My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Liburan keluarga



Mama Mira mengajak seluruh keluarga termasuk orang tua Alara untuk liburan ke kota Bandung, selain untuk bersenang-senang, tentu hal itu untuk merayakan kelulusan Alara dengan nilai yang cukup memuaskan semua orang.


Renata tentunya ikut, dan hal itulah yang membuat Alderio enggan ikut dalam mobil adiknya, ia lebih memilih untuk membawa mobil sendiri dengan penumpang hanya istrinya saja.


"Oh, jadi itu alasan kamu nggak mau satu mobil sama Mika?" tanya Alara seraya menyuapi suaminya puding buatannya sendiri.


"Iyalah, Sayang. Aku nggak mau nantinya dia gangguin kamu dengan kata-kata yang aneh dan nggak berguna." Jawab Al tanpa menoleh ke arah istrinya.


"Hmm, padahal nggak apa-apa, Mas. Kan istri kamu ini jago debat, dia selalu kalah kok kalo aku lawan." Timpal Alara terkikik.


Alderio ikut terkekeh, ia mengacak rambut istrinya sebentar lalu kembali fokus pada jalanan rata nan lurus dihadapannya. Jalanan yang sering terjadi kecelakaan, apalagi jika bukan jalan tol, maka dari itu Alderio harus fokus menyetir mobil agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Mas, beberapa hari ini aku merasa perut aku kok suka kenceng ya. Padahal baru jalan lima bulan," ucap Alara mengusap perutnya sendiri.


Alderio ikut mengusap perut istrinya, namun tidak mengalihkan pandangannya sama sekali.


"Nanti kita tanya sama dokter 'ya. Kita cari dokter sekitar aja, nggak mungkin kalo nunggu sampai kita balik." Tutur Al dibalas senyuman oleh Alara.


"Yaudah, kamu tidur aja. Perjalanan masih lumayan jauh," lanjut Al.


Alara menggelengkan kepalanya. "Nggak mau, aku mau temenin kamu nyetir aja, Mas. Nanti kamu bosan kalo nggak ada temennya." Tolak Alara.


Alderio menghela nafas, ia mengangguk kecil sebagai balasan atas ucapan istrinya tadi. Biarlah istrinya itu tidak tidur, toh jika dia mengantuk, maka wanita hamil itu akan tertidur.


"Mas, kenapa sih orang-orang kalo bawa mobil dijalan tol kenceng?" tanya Alara kepo.


"Mama Ara bosan ya, kok tumben pertanyaannya aneh-aneh." Bukannya menjawab, Alderio malah balik bertanya.


"Nggak bosan sih, Mas. Cuma bingung aja mau bahas apa biar kita nggak saling diam." Jelas Alara tertawa kecil.


"Bahas apa ya?" Alderio ikut berpikir topik apa yang akan ia bicarakan dengan istrinya.


"Mas, aku boleh kerja nggak?" tanya Alara tiba-tiba.


"Kerja? Kenapa memangnya?" tanya Alderio balik.


"Ya nggak apa-apa, cuma tanya aja boleh apa nggak." Jawab Alara tanpa alasan.


"Nggak boleh, aku masih mampu buat biayain kamu sama anak kita. Aku nggak akan izinkan istriku kelelahan untuk mencari uang." Ucap Alderio dengan tegas.


Alara menghela nafas. "Iya, Mas. Lagian aku kan cuma tanya, bukan benar-benar ingin bekerja." Celetuk Alara tersenyum lebar.


"Kamu cukup jadi asisten pribadiku versi VIP dan jalur halal, nggak usah kerja yang lain." Timpal Alderio sontak membuat mereka berdua tertawa.


Alara dan Alderio keluar bersama, pria itu langsung merengkuh pinggang istrinya dan tak lupa mengusapnya dengan lembut.


"Mas, nggak enak sama yang lain." Tegur Alara berusaha melepaskan rangkulan suaminya.


"Sssttt … nggak apa-apa." Balas Al memilih cuek pada yang lain.


"Alara, kamu mual nggak Sayang?" tanya Mama Mira dengan lembut.


Alara tersenyum hangat lalu menggelengkan kepalanya. "Nggak kok, Ma." Jawab Alara.


"Al, lebih baik ajak Alara istirahat. Kasihan pasti dia lelah, tapi bilangnya tidak." Tutur Papa Aden menepuk bahu putranya.


"Nggak kok, Pa. Aku nggak lelah," sahut Alara dengan cepat.


"Ara, istirahat sana. Kami tahu bahwa kamu lelah," tutur Mama Dania menimpali.


Alara menghela nafas, ia akhirnya mengangguk dan menurut saja saat Al membawanya masuk ke dalam vila disusul yang lain.


Mika dan Bima terlihat sama-sama kesal, kenapa hanya Alara yang diperhatikan oleh Mama Mira sementara Mika juga sedang hamil, bahkan hamil besar.


"Mas, kok Mama kamu gitu sih!" ucap Mika dengan sewot.


"Aku nggak tahu, lebih baik kita masuk sekarang dan istirahat." Ajak Bima menarik tangan istrinya masuk ke dalam vila.


Renata masih berdiri ditempatnya, ia juga merasa kesal melihat mama Mira begitu perhatian pada Alara, terlebih lagi Al yang sangat menyayangi Alara.


"Al, aku akan membuatmu menjadi milikku disini!" gumam Renata dengan sungguh-sungguh.


Renata segera masuk menyusul yang lainnya, ketika melewati kamar yang Alderio dan Alara tempati, tanpa sengaja telinganya mendengar sesuatu.


"Aduhhh … Mas, pelan-pelan. Baru juga datang udah ajak ahhh …"


Telinga Renata terasa panas mendengar suara itu, apakah benar bahwa mereka sedang berhubungan 'itu' padahal mereka semua baru saja datang. Secinta itukah Alderio pada istrinya, jika iya maka hasrat ingin merebut pria itu semakin besar. 


MAAF YA KARENA JARANG UPDATE, BIASA KALO HABIS HARI RAYA ADA AJA TUJUANNYA, MESKIPUN AKU INI KAGAK PUNYA KAMPUNG 😭😭


Bismillah tahun depan ke rumah mertua ya😂✌️


To be continued