
Mika menangis tersedu-sedu saat Mama Mira tidak henti memarahinya. Bagaimana tidak marah, selama ini ia telah di kelabui oleh adik dan kakak itu bahkan sampai tidak percaya pada Alara.
Mama Mira merasa kecewa, ia merasa sangat bersalah kepada Alara karena telah menuduh menantunya itu sebagai pelaku, padahal jelas-jelas Renata yang bersalah disini.
"Ampuni aku, Ma. Hiks … aku juga tidak tahu mengapa aku bisa mengikuti kemauan kak Nata, aku menyesal, Ma." Ucap Mika memohon di kaki ibu mertuanya.
Benar, seseorang yang mendengar pembicaraan Mika dan Renata adalah Mama Mira. Awalnya hanya ingin mengembalikan ponsel Mika yang tertinggal, namun siapa sangka justru ia malah mendengar sebuah kenyataan yang mengejutkan.
"Ma, maafkanlah istriku, dia hanya diperdaya oleh kakaknya." Pinta Bima tidak kuasa melihat istrinya yang memohon.
"Tidak bisa semudah itu, Bima. Mama sudah menuduh Alara sebagai pelaku padahal jelas-jelas dia sendiri tahu siapa pelaku yang sebenarnya!" sahut Mama Mira keras.
Sementara Renata hanya diam, saat ini tubuhnya sedang tegang, perasaan nya khawatir karena takut keluarga Haiyan akan melaporkannya ke polisi.
"Tante–" Ucapan Renata terhenti karena bentakan Mama Mira.
"DIAM KAMU!!" bentak Mama Mira.
Mama Mira tidak mempedulikan Mika yang masih bersimpuh dibawah kakinya, ia beralih menatap papa Aden yang terlihat diam dengan perasaan lebih kecewa.
"Pa, kita harus ke rumah Alara, kita harus minta maaf dengannya dan Alderio." Ucap Mama Mira sambil menangis.
Ia benar-benar tidak tahu harus apa sekarang, ia ingin meminta maaf pada anak dan menantunya, namun ia terlalu malu untuk menatap wajah mereka setelah apa yang dilakukannya.
"Iya, Ma. Kita pergi kesana sekarang," sahut Papa Aden menganggukkan kepalanya setuju.
"Ma, hiks … biarkan aku ikut, aku juga ingin meminta maaf pada kak Alara." Pinta Mika memohon.
"Aku juga, Ma." Tambah Bima.
Mama Mira tidak menjawab iya ataupun tidak, namun ia membiarkan Mika dan Bima mengikuti mereka sampai ke dalam mobil.
Sementara Renata ditinggal, wanita itu mengerem penuh kekesalan karena rencananya telah hancur bahkan sebelum dimulai, ia mengambil bantal sofa lalu melemparnya asal sampai tanpa sengaja mengenai foto pernikahan Alara dan Alderio yang terpajang di sana.
"Alara, aku tidak akan membiarkanmu menang. Jika aku kalah, maka kau harus menang dalam keadaan tiada." Gumam Renata dengan tangan terkepal.
Renata berlari ke kamarnya, ia mengambil tas dan kunci mobilnya kemudian segera pergi dan masuk ke dalam mobilnya.
Renata mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh untuk mengikuti mobil papa Aden yang melaju ke apartemen Alara dan Alderio.
Mobil papa Aden sampai lebih dulu, Mama Mira langsung berlari keluar dari mobil begitu juga dengan Mika, mereka sama-sama ingin mengucapkan maaf kepada Alara.
Papa Aden dan Bima segera menyusul, mereka masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai dimana Alara dan Alderio tinggal.
Saat sampai di depan apartemen Alara dan Alderio, mereka menekan bel berulang kali namun tidak kunjung ada yang membuka.
"Ma, sepertinya mereka sedang tidak di rumah." Ucap Papa Aden seraya mengusap bahu istrinya.
"Tapi Mama mau bertemu Alara, Pa. Mama mau minta maaf sama dia," lirih Mama Mira menundukkan kepalanya dengan penuh rasa bersalah.
"Kita tunggu di bawah saja, siapa tau akan ketemu dengan mereka." Ajak Papa Aden.
