My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Penolakan tegas Reina



Reina menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, dadanya sesak dengan wajah merah, mata sembab dan rambut yang acak-acakan.


Reina frustasi, kedua orang tuanya tidak pernah bicara apapun soal pernikahan, dan secara tiba-tiba, besok ia akan bertunangan dengan pria yang bahkan belum dikenal olehnya.


Reina mengurung diri dikamar, ia rasanya ingin kabur dan berteriak memanggil Bima untuk meminta pertolongan, perlindungan sekaligus mengutarakan perasaannya.


Reina menyesal, ia menyesal karena tidak mengatakan soal perasaanya kepada pria itu dengan segera.


"Jadi gue bener-bener bakal tunangan besok dan minggu depan nikah, hiks … gue nggak mau, gue nggak kenal cowok itu siapa, gue maunya sama pak Bima!!" celetuk Reina seraya memukuli bantal nya sendiri.


Reina menyembunyikan wajahnya di bantal, ia berteriak dengan sekeras mungkin, namun tidak akan terdengar keras karena bantal yang digunakannya.


"Hiks … semoga Ara kasih tau pak Bima, dan pak Bima bisa tolongin gue buat keluar dari masalah ini." Lirih Reina menyeka air matanya sendiri.


"Reina." Panggilan itu terdengar dari luar kamarnya, disertai ketukan pintu berulangkali.


Reina kenal suara itu, itu adalah suara sang Mama yang pasti memintanya untuk keluar dan menemui pria yang besok akan bertunangan dengannya.


"Reina, buka pintunya! Mama mau bicara sama kamu." Pinta Mama Lila dari luar.


Reina tidak menyahut, percuma saja karena kamarnya kedap suara. Berteriak pun pasti tidak berguna, ia harus membuka pintu agar suaranya terdengar.


"Reina, Mama bilang buka pintunya." Ucap Mama Lila lagi dengan lembut.


Reina berdecak sebal, ia bangkit dari duduknya lalu mendekati pintu.


"Sabar, Na. Kalo lo jodohnya sama pak Bima, emak lo sendiri nggak akan bisa berkutik!" Celetuk Reina seraya mengusap dadanya.


Reina membuka pintu kamarnya, dan terlihatlah wajah sang Mama yang tampak serius dan tegas.


"Ada apa, Ma?" tanya Reina tanpa mempersilahkan sang Mama masuk ke dalam kamarnya.


"Sopan kamu mengajak Mama bicara diluar gini, kamu nggak niat untuk suruh Mama masuk?" tanya Mama Lila.


Reina menghela nafas lalu menggelengkan kepalanya.


"Aku kecewa sama Mama." Jawab Reina menjelaskan.


"Karena Mama mau jodohin?" tanya Mama Lila menebak.


Reina menggigit bibirnya lalu mengangguk.


"Sekarang jawab pertanyaan Mama, kamu mencintai seseorang?" tanya Mama Lila dengan serius.


Reina menatap sang Mama dengan nanar, entah mengapa ia merasa ada yang berbeda dari ibunya itu. Tidak biasanya Mama Lila bertanya begitu.


"Kenapa Mama tanya gitu?" tanya Reina balik, ia menyipitkan matanya penuh curiga.


"Nggak apa-apa, Mama mau kamu lupakan pria itu karena kamu akan menikah dan menjadi istri orang." Jawab Mama Lila.


Jantung Reina mencelos, ternyata sang Mama tidak berubah dan tetap ingin menjodohkan nya.


"Ma, aku tidak mau dijodohkan!" bantah Reina dengan nada tinggi.


"Reina, jaga bicaramu!" tegur Mama Lila.


Reina menangis, ia berlari ke arah ranjang dan menjatuhkan tubuhnya disana. Reina memeluk guling sambil terus menangis.


Ini hanya pasal waktu, ia yakin seiring berjalannya waktu nanti, Reina akan menerima takdir untuk menikah cepat.


"Reina, Mama yakin kamu akan menerima pernikahan itu!" tegas Mama Lila kemudian menutup pintu kamar putrinya.


Keesokan harinya, Reina benar-benar mengurung diri tanpa makan dan minum sama sekali. Hari ini adalah hari pertunangan nya, dan ia tidak berniat untuk hadir disana.


Reina duduk di pinggir ranjang sambil memeluk bantal kesayangannya, menatap kosong ke arah pintu kamar yang entah sudah berapa kali diketuk oleh sang Mama.


"Reina." Panggil seseorang dari luar.


Reina tersentak, itu bukan suara sang Mama, melainkan suara sang Papa yang sudah beberapa hari ini pergi keluar kota.


Reina tersenyum lebar, ia bersemangat karena yakin bahwa sang Papa akan membelanya dan membatalkan acara pertunangan itu.


"Papa." Panggil Reina riang seraya membuka pintu kamarnya.


Saat terbuka, tampaklah wajah pria berusia lanjut yang masih tampan. Dia Jaya, ayah Reina.


"Papa!" Reina memeluk sang Papa sambil menangis, menumpahkan air mata yang entah sudah berapa banyak keluar sejak kemarin.


"Kok anak Papa nangis, ada apa?" Tanya Papa Jaya lembut.


"Akhirnya keluar juga dia, Pa. Aku bilang juga pasti dia akan menurut jika sama kamu," ucap Mama Lila yang ternyata juga ada di sana.


Reina melepaskan pelukannya, ia menatap sang Mama dengan takut.


"Mama, aku tidak akan datang ke acara itu!" ucap Reina dengan tegas.


"Kamu harus datang, Nak." Ucap Papa Jaya seraya mengusap kepala putrinya.


Reina menatap sang Papa dengan tatapan terkejut, ia tidak menyangka Papa Jaya akan mendukung sang Mama dan bukan dirinya.


"Papa, Papa juga mau aku menikahi pria yang tidak aku kenal?" tanya Reina pelan.


"Tentu saja, Na. Cepat ataupun lambat, kamu pasti harus menikah!" jawab Papa jaya.


"Tapi tidak dalam waktu secepat ini, Pa!" sahut Reina tegang.


"Pemuda itu baik, Papa yakin kamu akan menyukainya, apalagi dia juga bilang sudah sering melihat kamu dan jatuh cinta." Jelas Papa Jaya.


Reina menggeleng tegas, ia tidak peduli pria itu mencintainya atau tidak, karena sampai kapanpun ia tidak akan mau menerima pernikahan itu.


"Aku nggak mau, Pa. Aku nggak peduli jika dia mencintai aku, atau dia baik. Aku nggak akan datang ke acara pertunangan itu!" Reina kembali masuk ke dalam kamar dan tidak lupa untuk mengunci nya.


Kedua orang tua Reina hanya bisa menghela nafas, mereka saling bertatapan lalu menggeleng.


"Papa juga tidak bisa membujuknya." Ucap Mama Lila kemudian pergi.


REINA JADI TUNANGAN, TERUS MAS BIM KEMANA??


PLISSS KALIAN PENASARAN KAN?? PLISS JAWAB IYA😫😂


To be continued