My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Kontraksi



Sepulang dari mall, Alara dan Alderio mampir ke rumah Mama Mira, sekedar memberikan kue kesukaan wanita paruh baya itu dan juga baju yang sengaja Alara belikan untuk mertuanya.


"Makasih banyak, Ara. Ya ampun, kamu repot-repot beliin Mama." Ucap Mama Mira menerima hadiah dari menantunya.


"Nggak repot kok, Ma." Balas Alara tersenyum hangat.


"Papa dan Bima belum pulang?" tanya Alderio saat menyadari rumahnya masih sepi.


"Sebentar lagi mereka pasti pulang." Jawab Mama Mira.


Benar kata Mama Mira, tidak lama kemudian Bima dan Papa Aden pun datang setelah bekerja seharian di kantor. 


Alara menyalami tangan ayah mertuanya, begitu juga dengan Alderio, kemudian mereka kembali duduk di sofa.


"Sore sekali, Pa. Apa ada sesuatu?" tanya Alderio menatap adik dan papanya.


"Ya, persiapan pesta ulang tahun perusahaan." Jawab Papa Aden.


"Bisa kau ikut kami besok, Kak? Seleramu itu selalu bagus jika soal dekorasi." Pinta Bima.


Alderio mengangguk, kebetulan besok ia akan pulang lebih cepat karena hanya perlu membuat laporan keuangan saja.


"Tentu, aku akan datang jam 2 siang, bagaimana?" tanya Alderio menentukan.


"Boleh, langsung saja ke mall nya ya." Jawab Bima mengangguk.


Pembicaraan antara ayah dan dua anaknya berlanjut. Alara dan Mama Mira memutuskan untuk pergi dan memasak makan malam saja daripada harus mendengarkan pembicaraan yang berhubungan dengan bisnis.


"Mau masak apa, Ma?" tanya Alara menatap isi kulkas yang begitu lengkap.


"Mama mau buat ayam di cabein sama sayur lodeh, itu menu kesukaan Alderio dan Bima." Jawab Mama Mira seraya mencuci ayam yang sudah dipotong-potong.


Alara tersenyum senang. "Aku bisa bantu apa, Ma?" tanya Alara antusias.


Mama Mira menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, kamu duduk saja temani Mama." Jawab Mama Mira lembut.


Alara menekuk wajahnya, ibu mertuanya itu sangat mirip dengan suaminya, selalu mengkhawatirkan banyak hal. Padahal memotong bawah dan menumis bumbu tidak akan membuatnya lelah sedikit pun.


"Aku bisa menumis bumbunya, Ma. Nggak bikin lelah kok," ucap Alara memaksa.


Mama Mira geleng-geleng kepala, ia akhirnya membiarkan menantunya itu membantu menumis bumbu, hanya menumis bumbu saja.


"Padahal Mama lihat kamu bawa-bawa perut aja udah capek, Ra." Ucap Mama Mira mengusap perut menantunya yang sudah besar.


Alara terkekeh, ia ikut menatap perutnya yang sudah besar dan sebentar lagi akan memasuki bulannya.


"Mama ini, kaya nggak pernah hamil aja. Kelihatannya aja berat, Ma. Padahal nggak sama sekali," jawab Alara memberitahu.


Mama Mira manggut-manggut, ia lalu menggoreng ayam nya dan mengambil alih menumis bumbunya.


"Kamu potong sayurannya aja deh, Ra. Serem Mama lihat perut kamu nempel-nempel meja dapur." Tutur Mama Mira meringis.


Alara tertawa, ia mengusap wajah ibu mertuanya kemudian mencium pipi nya dengan sayang. Alara dan Mama Mira sudah seperti ibu dan anak kandung, meski dulu sempat ada cekcok diantara mereka.


"Mama lucu banget, orang cuma nempel kok, nggak sampai ke bentur." Ujar Alara seraya menarik kursi untuknya duduk.


Setelah selesai ia memberikannya kepada Mama Mira untuk dimasak. Karena tidak tahu mau melakukan apa lagi, Alara akhirnya memilih untuk pergi ke ruang tamu, melihat suaminya.


Ketika di pertengahan jalan, langkah Alara terhenti karena merasakan sakit di bagian perutnya. Terasa nyeri, dan ini sudah biasa ia rasakan karena kontraksi.


Alara tidak berniat memanggil siapapun, ia tidak mau merepotkan orang lain. Namun sayang, niatnya itu tidak direstui oleh keadaan, salah satu asisten rumah tangga keluarga Haiyan melihatnya sedang meringis kesakitan.


"Nona Alara, anda kenapa?!!" tanya Asisten rumah tangga itu tampak khawatir.


Suara teriakan wanita itu terdengar oleh Mama Mira dan semua orang yang sedang duduk di ruang tamu.


Alderio sampai melompat dari tempatnya ketika mendengar nama istrinya disebut.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Alderio mengusap wajah istrinya yang berkeringat dingin.


"Nggak, aku nggak apa-apa, Mas. Cuma kontraksi kaya biasa aja kok," jawab Alara pelan.


"Kak, bawa kakak ipar ke kamar. Kasihan dia, dia harus istirahat." Tutur Bima yang paham, ia juga sempat merasakan yang namanya mengurus istri saat sedang kontraksi.


"Alara, istirahatlah di kamar 'ya." Tambah Papa Aden dengan lembut.


Alara akhirnya menurut, ia pasrah saat digendong oleh Alderio kemudian dibawa ke kamar pria itu sebelum menikah.


Setelah Alara pergi, Mama Mira datang dari arah dapur, ia khawatir dengan keadaan Alara.


"Alara kenapa, Pa?" tanya Mama Mira.


"Hanya kontraksi saja, tetapi sekarang sudah Alderio bawa untuk istirahat." Jawab Papa Aden.


Mama Mira menghela nafas lega.


"Ya sudah, kalian mandi sana. Mama sedang memasak," ucap Mama Mira kepada suami dan putra bungsunya.


Papa Aden dan Bima menurut, mereka pergi ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri.


Sementara itu di kamar lain, Alderio tidak henti mengusap perut besar istrinya yang terasa keras karena kontraksi, ia takut terjadi sesuatu meski hal ini sering terjadi.


Alara berusaha menjelaskan kepada suaminya bahwa ia tidak apa-apa, namun sepertinya itu tidak membuat Alderio tenang, terlihat dari raut wajahnya.


"Aku sudah bilang berkali-kali, jangan lelah Sayang!" ucap Alderio mengingatkan.


Alara mengangguk, padahal ia tidak lelah, tetapi ia tetap mengangguk dan berusaha mengerti ucapan suaminya.


"Iya, Mas. Aku minta maaf ya," pinta Alara menggenggam tangan suaminya.


Alderio tersenyum hangat, ia lalu mencium perut Alara lembut.


"Anak Papa, jangan buat Mama kesakitan ya. Kasihan Mama kan?" bisik Alderio seakan bisa bicara dengan janin dalam kandungan Alara.


Alara hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya, ia mengusap kepala Alderio yang masih betah berlama-lama untuk bicara dengan baby nya.


NGGAK SABAR LAHIRAN DEHH🤗🤗


To be continued