My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Bertemu Mama Mira



Alara pergi ke supermarket untuk membeli perlengkapan rumah dan kebutuhan pangan lainnya. Ia pergi seorang diri, namun nanti Al akan menyusul setelah kembali dari kampus.


Alara mengambil susu hamil, perlengkapan kamar mandi seperti sabun, pengharum pakaian dan juga refil untuk menyetrika baju.


Saat melewati tempat buah-buahan, Alara tiba-tiba ingin makan mangga yang terlihat besar-besar disana.


"Dedek mau makan mangga 'ya?" celetuk Arsha seraya mengusap perut buncitnya.


Alara mengambil plastik lalu memasukkan beberapa buah mangga ke dalamnya.


Alara lanjut berbelanja sayur-sayuran, telur, daging dan ikan. Ia mengambil yang biasa dibeli bersama suaminya.


"Hari ini masak udang saus asam manis enak kayanya." Gumam Alara melihat-lihat udang yang tergeletak tak bernyawa di sana.


Alara membeli udang serta bumbu yang dibutuhkan, kemudian memasukkan nya ke dalam troli.


Saat hendak memilih sayuran yang lain, tiba-tiba ponsel Alara berdering yang menandakan bahwa ada panggilan dari seseorang.


"Iya, Mas?" ucap Alara saat melihat id penelepon adalah suaminya.


"Kamu dimana, Sayang. Aku sudah sampai di lobby?" tanya Alderio dari seberang telepon.


"Di tempat sayur dan buah, Mas. Aku juga sudah selesai belanjanya, kamu bisa masuk?" jawab Alara diakhiri pertanyaan lagi.


"Iya, tunggu sebentar ya." Balas Al kemudian menutup teleponnya.


Tidak butuh waktu yang lama, Alderio datang menghampiri istrinya yang melihat-lihat sayuran, namun tak kunjung mengambilnya.


"Sayang." Alderio memeluk dan mencium kening istrinya tanpa kenal tempat.


"Mas, tempat umum!" tegur Alara buru-buru melepaskan pelukan suaminya.


"Kenapa memangnya jika tempat umum, toh kita disini bayar." Sahut Alderio cuek saja.


Alara berdecak, susah memang jika bicara dengan suaminya yang cuek dan dingin. Karena tidak mau berdebat, Alara akhirnya langsung menyeret tangan suaminya untuk membayar semua belanjaannya.


Alara meletakkan belanjaannya di meja kasir satu persatu dibantu Alderio juga, sementara kasir bertugas untuk menghitung total belanja nya.


"3 juta 8 ratus ribu, Bu." Ucap kasir tersebut.


Alara memberikan kartu kredit pemberian suaminya kepada sang kasir sebagai alat untuk membayar belanjaannya.


Setelah selesai digesek, Alara dan Alderio pun memutuskan untuk langsung pulang.


"Sini Sayang, aku yang dorong." Ucap Alderio mengambil alih mendorong troli belanjanya.


Alara dan Alderio bergegas ke pintu keluar, namun tepat sekali saat hampir sampai di luar, mereka berpapasan dengan Mama Mira dan Bima yang sepertinya ingin berbelanja.


"Alara, Alderio. Kalian disini?" Tanya Mama Mira dengan senyuman di wajahnya.


Alderio memegang tangan istrinya yang pasti ingin menyalami tangan sang Mama, ia menatap Alara yang menatapnya bingung seraya menggelengkan kepalanya.


"Mas, aku mau cium tangan Mama." Bisik Alara pelan.


Alderio tidak membalas, ia menatap sang Mama dengan sopan, namun tidak seperti biasanya, sementara ia menatap Bima dengan sinis. Ia tidak suka Bima menatap istrinya dengan begitu tajam.


"Kau, wanita jahat yang sudah membuat istriku sakit dan kehilangan anaknya." Tekan Bima dengan sorot mata tajam.


"Itu bukan salahku, aku tidak pernah melakukan hal yang kalian tuduhkan." Sahut Alara geleng-geleng kepala.


"Kau bisa membuktikannya, apa kau bisa?" tanya Bima mencecar.


"Aku–" ucapan Alara terhenti saat Alderio menarik tangan nya dan menyuruhnya berdiri dibelakang pria itu.


"Lalu kau sendiri bagaimana, apakah kau punya bukti atas tuduhan yang terlontar untuk istriku?" tanya Alderio balik dengan suara yang datar.


"Bima, Al. Hentikan ini semua, tidak enak dilihat orang," ucap Mama Mira berusaha menengahi perdebatan kedua putranya.


Alderio beralih menatap Mama Mira.


"Anda katakan itu kepada putra anda, Nyonya. Saya tidak akan tinggal diam jika dia terus menuduh istri saya." Sahut Alderio dengan formal.


Mama Mira tersentak, ia terkejut mendengar ucapan putranya yang sudah seperti orang lain padanya. 


"Al, ini Mama, Nak. Kenapa bicara begitu?" tanya Mama Mira sedih.


"Maaf, tapi kami permisi." Pamit Alderio seraya menarik tangan istrinya pergi.


Alara menatap ibu mertuanya dengan iba, ia tidak tega melihat wajah sedih Mama Mira yang pasti terkejut dengan sikap Alderio.


"Mama." Panggil Alara pelan.


Alara beralih menatap suaminya yang terlihat menahan kekesalan, ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Disatu sisi ada suaminya yang begitu percaya dan membelanya, sementara di sisi lain ada mertuanya.


"Mas, kamu nggak boleh gitu sama mama." Tegur Alara lembut.


"Sayang, aku tidak ingin mengucapkan nada tinggi sama kamu, kita pulang 'ya." Sahut Alderio langsung tancap gas meninggalkan area supermarket.


Alara akhirnya memilih bungkam, ia tidak mau semakin membuat suaminya marah dan berakhir pertengkaran, ia hanya berdoa semoga masalah ini cepat selesai dan mereka kembali berkumpul bersama.


MAAF YA JARANG UPDATE 😭😭


Btw, hari ini aku ulang tahun. Barangkali ada yang mau doain, hihihi ✌️🙈


To be continued