My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Harus bayar mahal!



Alderio dan Alara akan menginap di rumah keluarga Haiyan sampai suasana sudah baik-baik saja. Alara menemani ibu mertuanya yang masih terguncang, sementara Alderio akan bicara tentang Bima bersama Papa Aden.


"Papa nggak nyangka Renata setega itu pada Mika," ucap Papa Aden geleng-geleng kepala.


"Sejak awal Ranata memang bukan wanita yang baik, Pa. Dia bahkan mengorbankan adiknya untuk melancarkan semua rencananya," sahut Alderio.


Papa Aden manggut-manggut. "Selama ini kami percaya padanya, tetapi dengan kejamnya dia malah menghabisi Mika." Ujar Papa Aden menghela nafas lelah.


"Berhenti membicarakan nya, Pa. Mari bicara soal Bima." Ucap Alderio yang malas membahas tentang wanita itu.


Papa Aden mengangguk, mereka membahas Bima yang sudah dua hari ini mengurung diri di kamar dan tidak henti memanggil nama mendiang istrinya sambil memeluk foto Mika.


Sementara itu di kamar, Alara menemani ibu mertuanya yang masih terpukul atas kepergian menantunya.


Alara membawakan makanan, namun Mama Mira hanya memakan satu suapan saja.


"Mama merasa bersalah sama Bima, gara-gara Mama dia kehilangan istrinya." Ucap Mama Mira sambil menangis.


Alara menggenggam tangan, ia menggelengkan kepalanya. "Nggak, Ma. Bukan salah Mama, ini semua karena Renata, dia yang sudah menabrak Mika." Sahut Alara ikut menangis.


Alara menyeka air matanya, ia memegang bahu ibu mertuanya lalu menatap wanita berumur itu dengan hangat.


"Ma, Mika sudah bahagia disana. Mama nggak boleh terus terpukul gini, sekarang fokus kita adalah kak Bima, dia harus bisa melanjutkan hidupnya dan itu semua butuh dukungan dari kita, Ma." Ucap Alara menjelaskan panjang lebar.


Mama Mira menatap menantunya. Benar kata Alara, sekarang fokus mereka adalah untuk Bima, bukan terus menangisi apa yang telah pergi.


"Alara, dimana Bima?" tanya Mama Mira.


"Kak Bima mengurung dirinya di kamar sejak kemarin, Ma. Dia menangis sambil terus memanggil nama Mika," jawab Alara lirih.


Mama Mira turun dari ranjang kemudian berlari keluar dari kamar, Alara tentu terkejut, ia lantas mengejar ibu mertuanya. Tidak berani berlari, Alara hanya berjalan cepat sambil memegangi perutnya.


"Mas … Mas …" panggil Alara berteriak.


Alderio dan Papa Aden terkejut mendengar teriakan Alara, mereka bangkit kemudian menoleh ke asal suara.


"Mama." Gumam Alderio pelan saat melihat sang Mama berlari naik ke atas tangga.


Alderio segera menyusul, begitu pula dengan Papa Aden. Mereka mengejar Mama Mira yang berlari menuju kamar Bima.


"Bim, Bima ini Mama sayang. Buka pintunya, Bim!" pinta Mama Mira menggedor pintu kamar putranya.


"Bima, buka pintunya!" pinta Papa Aden ikut berteriak.


"Nggak, Pa. Aku ingin istriku, aku ingin Mika kembali." Balas Bima terdengar histeris.


Alderio meminta kedua orang tuanya untuk menjauh dari pintu, ia lalu mengambil ancang-ancang untuk menendang dan mendobrak pintunya.


Suara keras berhasil menyita perhatian Alara yang sedang berusaha untuk naik ke lantai atas, ia takut sesuatu telah terjadi.


Pintu berhasil Alderio dobrak, mereka bergegas masuk, namun gerakan Alderio terhenti saat melihat istrinya yang baru saja menyelesaikan pijakan anak tangga.


"Sayang, kenapa naik?" tanya Alderio memapah tubuh istrinya.


"Mas, suara apa tadi?" tanya Alara balik.


"Pintu kamar Bima aku dobrak, Sayang. Kami semua khawatir dengan keadaannya," jawab Alderio.


Alderio menarik tangan istrinya untuk ikut masuk ke dalam kamar adiknya. Saat sampai disana, mereka melihat Mama Mira sedang memeluk Bima yang menangis dalam pelukannya.


"Bim, Mika sudah bahagia disana. Kita nggak boleh terus menangisi dia, kasihan dia." Ucap Mama Mira seraya mengusap kepala putranya.


"Aku sangat mencintai istriku, Ma. Kenapa dia meninggalkanku," lirih Bima menggenggam foto Mika erat.


"Ini semua takdir, Bim." Bisik Mama Mira.


"NGGAK! ini bukan takdir, Ma. Istriku tiada karena dilenyapkan oleh Renata!" sahut Bima berteriak di awal kalimatnya.


"Kami tahu, Bim. Tetapi kamu tenanglah, perempuan itu sudah ada di pihak berwajib, dia akan menerima hukuman nya." Tutur Papa Aden.


"Penjara, dia nggak boleh di penjara, Pa. Dia harus tiada seperti Mika, agar keadilan untuk istri dan anak ku itu terpenuhi!" ujar Bima membentak.


"Bima." Tegur Alderio saat mendengar suara adiknya semakin tinggi.


Alara mengusap tangan suaminya, jangan sampai Alderio mengeluarkan emosi disaat seperti ini. Alara sama terpukulnya dengan semua orang, apalagi saat melihat ibu mertuanya yang terus saja menyalahkan dirinya sendiri.


"Renata memang harus membayar mahal ini semua, Mas." 


To be continued