
Reina sudah diperbolehkan untuk pulang hari ini, dan sesuai rencana ia akan pulang ke rumah keluarga Haiyan sampai kondisinya sudah benar-benar pulih.
Administrasi dibantu urus oleh Alara dan Alderio, sementara Bima membantu membereskan barang-barang gadis itu.
"Sudah, sekarang kita bisa pulang, tapi tunggu kak Alara kesini." Ucap Bima membanting pelan tas berisi barang Reina.
Barang itu tidak terlalu banyak, hanya satu setel pakaian Reina yang kemarin, sementara baju yang dipakai gadis itu sekarang adalah baju pemberian Alara.
"Pak, saya sangat merepotkan 'ya?" tanya Reina pelan.
Bima menatap gadis di hadapannya dengan lembut, bibirnya menyunggingkan senyum manis mendengar ucapan Reina.
"Tidak, justru saya yang merepotkan kamu, bahkan sampai membuat kondisi kamu begini." Jawab Bima lembut.
Bima menarik kursi yang ada disana lalu duduk, berhadapan dengan Reina secara langsung, dan entah sadar atau tidak, Bima menggenggam tangan gadis itu.
"Jangan pernah berpikir bahwa kamu merepotkan saya dan keluarga saya, karena sejujurnya saya lah yang sudah membuat kamu repot, dan jika bukan karena kamu, mungkin saja sudah tiada semalam." Jelas Bima.
Mata Bima menatap dalam manik mempesona milik Reina, ia bahkan mengusap punggung tangan gadis itu dengan lembut.
Reina sama terpaku nya dengan Bima, ia terpana akan ketampanan yang dimiliki oleh Bima dan juga tutur kata lembut yang membuatnya merasa sangat dihormati.
Keduanya tersadar saat mendengar pintu yang terbuka. Bima melepaskan genggaman tangannya, lalu bangkit dari duduknya.
Alara dan Alderio masuk, mereka sama-sama mengerutkan kening saat melihat keanehan diantara dua orang itu.
Alara dan Alderio saling melirik, mereka mengangkat bahu masing-masing, tanda bahwa mereka tidak tahu alasannya.
"Administrasi sudah kami urus, sekarang kita bisa membawa Reina pulang." Ucap Alderio menjelaskan.
"Ahh i-iya baiklah, ayo kita pulang!" sahut Bima dengan cepat.
Alara memegang tas barang Reina. Ia lalu menatap adik iparnya lalu menepuk jidatnya sendiri.
"Kak Bima, aku lupa meminta suster membawa kursi rodanya, jadi bisakah kau menggendong Reina?" tanya Alara pelan.
"Iya, Bim. Tolong Reina di gendong, ia tidak bisa berjalan." Sahut Alderio.
Bima menelan gumpalan salivanya, ia melirik ke arah Reina yang juga sedang meliriknya dengan takut-takut.
Bima menghela nafas, ia mengangukkan kepalanya dan setuju jika harus menggendong gadis yang sudah menolongnya itu.
Bima melangkah mendekati Reina, ia tersenyum simpul lalu menggendong gadis itu ala bridal style.
Reina mengalungkan tangannya di leher Bima karena takut terjatuh, ia bahkan tanpa sadar menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bima.
"Ayo!" ajak Bima keluar duluan dari ruang rawat Reina.
Alara dan Alderio segera menyusul, mereka berjalan di belakang pasangan itu dan membiarkan Bima berada di depan.
Selama perjalanan, tidak henti decak kagum dan pujian untuk Bima yang dinilai begitu mencintai istrinya.
"P-pak, semua orang membicarakan kita." Bisik Reina malu.
"Biarkan saja, jangan dengarkan." Sahut Bima tanpa menatap gadis itu.
Reina akhirnya bungkam, ia meremat kerah baju Bima dan semakin menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu.
Bima membiarkan nya, ia sangat yakin bahwa gadis itu malu mendengar ucapan para perawat dan orang yang ada disana.
Saat sampai di lobby rumah sakit, sopir sudah menunggu kedatangan mereka.
Bima memasukkan Reina dan mendudukkannya dengan hati-hati, lalu di susul olehnya.
"Kalian hati-hati 'ya. Aku akan datang ke rumah mama nanti malam," ucap Alara pada Bima dan juga Reina.
Alara memasukkan tas barang Reina ke dalam mobil agar tidak lupa.
"Kalian jadi ke kantor?" tanya Bima.
"Iya, aku ada pertemuan sebentar, makanya mengajak Alara kesana." Jawab Alderio menganggukkan kepalanya.
Bima ikut mengangguk, ia kemudian meminta sopir untuk jalan, meninggalkan rumah sakit untuk kembali pulang.
Alderio dan Alara juga segera mengambil mobil mereka, keduanya harus ke kantor karena ada pekerjaan. Sejujurnya Alara bisa langsung pulang, namun Alderio memintanya untuk menemaninya bekerja.
"Ayo, Sayang!" ajak Alderio seraya memegang pinggang istrinya.
Sementara itu di mobil yang ditumpangi oleh Bima dan Reina. Suasana mobil tampak hening dan canggung, tidak ada pembicaraan dari keduanya.
"Pak, kita langsung pulang?" tanya sang sopir.
Bima melirik Reina, ia menarik nafas lalu membuangnya perlahan.
"Kau butuh sesuatu sebelum sampai ke rumah?" tanya Bima pelan.
Reina menoleh, ia tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, Pak. Kita langsung pulang saja," jawab Reina.
Akhirnya mereka pun langsung pulang dan tidak mampir kemanapun. Reina yang sudah sangat mengantuk bahkan sampai tertidur di mobil.
"Rei–" panggilan Bima terhenti saat melihat gadis di sebelahnya itu tertidur.
Bima menatap lekat wajah gadis itu, ia mengusap rambutnya pelan tanpa maksud apapun.
"Maafkan saya, karena saya kamu sampai seperti ini." Ucap Bima, hatinya sangat merasa bersalah pada gadis itu.
TO BE CONTINUED