My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Kesendirian



Alderio kembali dari kantor dan langsung pergi ke hotel tempat yang akan menjadi pesta ulang tahun perusahaan diadakan. Ia juga sebelumnya sudah memberitahu istrinya bahwa ia akan pergi ke sana menemui Bima.


Alderio sampai di hotel, ia ternyata sudah ditunggu oleh Bima yang berdiri seperti penjaga di depan lobby hotel.


"Menggantikan satpam?" tanya Alderio bergurau.


"Jangan bercanda, Kak." Jawab Bima ikut tertawa.


Mereka berdua masuk bersama, pergi ke ruangan yang akan menjadi tempat pesta diadakan. Terlihat sudah ada orang-orang yang sibuk mengatur dekorasi pestanya.


"Karena warna logo perusahaan Haiyan kuning keemasan, ada baiknya panggung dihias balon berwana gold dan sedikit campuran merah." Ucap Alderio mengeluarkan pendapat.


"Gold dan merah, hmm bukan warna yang buruk." Sahut Bima memberi tanggapan.


"Panggil kepala yang menangani acara ini." Ucap Alderio meminta.


Bima pun memanggil seorang wanita yang merupakan pengurus pesta yang akan diadakan sebentar lagi.


Kening Alderio mengerut saat melihat siapa yang menangani acara keluarganya.


"Pak Alderio." Ucap wanita itu lalu menyalami tangan Alderio.


"Reina, kau bekerja sebagai perancang pesta, sejak kapan?" tanya Alderio.


Wanita itu adalah Reina, sahabat Alara sekaligus mahasiswanya dulu.


"Baru saja, Pak. Sambil menunggu panggilan dari perusahaan lain, sulit sekali mencari pekerjaan jaman sekarang, Pak." Jawab Reina menghela nafas.


Bima yang memperhatikan lantas bingung, apakah kakaknya itu mengenal wanita yang menangani pesta perusahaannya.


"Kalian saling kenal?" Tanya Bima membuka suaranya.


Alderio menatap adiknya kemudian mengangguk.


"Ya, Bim. Dia Reina, mahasiswa ku, sekaligus sahabat Alara." Jawab Alderio memperkenalkan.


Reina mengerutkan keningnya. Bim? Apakah maksudnya Bima, adik ipar Alara yang katanya tidak akur dengan Alderio, lalu mengapa sekarang mereka terlihat baik-baik saja.


"Oh begitu, perkenalkan. Saya Bima, adiknya Alderio." Ucap Bima mengulurkan tangannya.


Reina tersenyum canggung, ia masih sangat ingat cerita Alara tentang pria di hadapannya ini.


"Reina." Balas Reina pelan.


"Kenapa nggak main ke rumah, Alara pasti senang jika kau main." Ucap Alderio memecah keheningan.


"Ya, begitulah. Tapi setidaknya kau sedang membangun karir, jadi semangat lah." Ucap Alderio kemudian pergi untuk melihat yang lain.


Bima juga menyusul Alderio, meninggalkan Reina yang tampak sedang berperang dengan pikirannya sendiri.


"Apa mereka sudah akur, ya bagus dong. Ck, ini gara-gara nggak ketemu Alara, jadi nggak tau apa-apa." Gumam Reina memukuli kepalanya sendiri.


Sore harinya Alderio sampai di apartemennya setelah melihat persiapan pesta di hotel, ia disambut hangat oleh istri tercintanya yang sangat cantik itu.


"Minum dulu, Mas." Tutur Alara memberikan segelas jus kepada suaminya.


"Makasih, Sayang." Ucap Alderio menerima jus buatan istrinya dan segera menenggaknya.


"Oh iya, tadi aku ketemu Reina. Dia jadi perancang pesta ulang tahun perusahaan." Alderio meletakkan gelas jusnya di meja.


"Hah? Perancang pesta, bagaimana bisa aku tidak mengetahuinya." Sahut Alara terkejut.


"Dia katanya baru kerja disana, Sayang. Mungkin karena sibuk makanya belum bisa kasih kabar ke kamu," ucap Alderio mengusap lengan istrinya.


Alara menghela nafas lalu mengangguk. Mungkin yang suaminya katakan memang benar, bahwa Reina belum sempat memberitahunya.


"Yaudah, Mas. Kamu mandi gih, aku siapin makan untuk kamu." Tutur Alara lembut.


Alderio mengangguk nurut, ia beranjak dari duduknya kemudian pergi ke kamar untuk mandi dan mengganti pakaiannya.


Sementara Alara langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan suaminya.


Di sisi lain, Bima juga baru sampai di rumah setelah seharian bekerja, lebih tepatnya melihat persiapan pesta dengan sang kakak.


Ia membuka ikatan dasi miliknya kemudian melemparnya asal ke arah sofa. Tidak lupa ia juga membuka dia kancing bagian atas dan kancing di kedua lengannya.


Bima menghela nafas, sejak Mika tidak ada, ia harus bisa melakukan segalanya sendiri.


"Sayang, aku masih belum bisa melupakan kamu." Gumam Bima, menatap foto istrinya yang ada disana.


Bima segera masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih, ia tidak tahu bagaimana kelanjutan hidupnya. Apakah ia akan terus sendiri dengan status duda, atau mencari pasangan baru menerima statusnya dan akan selalu ada bersamanya.


Bima belum memikrikan itu semua, ia masih ingin mengingat masa-masa bersama Mika, apalagi ia belum sepenuhnya mengikhlaskan kepergian istrinya, dan tidak adil bagi wanita yang akan bersamanya jika ia terus saya memikirkan masa lalu.


SABAR YA MAS BIMA, AKU ATUR JODOHMU DULU🤣


To be continued