My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Histeris



Pemakaman Mika berjalan lancar meski ditemani dengan rintikan hujan. Tanah merah yang kini sudah menutup jasad Mika sesuai syariat agama yang dianutnya.


Diatas pusara yang basah, terlihat seorang pria menangis sambil memeluk nisan bertuliskan nama Mikayla Safrina. Pria yang sangat mencintai istrinya kini harus mengikhlaskan kepergian wanita yang teramat dicintainya itu.


"Sayang …" Suara Bima terdengar begitu lirih, tangannya tidak henti mengusap batu nisan istrinya.


Alara menangis, tangannya gemetar tak kuasa melihat adik dari suaminya yang begitu terpukul. Tangan yang menggenggam gagang payung ikut bergetar, membuat suaminya menoleh.


"Sayang, sstttt …" Alderio memeluk istrinya, ia paham sekali Alara butuh pelukannya.


"Hiks … aku nggak kuat, Mas." Lirih Alara menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


Alderio mengusap kepala lalu turun ke punggung istrinya. "Aku tahu, tetapi ini sudah takdirnya." Balas Al berusaha tenang meski sejujurnya ia juga sedih.


Alderio melepaskan pelukannya, ia mengusap air mata istrinya lalu beralih menatap adiknya.


Al berjongkok disebelah Bima, ia menepuk pundak adiknya pelan.


"Kau harus ikhlas, kasihan istrimu jika kau begini." Ucap Alderio pelan.


Bima menoleh, ia menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban bahwa ia tidak bisa ikhlas.


"Aku tidak bisa, Kak. Hiks … Mika adalah hidupku," lirih Bima menggenggam tanah merah yang menjadi penutup istrinya.


Alderio menghela nafas, ia mengajak Bima untuk berdiri, namun Bima menahan tubuhnya, enggan meninggalkan pusara istrinya.


"Tidak, Kak. Aku tidak bisa meninggalkan Mika sendiri, dia takut sendirian." Tolak Bima histeris.


Mama Mira tidak kalah histeris, ia mendekati putra bungsunya lalu memeluknya erat, berusaha menenangkan putranya.


"Bim, Mama tahu kamu kuat. Ikhlaskan Mika, Nak!" tutur Mama Mira lembut.


"Tidak, Ma. Aku tidak bisa, Mika hidupku!" sahut Bima melepaskan pelukan ibunya.


"Tetapi sekarang istrimu sudah tenang disana, Bim. Kau harus ikhlas," bisik Papa Aden.


Bima tidak menjawab lagi, namun air matanya terus mengalir ke seluruh wajahnya. Dadanya bergemuruh, ia telah kehilangan istrinya dalam sekejap mata.


"Kak, dimana pelakunya?" tanya Bima pelan, namun tegas.


Sementara itu ditempat lain, seorang wanita sedang diintrogasi oleh pihak kepolisan. Dua hari pencarian akhirnya Renata ditemukan saat hendak melarikan diri ke Surabaya.


"Apa alasan anda melakukan aksi tabrak lari itu?" tanya polisi.


Renata tidak menjawab, wanita itu malah tersenyum simpul dengan tatapan mata kosong bagai orang gila.


"Saya tanyakan sekali lagi, apa alasan anda melakukan tindakan seperti itu?" tanya polisi lagi.


"Karena saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan, semua orang tidak ada yang mendukung keinginan saya." Jawab Rwnaha berteriak.


"JAGA SIKAP ANDA, NONA!!!" bentak polisi yang tidak terna dengan bentakan Renata.


Renata akhirnya diam, ia menundukkan kepalanya tidak berani menatap polisi dihadapannya.


"Hubungi pak Alderio." Ucap polisi tersebut kepada asisten nya.


***


Alderio bersama istrinya pergi ke kantor polisi untuk memenuhi panggilan dari kepolisian yang meminta untuk menjadi saksi mata, terutama Alderio yang juga melihat wajah si pelaku tabrak lari.


Kini mereka telah sampai, mereka langsung masuk dan menemui kepala kepolisian yang memanggil mereka.


"Dimana wanita itu, Pak?" tanya Alara setelah polisi dan suaminya selesai bicara.


"Bawa dia." Perintah nya.


"Silahkan ikuti dia untuk menemui nona Renata." Tambah polisi tersebut menginstruksi.


Alara dan Alderio bangkit dari duduknya untuk menemui Renata aka pelaku yang menabrak Mika, adik kandungnya sendiri.


Mereka sampai di depan sel yang hanya diisi oleh seorang wanita yang tengah memeluk lututnya sambil menunduk. Tubuh wanita itu terlihat gemetar, pasti alasannya karena menangis.


"Renata." Panggil Alara pelan.


Wanita bernama Renata itu mendongak, ia menatap Alara dengan tajam dan penuh kebencian.


"Kau, mau apa disini?" tanya Renata tidak suka.


"Bu, bisa buka sel nya?" tanya Alara sopan.


Polisi wanita itu segera membuka sel Renata, segera Alara dan Alderio masuk untuk lebih bisa bicara dengan Renata.


Renata bangkit dari duduknya, ia kini berhadapan langsung dengan Alara yang juga menatapnya tajam.


Plakkkk


Tamparan keras mendarat di pipi Renata, bahkan saking kerasnya tamparan sampai membuat tubuh Renata terhuyung.


"APA-APAAN KAU HAH?!!" bentak Renata kembali berdiri.


"Kau bertanya aku kenapa, apa kau tidak menyadari perbuatanmu?" tanya Alara meninggi.


Renata hanya diam tidak menjawab.


"Kau pembunuh, Renata. Kau telah membunuh adikmu sendiri dengan tragis!!" lanjut Alara berteriak.


"Sayang!" tegur Alderio, ia bukan marah, melainkan khawatir dengan kondisi istrinya yang sedang hamil besar.


Sementara tubuh Renata bak terkena semen, kaku dan tidak bergerak. Wanita itu menatap Alara dengan mata berkaca-kaca dan penuh rasa terkejut.


"M-mika, adikku tiada katamu?" tanya Renata terbata.


"Kenapa? Kau terkejut atau kau menyesalinya?" tanya Alara tersenyum meremehkan.


Renata tiba-tiba mencengkram kedua bahu Alara, hal itu sontak membuat Alderio terkejut dan langsung mendorong wanita itu sampai terjatuh.


"Perempuan gila!" umpat Alderio keras.


"Katakan dimana adikku, dimana dia??" tanya Renata memaksa.


"Sudah tiada ada gunanya kau menanyakan keberadaan Mika, dia sudah tenang dan tidak menderita lagi." Jawab Alara.


"Selama ini kau sudah memperbudak dia, menjadikannya sebagai pesuruh semua aksi jahatmu. Kau benar-benar iblis Renata, kau bukan kakak!!" lanjut Alara semakin dilanda emosi.


Renata menggeleng dengan air mata yang mulai jatuh membasahi wajahnya, ia berjalan mundur sambil menjambak rambutnya sendiri.


Mika tiada? Adiknya tiada dan itu karena dirinya??


"MIKA, MIKA TIDAK MUNGKIN TIADA!!!" Renata berteriak dengan begitu keras, bahkan terkesan tidak waras.


Alderio sigap menarik tangan istrinya keluar dari dalam sel, dan membiarkan polisi yang menjalankan tugasnya.


To be continued