My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Pertanyaan Mama Mira



Alara menyadari sikap suaminya yang lebih banyak diam dan irit bicara, bahkan saat ia bertanya sesuatu, maka suaminya itu akan menjawab dengan singkat.


Alara membuatkan kopi untuk Al, ia lalu membawanya ke ruang tamu dimana suaminya sedang bekerja disana.


"Mas, aku buatin kamu kopi." Ucap Alara seraya meletakkan segelas kopi di atas meja.


"Iya." Balas Alderio tanpa menatap istrinya dan tetap fokus pada layar laptop di depannya.


Alara menarik nafas lalu membuangnya perlahan, ia duduk di sebelah Al sambil mengusap perutnya yang sebenarnya sedang sedikit kencang, mungkin kontraksi ringan.


"Kamu kok diam aja, Mas. Kamu marah?" tanya Alara lembut.


Alderio menggelengkan kepalanya, ia tetap mengetik tiap kalimat di laptopnya, dan Alara sedikit melihat apa yang sedang suaminya kerjakan.


"Kamu lagi ngapain, Mas?" tanya Alara berganti topik karena pertanyaan sebelumnya tidak dijawab.


"Bekerja." Jawab Alderio sekenanya.


Alara menelan salivanya dengan sedikit sulit, ia tidak tahu alasan perubahan sikap suaminya, tetapi ia sangat tidak suka dengan situasi seperti ini.


Alderio yang biasanya banyak bicara dan bersikap manja, kini malah diam dan begitu dingin padanya. 


"Aku ke kamar ya, Mas. Kamu juga jangan tidur terlalu malam," ucap Alara pelan, berusaha menahan sesak yang terasa di dadanya.


"Iya." Balas Al tanpa menatap istrinya sedikit pun.


Alara segera beranjak dari duduknya, ia pergi ke kamar dengan air mata yang sudah mulai jatuh ke pipinya. Apakah alasan Alderio marah karena dirinya menasehati pria itu tadi siang, tapi ia hanya memberitahu agar Al tidak bersikap demikian kepada mama Mira.


Alara menutup pintu kamar lalu berbaring di atas tempat tidur. Alderio mungkin memang begitu marah dengan keluarganya yang masih belum mau mengakui bahwa Alara tidak bersalah.


"Aku nggak mau kamu jadi anak durhaka, Mas. Aku nasehati kamu demi kebaikan, tapi kamu malah marah sama aku." Lirih Alara mengeluarkan keluh kesahnya kepada bantal dan guling.


Alara menyelimuti tubuhnya sampai batas perut, ia segera tidur karena matanya sudah sangat mengantuk, perutnya juga sudah lebih baik dari sebelumnya.


Sementara itu di tempat lain, Mika dan Bima baru saja kembali dari makan malam diluar dan langsung menuju kamar mereka untuk istirahat.


"Mas, kamu mandi duluan gih. Aku mau ke kamar kak Nata dulu." Ucap Mika kepada suaminya.


"Kenapa mau kesana, kamu pasti lelah dan butuh istirahat." Sahut Bima hendak melarang.


"Sebentar aja, Mas. Ada perihal penting yang harus aku sampaikan sama dia," pinta Mika pelan.


Bima menatap wajah istrinya dengan iba, ia merasa kasihan kepada Mika yang harus kehilangan anak yang sangat dinantikan nya.


"Jangan sedih lagi 'ya." Celetuk Bima lembut.


"Kamu jangan khawatir, aku akan membalas perbuatan Alara dan Alderio yang sudah melenyapkan anak kita." Lanjut Bima dengan sangat yakin.


Mika terdiam beberapa saat, namun setelahnya ia berusaha tersenyum kemudian keluar dari kamar nya.


"Alara itu tidak bersalah, dia hanya difitnah disini." Batin Mika memikirkan kakak iparnya itu.


"Mika, sedang apa kamu?" tanya Mama Mira.


Mika menoleh ke asal suara, ia melempar senyum kepada ibu mertuanya.


"Mama, aku hanya ingin ke kamar kak Nata. Mama sendiri sedang apa?" tanya Mika balik.


"Mama mau bicara sama kamu." Jawab Mama Mira langsung.


Mika mengerutkan keningnya, hal apa yang ingin dibicarakan ibu mertuanya malam-malam begini. Mika tersenyum lalu mengikuti langkah ibu mertuanya.


Mama Mira mengajak Mika untuk bicara di ruang tamu, lampu yang sebelumnya sudah dimatikan kini kembali menyala.


"Ada apa, Ma?" tanya Mika seraya mendaratkan bokongnya di sofa.


Mama Mira menghela nafas lalu menatap menantu mudanya.


"Apa benar jika Alara yang sudah membuat kamu jatuh di kamar mandi?" tanya Mama Mira dengan tenang.


Mika tersentak, ia begitu terkejut mendengar pertanyaan ibu mertuanya.


"Maksud Mama apa, apakah Mama mengira bahwa aku sudah menuduh Alara?" tanya Mika mendramatisir.


"Mama nggak tuduh kamu, Mama kan hanya bertanya baik-baik." Jawab Mama Mira.


Mika manggut-manggut. "Iya, Ma. Alara yang sudah membuatku terjatuh di kamar mandi." Ujar Mika dengan cepat.


Mama Mira menganggukkan kepalanya pelan, ia menghela nafas lalu bangku dari duduknya, membuat Mika ikut bangkit.


"Semoga kamu bicara jujur, Mika. Jangan sampai orang yang tidak bersalah tersakiti disini." Ucap Mama Mira kemudian pergi ke kamarnya kembali.


Mika berdiri di tempatnya dengan perasaan gundah, ia harus segera bicara dengan Renata yang tidak lain adalah pelaku sesungguhnya.


JUJUR ITU BAIK, MIKA🤗🤗


To be continued