Mama Mira mengangguk setuju, mereka pun kembali ke lantai dasar untuk menunggu Alara dan Alderio.
Mika juga sedang berusaha menghubungi kakak iparnya, tersambung namun tidak kunjung ada yang menjawabnya.
Sementara itu di tempat lain, Alara dan Alderio sedang berada di perjalanan setelah berbelanja kebutuhan rumah tangga mereka.
Ponsel Alara berdering dan tertera nama 'mika' di sana, ia hendak menjawab, namun dicegah oleh suaminya.
"Tapi, Mas. Siapa tahu itu penting," ujar Alara, dibalas gelengan kepala oleh Alderio.
Alara menghela nafas, ia akhirnya membiarkan ponselnya di pegang oleh Al.
Akhirnya mereka sampai di apartemen, saat hendak masuk ke basement, tanpa sengaja mata Alara menangkap sosok Mama Mira yang sedang berdiri di lobby apartemen.
"Mas berhenti!" pinta Alara memegang tangan suaminya.
Alderio reflek menginjak rem, untung tidak ada kendaraan lain dibelakang mereka.
"Sayang, ada apa?" tanya Alderio kebingungan.
"Itu Mama dan Papa bukan, ada Mika dan Bima juga. Sedang apa mereka disana?" tanya Alara.
Alderio mengikuti arah pandang istrinya, ia juga bisa melihat keluarganya yang tampak sedang menunggu seseorang dengan raut wajah beda. Terlihat banyak kekhawatiran dan rasa takut di mata mereka.
"Mas, apa mereka sedang menunggu kita?" tanya Alara menatap suaminya yang masih diam.
"Nggak mungkin, Sayang. Mereka sudah tidak peduli dengan kita," jawab Alderio.
Alara menggelengkan kepalanya, kali ini ia tidak setuju dengan ucapan suaminya. Tanpa meminta izin, Alara langsung keluar dari mobil kemudian melambaikan tangannya kepada Mama Mira.
"Mama!!" panggil Alara melambaikan tangannya.
Mama Mira yang mendengar suara menantunya lantas menoleh, ia tersenyum melihat Alara sedang melambaikan tangan kepadanya, dan ada Alderio juga disana.
Parkiran luar apartemen memang cukup luas sehingga membuat Mama Mira harus menyipitkan matanya untuk melihat wajah Alara.
Mama Mira segera berlari untuk mendekati Alara, karena terlalu semangat membuat mama Mira tidak menoleh kanan dan kiri untuk melihat sekitar.
Mama Mira tidak sadar bahwa ada mobil yang melaju ke arahnya.
Mika hendak ikut berlari untuk menemui kakak iparnya, namun iris matanya menyadari mobil yang hendak menabrak ibu mertuanya.
"MAMA!!!" Teriak Mika buru-buru berlari mendekati Mama Mira dan mendorong tubuh ibu mertuanya menjauh.
Brakkk
Tubuh Mika terpental setelah menyentuh kap mobil yang melaju tanpa batas kecepatan di depan lobby apartemen. Wanita muda itu kemudian tergeletak dengan bersimbah darah cukup jauh dari posisi sebelumnya.
Bima yang melihat istrinya tertabrak tentu saja syok, ia segera berlari mendekati tubuh istrinya yang sudah tidak sadarkan diri.
"Mika, bangun sayang. Bangun, sayang!" pinta Bima menepuk pipi istrinya.
Mama Mira, Papa Aden, Alara dan Alderio ikut terkejut, mereka segera berlari mendekati Bima yang sedang menangis sambil meminta Mika untuk membuka matanya.
"Mika, ya Allah, Nak!!" Mama Mira berteriak histeris melihat kondisi menantunya.
Sementara Alderio mencari-cari, matanya menyipit saat melihat mobil yang menatap Mika berusaha kabur, namun ia sudah berhasil menghafal plat nomor kendaraan roda empat tersebut.
"Bima, ayo bawa istrimu ke rumah sakit." Ajak Papa Aden.
Bima segera menggendong tubuh Mika lalu membawanya ke mobil Alderio, mereka langsung pergi menuju rumah sakit.
Kasihan juga Mika ya😭😭
To be continued