
Alara masih belum sadarkan diri setelah pingsan pasca melahirkan tadi. Alderio tentu sangat khawatir, namun setelah mendengar penjelasan dari dokter bahwa hal itu sering terjadi pada ibu melahirkan membuatnya sedikit tenang.
Setidaknya apa yang dikhawatirkan tidak terjadi.
Alderio juga sudah memberi kabar kepada seluruh keluarganya, baik orang tua maupun mertuanya, dan mungkin saat ini mereka semua sudah dalam perjalanan.
Alderio menunggu di luar ruangan, ia memainkan ponselnya dan mengirim pesan kepada asistennya di kantor bahwa ia tidak dapat ke kantor hari ini, ia juga harus izin kepada atasannya.
"Al!!" panggil Mama Mira seraya berlari mendekati putranya.
Alderio menoleh, ia tersenyum melihat seluruh keluarganya datang, termasuk Reina juga yang duduk di kursi roda dengan Bima yang mendorong kursinya.
"Pak Al, bagaimana keadaan Alara?" tanya Reina tampak khawatir.
"Masih belum sadar, dokter mengatakan mungkin sebentar lagi." Jawab Alderio pelan.
"Lalu dimana anak kalian, dan apa jenis kelaminnya?" tanya Mama Dania tampak tidak sabar.
"Mama masuk dan lihat sendiri, supaya lebih terasa vibes Oma nya." Jawab Alderio tersenyum lebar.
Mama Dania terkekeh, ia lantas membuka pintu ruang rawat Alara, disusul oleh yang lainnya.
Saat mereka semua masuk, Alara ternyata baru saja sadar dan hendak menanyakan keberadaan suaminya kepada suster, namun sudah keburu seluruh keluarganya datang.
"Mama!!" panggil Alara pelan.
Mama Dania mendekat, begitu juga dengan Mama Mira, keduanya bergantian memeluk Alara yang masih terbaring di atas brankar.
"Bagaimana keadaan kamu, Sayang?" tanya Mama Dania seraya mengusap wajah putrinya.
Alara menganggukkan kepalanya pelan.
"Baik, Ma." Jawab Alara hampir tidak terdengar.
"Kami sempat khawatir saat Al bilang kamu tidak sadarkan diri setelah melahirkan, jantung Mama rasanya mau copot, apalagi dengar suara suami kamu yang tegang." Ujar Mama Mira bercerita.
Alara tersenyum, ia menggenggam tangan mertuanya erat. Ia sangat bersyukur karena memiliki mertua yang begitu menyayanginya.
"Sayang." Panggil Alderio yang merasa diacuhkan oleh istrinya.
Alara menoleh ke asal suara, ia melempar senyum manis kepada sang suami yang tadi menemaninya berjuang untuk melahirkan anak mereka.
"Mas, peluk …" rengek Alara membuka tangannya lebar.
"Ya ampun, Kakak ipar!" Celetuk Bima geleng-geleng kepala lalu menepuk jidatnya sendiri.
Reina terkekeh melihat respon Bima, padahal biasa saja, namun entah mengapa membuatnya ingin tertawa saja.
Bima yang menyadari Reina tertawa sambil menatapnya lantas menunduk, ia melihat gadis itu masih tertawa, namun segera berhenti saat tahu dirinya menatap gadis itu.
"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud," cicit Reina seperti berbisik.
Bima tersenyum, ia tanpa sadar malah mengusap puncak kepala Reina dengan penuh kasih sayang, dan hal itu sukses membuat semua yang ada di ruangan menatap mereka.
"Putra anda sepertinya sudah mau membuka hatinya lagi, Pak." Ucap Papa Wahyu berbisik.
"Saya senang jika memang itu terjadi pada Bima, dia juga butuh melanjutkan hidupnya." Balas Papa Aden tanpa menatap Papa Wahyu.
Alderio yang kini posisinya sudah berdiri di samping brankar istrinya hanya bisa tersenyum senang, ia senang jika adiknya sudah membuka hati kembali.
"Mas." Panggil Alara pelan seraya menarik baju suaminya.
Alderio menatap istrinya.
