My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Jalan-jalan



Setelah menikmati sarapan lezat buatan Alara, Bima dan Alderio pun segera pergi untuk bekerja di tempat masing-masing. Waktu terus berjalan, jika Al tidak kunjung berangkat, maka bisa-bisa ia terlambat ke kantornya.


“Kakak ipar, terima kasih untuk kopi yang sangat lezat nya.” Ucap Bima sebelum benar-benar meninggalkan apartemen kakaknya.


Alara tersenyum mendengar ucapan Bima, ia menganggukkan kepalanya.


“Sama-sama, Kak.” Balas Alara pelan.


“Sayang, karena waktu juga semakin siang, aku berangkat sekarang ya nanti pulang aku jemput untuk jalan-jalan.” Pamit Alderio lalu mencium kening sang istri.


Alara balas mencium punggung tangan suaminya, “iya, Mas. Kamu hati-hati bawa mobilnya ya,” tutur Alara memberi pesan kepada sang suami.


“Kak Bima juga hati-hati ‘ya.” Tambah Alara mengingatkan adik iparnya.


Bima tersenyum mendengar ucapan kakak iparnya. Sungguh beruntung Alderio memiliki istri yang sangat perhatian seperti Alara. Jangan berpikir bahwa ia iri, ia justru senang karena setidaknya nasib sang kakak lebih baik darinya dalam masalah percintaan dan rumah tangga.


“Iya, Kakak ipar. Terima kasih banyak sudah mengingatkan aku juga.” Balas Bima sopan.


Alara tersenyum. Setelah dirasa beres dan tidak ada keperluan lagi, Al dan Bima pun segera pergi untuk melanjutkan aktivitas masing-masing.


Alara mengantar suami dan adik iparnya sampai depan pintu apartemen saja, saat keduanya sudah masuk ke dalam lift, Alara pun bergegas masuk ke dalam rumahnya.


“Bi, aku mau istirahat dulu ya. Nanti kalau pekerjaannya sudah beres bisa bangunkan aku.” Ucap Alara pada asisten rumah tangganya yang sedang membereskan meja makan.


“Baik, Nyonya.” Balas asisten rumah tangganya mengangguk paham.


Alara pun segera masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


Sementara itu Al dan Bima baru sampai di parkiran, sebelum masuk ke dalam mobil masing-masing, mereka berbincang sebentar.


“Kau sangat beruntung, Kak. Memiliki istri yang sangat perhatian seperti kakak ipar. Doakan aku juga bisa dapat pasangan sepertinya.” Ucap Bima diakhiri helaan nafas pelan.


Alderio menata adiknya dengan hangat . “Jadi kau sudah mau membuka hati lagi?” tanya Alderio mengerutkan keningnya.


Bima menggeleng, bagaimana mungkin ia akan bisa membuka hati secepat ini, bahkan istrinya pun belum 40 hari meninggal.


“Untuk sekarang belum. Kau, kakak ipar, papa dan mama benar bahwa hidup harus terus berjalan, dan aku tidak bisa terus berada dalam keterpurukan.” Jawab Bima pelan.


Alderio mengangguk paham, ia mendekat lalu menepuk bahu ang adik pelan.


“Setidaknya kau sudah belajar untuk mengikhlaskan istrimu. Masalah pasangan baru akan datang sendiri seiring berjalannya waktu.” Jelas Alderio penuh pengertian.


“Ya sudah, ayo berangkat sebelum aku benar-benar terlambat datang ke kantor!” ujar Al mengajak.


Alderio dan Bima kini benar-benar perg meninggalkan area apartemen Al. Ketika melewati lobby, Bima melihat jalanan yang menjadi tempat istrinya tertabrak dan meninggal dunia, ia sempat teringat kembali pada istrinya, namun sesaat kemudian ia tersenyum.


***


Sore harinya Alderio telah kembali dari kantor, dan sekarang waktunya mengajak istrinya jalan-jalan sesuai janjinya tadi pagi. Alderio tidak naik ke atas, ia menunggu istrinya di lobby, dan syukur karena tidak butuh waktu yang lama untuk wanita itu bersiap-siap.


“Sayang cantik banget.” Puji Alderio jujur.


“Makasih banyak, Mas." Balas Alara tersenyum manis.


Alderio mengusap punggung tangan istrinya kemudian menggandeng nya menuju mobil. Alara ikut saja saat tangannya ditarik pelan oleh sang suami, menyebrangi lobby untuk sampai ke mobil yang terparkir di seberang jalan.


Alderio membukakan pintu untuk sang istri, kemudian ia segera menyusulnya.


"Baiklah, mau kemana kita?" tanya Alderio seraya memasang seatbelt nya.


"Mall, Mas. Kamu bilang mau beli barang-barang dedek bayi yang kurang." Jawab Alara mengingatkan.


Alderio mengangguk, ia ingat dengan ucapannya tadi pagi. Alderio pun segera tancap gas menuju mall yang biasa mereka datangi bersama.


Selama perjalanan Alara tidak henti bercerita mengenai kegiatannya satu hari ini.


"Aku kerjaannya cuma tiduran, sementara kamu harus bekerja dikantor dan di kampus." Ucap Alara bersedih.


"Ya bagus dong, seorang suami kan memang wajib menafkahi istri dan anaknya." Balas Alderio mengusap lembut rambut Alara.


"Takut merepotkan kamu, Mas." Lirih Alara menatap suaminya sekilas.


"Ya nggak mungkin lah, Sayang. Kita ini suami istri, apa yang jadi milikku, itu milik kamu juga, begitu pula sebaliknya." Jelas Alderio bijak.


"Iya, Mas. Aku tahu, aku kan cuma bercanda. Aku ngomong gini karena merasa bosan kalo kamu nggak ada, dan aku cuma tiduran." Timpal Alara menjelaskan.


"Kalo kamu bosan, aku bisa minta Mama buat temani kamu disini, atau kamu mau rumah yang dekat rumah mereka?" tanya Alderio menawarkan dengan begitu mudahnya.


"Nggak usah, Mas. Aku bosan dan cuma kamu yang bisa jadi pengobatnya." Jawab Alara sedikit menggombal.


Alderio terkekeh, ia mencubit pipi Alara gemas. "Bisa aja sih bumil cantik ini." Celetuk Alderio.


Alara tertawa, cubitan Alderio itu tidaklah sakit, justru menyenangkan. Alara bahkan sampai tertawa riang jika sudah di cubit apalagi sambil digoda dengan kata-kata manis.


"Suami aku dasar." Desis Alara memutar bola matanya jengah.


MAS BIMA KALO JODOH SAMA AKU GIMANA GUYS??


To be continued