
Saat ini Bima sedang bersama Reina, duduk berdua di sebuah kafe yang ada di hotel tempat mereka mengadakan pertunangan.
Reina menatap sengit tunangannya.
“Jadi gimana ceritanya anda jadi tunangan saya, Pak?” tanya Reina seraya menyesap kopi yang dipesankan oleh Bima.
Bima tersenyum, ia mengusap kepala Reina dengan sayang.
“Saya akan jawab, tapi yang pertama jangan panggil saya bapak terus, bisa ‘kan?” tanya Bima dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.
Reina tersipu, ia jadi malu sendiri memikirkan panggilan yang cocok untuk Bima. Rasa-rasanya Reina masih malu jika harus memanggil Bima dengan panggilan mesra.
“Jadi harus panggil apa?” tanya Reina malu-malu.
“Yakin mau tanya saya, kalo saya sih banyak permintaanya.” Jawab Bima dengan jahil.
Reina berdecak sebal, ia menekuk wajahnya dengan tatapan mata yang tetap tajam ke arah Bima.
“Ceritakan dulu, sambil saya memikirkan panggilan yang cocok untuk anda.” Pinta Reina memelas.
“Janji akan pikirkan dan tidak akan panggil ‘pak’ lagi?” tanya Bima membuat perjanjian abstrak.
“Janji, Sayang.” Jawab Reina spontan.
Reina sontak menutup mulutnya sendiri saat sadar mulutnya telah salah bicara, bukan salah hanya saja Reina masih malu. Ia reflek memukul kepalanya sendiri.
Bima gemas, kenapa juga kemarin mereka tidak langsung menikah, kan Bima bisa memeluk dan mencium gadis di depannya ini.
“Saya juga mau jika dipanggil seperti tadi.” Celetuk Bima tertawa kecil.
Reina makin tersipu malu, bisa-bisanya mulutnya ini sangat licin dan main nyerocos saja.
“Pak, udah deh cerita dulu. Bahas masalah panggilan nanti aja,” pinta Reina yang sudah sangat panas wajahnya.
Bima tersenyum, ia menganggukkan kepalanya dan setuju untuk cerita masalah prank yang dilakukan seluruh keluarganya.
Hari itu Bima benar-benar mendatangi rumah Reina bersama Alara dan juga Alderio, ia tidak mau jika Reina dimiliki pria lain. Hatinya sudah melekat dihati Reina, jangan sampai karena rasa gengsinya ia sampai kehilangan reina selamanya.
Saat Bima sampai dirumah Reina, ia melihat kedua orang tua Reina sedang berbincang dengan pria yang mungkin calon tunangan Reina.
“Alara, kamu disini?” tanya Mama Lila saat melihat ada Alara di rumahnya, bahkan bersama suami dan adik iparnya.
“Tante, sebelumnya maaf jika datang tiba-tiba,aku kesini mau ketemu Reina.” Jawab Alara pelan.
Mama Lila tampak tidak suka melihat ada Bima juga di sana, ia masih berpikiran bahwa penyebab putrinya berani berbohong adalah Bima.
“Tante, saya mohon biarkan saya bicara dengan Reina.” Pinta Bima memohon.
“Nggak bisa, lagipula Reina sebentar lagi akan menikah!” tolak Mama Lila dengan tegas.
“Tante, sekali aja boleh ya?” tawar Alara memohon.
Sementara Alderio hanya diam saja, ia tidak punya urusan dengan keluarga Reina, ia datang hanya untuk mengantar istri dan juga adiknya, mungkin.
“Tante, saya mencintai putri tante dan saya tulus dengan perasaan saya.” Ucap Bima dengan jujur.
Ingin mengutarakan perasaan nya kepada Reina, malah tante Lila yang dengar. Bima benar-benar sial, bukan Reina yang pertama mengetahui perasaannya.
“Terus kenapa kalo kamu cinta sama anak saya?” tanya Mama Lila menaikkan kedua alisnya.
Bima bergidik, ternyata dibalik sifat Reina yang manis dan lucu, ada Mama yang galak dan cukup menakutkan.