"Apa, Sayang?" sahut Alderio lembut.
"Pah, pulang yuk. Ruangan ini bukan hanya ruang rawat, tapi juga ruang untuk mesra-mesraan." Celetuk Mama Mira menggoda kedua putranya.
Bima tersadar, ia menjauhkan tangannya dari kepala Reina, begitu pula dengan Reina yang langsung berdehem guna menetralkan perasaannya yang gugup.
"Ekhmm apaan, tua maksud kamu?" tanya Mama Mira melototkan matanya.
Bima tertawa, ia buru-buru menggelengkan kepalanya takut saat melihat sang Mama sampai melototkan matanya.
Seisi ruangan tertawa melihat tingkah Mama Mira dan juga Bima, tidak terkecuali Reina, gadis yang sempat gugup diperlakukan lembut oleh Bima.
Tidak lama kemudian dokter datang untuk memeriksa keadaan Alara, sekaligus mengambil anak Alara yang ada di inkubator lalu memberikannya kepada Alara.
"Selamat ya Nyonya, anak anda laki-laki. Tampan dan sangat sehat," ucap dokter seraya memberikan baby yang sudah wangi itu kepada Alara.
Alara menerimanya dengan tangan gemetar, bibirnya tersenyum, namun matanya mengeluarkan air mata haru.
"Anak Mama yang tampan." Lirih Alara meneteskan air matanya.
Alderio tersenyum, ia menyeka air matanya yang hampir saja lolos dari matanya.
"Anak kita tampan, mirip kamu, Mas." Ujar Alara menatap suaminya.
Alderio mengangguk setuju, memang benar bahwa anaknya itu mirip dengannya.
"Al, azanin dulu." Tutur Papa Aden mengingatkan.
Alderio segera menggendong putranya, ia mengazani baby nya itu lalu menciumi wajahnya yang mungil dan terasa halus.
"Siapa namanya, Al?" tanya Mama Mira penasaran.
"Arion Azzani Haiyan." Jawab Alderio tampak bangga sekali.
Alara tersenyum, ternyata suaminya benar-benar memberikan nama itu kepada anak mereka.
Arion. Ar yang mencakup nama Alara dan rion yang merupakan nama Alderio. Artinya nama putra mereka diambil dari nama keduanya.
"Ara, nama anak lo bagus banget. Selamat jadi mommy ya, Cantik." Ucap Reina tersenyum senang.
"Makasih banyak Onty." Balas Alara ikut tersenyum.
"Nama yang bagus, Al. Papa suka sekali," ujar Papa Wahyu memuji.
Bima tersenyum lebar meskipun hatinya sedikit sakit, melihat kakaknya yang kini memiliki anak membuatnya teringat pada mendiang istrinya dan anaknya yang sudah tiada.
"Pak Bima." Panggil Reina menatap Bima yang terlihat sedih.
Bima memalingkan wajahnya, ia menyeka air mata yang hampir lolos, lalu menatap gadis di depannya dengan senyuman.
"Ada apa?" tanya Bima berusaha terlihat baik-baik saja.
"Menangis saja, Pak. Saya tahu anda sedang merasa sedih," tutur Reina dengan lembut.
Bima menggelengkan kepalanya, ia menghela nafas lalu mendekati Alara dan Alderio.
"Selamat atas kelahiran anak kalian yang tampan ini, Kak." Ucap Bima dengan tulus.
"Terima kasih banyak, Bim." Balas Alara tersenyum hangat.
Alderio memeluk adiknya, ia menepuk punggung pria itu karena tahu bahwa Bima pasti sedih.
"I'm oke, Kak." Bisik Bima terkekeh.
Alderio melepaskan pelukannya, ia menepuk kepala adiknya karena kesal, terus saja mengelak sedih.
"Sudahlah, aku mau beli minum dulu." Ucap Bima kemudian keluar dari ruang rawat Alara.
Reina menatap kepergian Bima dengan tatapan sendu, ia mendorong kursi roda nya sendiri lalu keluar untuk menyusul Alderio, tidak menyusul, hanya menunggu di luar saja, karena kondisinya sangat tidak memungkinkan.
To be continued