My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Hari paling dinanti



Hari ini Reina diajak oleh Bima untuk pergi ke suatu tempat, tempat spesial yang menjadi rumah orang terkasih Bima.


Reina mengusap sudut matanya berkali-kali saat mereka sampai di tempat tujuan. Ternyata Bima mengajaknya ke makam mendiang Mika dan juga calon anak Bima yang meninggal akibat keguguran.


Bima berlutut di sebelah pusara Mika, tangannya mengusap batu nisan yang bertuliskan nama mendiang istrinya.


Jika Bima boleh bicara, Mika adalah istri yang baik, meski segala perilakunya kurang baik dan itu semua tentu dipengaruhi oleh Renata. Bima sangat mencintai Mika, dan juga anaknya, namun kehidupan harus terus berjalan. 


Dan hari ini Bima sengaja mengajak Reina kesana adalah untuk meminta izin kepada mendiang Mika bahwa ia akan menikah dan melanjutkan hidupnya.


Bima tidak sepenuhnya melupakan Mika, bagi Bima Mika memiliki tempat tersendiri di hatinya.


“Mika, aku tahu kau pasti sekarang bahagia disana bersama anak kita. Maaf karena jarang datang untuk sekedar memberikan bunga di pusaramu.” Ucap Bima masih mengusap batu nisan Mika.


“Hari ini aku datang tidak sendiri, aku datang bersama seseorang yang sangat berarti bagiku. Dia bukan menggantikanmu, kamu masih punya tempat tersendiri di hatiku, tetapi sekarang dia lah yang akan menjadi pendampingku di masa depan. Aku berdoa semoga kamu bisa memberikan doa dan berkatmu kepadaku dan dia.” Lanjut Bima panjang lebar.


Reina terharu mendengar ucapan Bima,dan ia tentu saja tidak marah apabila Bima masih menyimpan nama mendiang istrinya di dalam hati.


Reina menaburkan bunga diatas pusara Mika, ia lalu tersenyum dengan tulus.


“Mbak, saya berdoa semoga anda bahagia disana. Saya datang kesini ingin meminta izin untuk menjadi pendamping mas Bima, saya berjanji akan menyayangi dan mencintainya seperti mbak. Saya ucapkan terima kasih, mbak.” Ucap Reina seraya mengusap pusara Mika.


Bima tersenyum mendengar ucapan calon istrinya. Ia merangkul bahu Reina lalu mengusapnya pelan.


“Aku sama Reina pamit ya, Mik. Nanti jika ada waktu, kami pasti datang lagi.” Pamit Bima seraya berdiri, begitu juga dengan Reina.


“Kami pamit mbak, Assalamualaikum.” Setelah mengucapkan itu, Mika dan Bima langsung pergi meninggalkan area pemakaman.


***


Jika cinta dianggap hanya untuk dipendam, maka silahkan rasakan yang namanya kehilangan. 


Terkadang banyak sekali orang yang memendam perasaan dan berakhir penyesalan saat orang yang kita cintai menghilang.


Untung saja semua itu tidak terjadi dengan pasangan Reina dan Bima, meskipun awalnya sempat memendam, namun akibat bantuan takdir dan pihak keluarga, membuat keduanya telah bersatu.


Hari ini, hari yang paling dinantikan oleh Bima maupun Reina. Hari yang akan mengikat keduanya untuk hidup bersama, menjalani suka duka bersama, dan berbagai segala masalah bersama.


Ya, hari ini adalah hari pernikahan Reina dan juga Bima. Digelar cukup mewah dengan jumlah tamu yang hadir tidak sedikit. Dihadiri pihak keluarga sudah pasti.


Reina tak kuasa menahan air mata tatkala ijab qobul selesai, ia lalu mencium tangan pria yang kini telah menyandang status sebagai suaminya.


Bima membalas dengan mencium kening sang istri, ia melakukannya dengan penuh kasih sayang, bahkan sampai membuat Reina tambah menangis haru.


Bima sebenarnya ingin menangis juga, namun ia berusaha menahannya.Alhasil Bima hanya tersenyum dengan begitu manis, ia juga sama bahagianya dengan Reina.


Setelah selesai upacara akad, Bima dan Reina lanjut sungkeman dengan kedua orang tua mereka, meminta doa dan restu terbaik dari mereka agar rumah tangga mereka berjalan lancar.


Selain meminta restu dari orang tua,mereka juga meminta doa dari Aldero dan juga Alara selaku kakak mereka.


“Bahagia selalu ya, Na. Sekarang kita iparan, nggak nyangka gue.” Ucap Alara seraya melepas pelukannya.


“Iya, gue pikir kita nikah sama idol masing-masing, ternyata nggak.” Sahut Reina terkekeh.


Alderio dan Bima yang mendengar tampak kebingungan mendengar ucapan istri mereka yang agak aneh.


“Maksudnya apa, Sayang?” tanya Alderio kepo.


“Jadi tuh aku sama Reina dulu suka halu jadi istri orang korea, kirain bakal kenyataan ternyata nggak.” Jawab Alara menjelaskan.


“Jadi maksudnya kalian nggak suka suaminya ini kita dan masih berharap sama idol?” tanya Bima menyipitkan matanya.


Reina buru-buru menggeleng lalu menggandeng tangan suaminya.


“Bukan gitu, Mas.” Jawab Reina.


Alara ikut menggandeng tangan suaminya, ia manggut-manggut.


“Iya, kita nggak nyesel karena kalian bahkan lebih tampan dari idol favorit kita.” Tambah Alara menjelaskan.


Alderio dan Bima sama-sama tertawa, mereka mengangguk percaya dengan penjelasan istri mereka, karena sebenarnya mereka juga tidak peduli, toh mereka lah yang memiliki istri masing-masing.


Bima dan Reina pergi ke pelaminan untuk menyambut tamu yang datang dan ingin memberikan doa, sementara Alara dan Alderio memilih duduk karena pegal juga menggendong Arion. 


MALAM PERTAMA MAS BIM SKIP JANGAN NIH??


To be continued