“Ya jadinya saya mau nikah sama Reina, Tante.” Jawab Bima dengan cepat.
Bima sudah pasrah, menghindar pun pasti akan percuma. Mata Bima sudah terpejam, namun sudah beberapa saat, ia tak kunjung merasakan tamparan apalagi pukulan.
“Kau ngapain tutup mata?” tanya Alderio menyenggol bahu adiknya.
“Takut ditampar, Kak.” Jawab Bima membuat suara. tawa terdengar di telinganya.
Bima perlahan membuka matanya. Ia mengerutkan keningnya saat melihat Alara, Alderio dan juga Mama Lila tertawa begitu lepas.
“Kenapa kalian tertawa?” tanya Bima dengan wajah yang tampak seperti orang bodoh.
“Bagaimana tidak tertawa, kau saja mudah dibodohi.” Jawab Alderio memukul kepala adiknya pelan.
“Kakak!!!” tegur Bima tidak terima.
“Dengar ya, Bim. Kita semua mengerjai kamu dan Reina tau,” jelas Alara setelah menghentikan tawanya.
Bima makin bingung dengan ucapan kakak iparnya, maksudnya apa semua ini.
“Kak, bicara yang jelas.” Pinta Bima memelas.
“Sebenarnya Reina itu tidak akan dinikahkan dengan orang lain, aku dan Alara memberitahu tante Lila dan dia bilang tidak mau menerimamu jika dia tidak mendengar secara langsung ungkapan hatimu.” Jelas Al cukup panjang.
“Sudah mengerti?” tanya Alara masih diselingi tawa.
“Lalu pria itu?” tanya Bima menunjuk pria yang tadi sedang bicara dengan Mama Lila, yang sebelumnya dikira Bima adalah tunangan Reina.
“Dia itu kurir paket Tante.” Jawab Mama Lila.
Bima melongo, kurir paket? tapi tampangnya tidak ada seperti kurir sama sekali, bahkan memakai jas yang rapi.
“Aku yang memintanya berpura-pura menjadi tunangan Reina, dan pakaian itu juga sengaja aku belikan agar penampilannya menyakinkan.” Jelas Alderio yang paham dengan tatapan bingung adiknya.
“Tante, jadi saya boleh bertemu Reina kan?” tanya Bima tidak sabar.
“Nanti, dia saja belum mengungkapkan perasaannya sama kamu. Tante juga mau dengar dari Reina, apakah dia mencintai kamu atau tidak.” Jawab Mama Lila.
“Iya, Kak Bim. Jadi sekarang kau juga ikut andil untuk mengerjai Reina.” Tambah Alara menjelaskan.
Bima sebenarnya tidak tega, namun benar kata Mama Lila bahwa mereka juga butuh pengakuan cinta dari Reina agar meyakinkan bahwa Reina juga mencintai Bima.
“Dan itulah alasan kenapa ponsel kamu disita, kamu nggak boleh keluar apalagi bertemu dengan tunanganmu.” Ucap Bima setelah mengakhiri ceritanya.
“Astaga, kalian benar-benar setega itu padaku?’ tanya Reina tidak menyangka.
Bima mengacak rambut Reina. “Makanya kalo punya perasaan itu ungkapin, jangan dipendam.” Celetuk Bima meledek.
“Heh, nggak sadar diri ya anda, Pak!” tegur Reina tidak terima.
“Lah, kalo saya kan abis sadar langsung lari ke rumah kamu, nggak pake acara dipendam dulu.” Timpal Bima tidak mau kalah.
Reina tidak bicara lagi, ia melipat tangan di dada karena merasa telah kalah dari Bima. Ucapan Bima benar semua!
“Karena saya sudah cerita, sekarang giliran kamu yang pikirkan panggilan manis untuk saya.” Ucap Bima pelan, bahkan terkesan berbisik.
YUK BANTU MBAK REINA PILIH PANGGILAN YANG COCOK, KOMEN YA🤗🤗
To be continued
Note. Tulisan bercetak miring adakah flashback