nya, dan suami lo harus siaga kalo lo lagi ngidam." Tukas Alara memberitahu sesuai pengalamannya.


Reina mengangguk paham, ia memutuskan untuk menunggu Alara di ruang tamu, sementara wanita itu melayani suaminya sarapan.


Reina memang sering datang ke rumah Alara untuk menghabiskan waktu, dan nanti dijemput suaminya, kebetulan rumah mereka juga tidak jauh, masih satu perumahan namun beda blok.


"Mas, minumnya mau apa?" tanya Alara seraya melangkah mendekati suaminya.


"Buatin jus buah untuk aku bawa ke kantor, Sayang." Jawab Alderio seraya menyantap nasi goreng buatan Alara.


Alara membuatkan jus jeruk untuk suaminya bawa, kemudian memasukkannya ke dalam botol minum.


"Awas aja hilang." Ancam Alara menunjuk botol minum bermerek taperwer.


Alderio bergidik, ia ingat terakhir kali menghilangkan nya dan membuat Alara murka sampai enggan bicara dengannya.


Jangan sampai ia mengulangi kesalahan lagi, bisa-bisa kepalanya dipenggal istrinya.


"Iya, Sayang. Nggak akan lupa lagi kok," balas Alderio lalu menenggak air putih hingga tandas.


Alderio selesai sarapan, ia bangkit dari duduknya lalu mencium kening sang istri.


"Aku berangkat ya, baik-baik dirumah ya, Ma." Tutur Alderio mesra.


Alara mengangguk, ia mengantar suaminya sampai ke depan rumah, dan menunggu sampai mobil Al benar-benar menghilang dari pandangannya.


Alara pun segera masuk ke dalam rumah dan berbincang bersama Reina sambil menunggu putranya bangun nanti.


SENGAJA AKU PERCEPAT ALURNYA KARENA MEMANG SUDAH WAKTUNYA TAMAT, INI BENTAR LAGI END DAN DIGANTIKAN CERITA BARU YA GUYS🤗


To be Continued