
Masih lanjutin part yang kemarin ya!!!
“Pak Bima.” Gumam Reina menatap pria yang ia harapkan kedatangannya sejak kemarin.
Reina menatap Bima yang tampak begitu rapi dengan setelan jas, layaknya orang akan menikah.
Sementara Bima yang ditatap hanya tersenyum dan menatap jahil gadis dihadapannya ini. Bima melangkah mendekati Reina, lalu memegang kedua tangan Reina yang masih diam seperti patung.
“Kenapa anda disini, Pak?” tanya Reina memotong Bima yang awalnya ingin bicara.
Bima tersenyum mendengar pertanyaan dari gadis yang dicintainya ini.
“Saya mencintai kamu, Reina.” Ungkap Bima secara langsung.
Reina makin terdiam kaku. Ia menelan gumpalan salivanya dengan sedikit sulit, berusaha menyadarkan dirinya sendiri, menajamkan pendengaran nya karena takut salah mendengar apa yang Bima ucapkan barusan.
“Apa yang anda katakan, Pak?” tanya Reina pelan.
“Saya mencintai kamu, benar-benar mencintai kamu, Reina.” Jawab Bima dengan begitu lantang.
Reina tersenyum, meskipun matanya tidak henti mengeluarkan air mata. Air mata bahagia karena ternyata perasaan nya terbalas oleh pria dihadapannya ini.
“P-pak.” Lirih Reina menundukkan kepalanya.
“Ya?” sahut Bima seraya mengusap rambut Reina yang halus dan harum itu.
“Saya juga mencintai anda, Pak.” Ungkap Reina yang juga mengutarakan perasaannya kepada Bima.
Bima tersenyum lebar, ia memegang dagu Reian membuat gadis itu mendongakkan kepalanya dan posisi mereka kini saling menatap dengan dalam.
“Mau menikah dengan saya?” tanya Bima dengan begitu yakin.
Reina dengan cepat mengangguk, bersama senyuman yang begitu manis dan bisa membuat diabetes Bima yang melihatnya.
“Tapi terlambat, Pak. Hari ini adalah hari pertunangan saya, saya sudah dijodohkan. Saya tidak bisa bersama anda, saya tidak mau anda mendapat masalah karena saya.” Ucap Reina seraya menjauhkan tangan Bima dari wajah nya.
“Baru hari pertunangan ‘kan? saya masih bisa merebut kamu sebelum kata sah terucap.” Balas Bima seraya menggenggam tangan Reina.
“Nggak, Pa. Orang tua saya pasti akan mengancam melaporkan anda lagi jika mereka tau dan saya nggak mau anda terkena masalah karena saya.” Tolak Reina dengan cepat.
Bima tersenyum, jadi sebesar itu cinta Reina untuknya.
“Sebesar itu cinta kamu untuk saya?” tanya Bima tampak kesenangan.
“Entahlah, Pak. Bahkan saya bisa melakukan apa saja untuk anda, menyerahkan kebahagiaan salah satunya.” Jawab Reina sedih.
Bima memeluk Reina, mendekap dengan erat gadis yang telah berhasil membuatnya melupakan masa lalu.
“Saya yang akan menikah dengan kamu, Reina.” Ucap Bima dengan tawa kecil yang menyertai ucapanya.
Reina melepaskan pelukan mereka, menatap Bima dengan bingung.
Melihat kebingungan diwajah Reina membuat Bima gemas, ia mencubit pelan pipi Reina kemudian memegang kedua bahu gadisnya.
Reina membuka mulutnya lebar-lebar saat melihat hal didepannya. Disana ada orang tuanya, orang tua Bima, Alara, Alderio dan si kecil Arion. Mereka tersenyum begitu lebar melihat keterkejutan di wajah Reina.
“Saya lah calon suami kamu, Reina.” Bisik Bima tepat ditelinga Reina.
Reina benar-benar syok mendengar pengakuan Bima. Apakah maksudnya adalah semua orang telah mengerjainya.
“Ma, Pa? semua ini?” tanya Reina tidak menyangka.
“Kejutan, Sayang. Dan yang menyarankan ini semua adalah suaminya Alara, dia bilang kamu mencintai adiknya tapi enggan mengungkapkan, begitu juga nak Bima sendiri.” Jawab Papa Jaya menunjuk Alderio.
“Bagaimana kejutannya, Na?” tanya Alara terkekeh.
“Tega lo sama gue, Ra. Gue sampe nangis-nangis minta tolong, ternyata lo juga ikutan dalam kejutan ini.” Celetuk Reina menekuk wajahnya.
Alara tertawa, ia mendekati sahabatnya lalu mengangguk.
“Abis gimana, Na. Kan ini rencana suami gue, kalo gue nggak nurut suami, bisa-bisa dosa.” Jelas Alara membuat semua orang terkekeh.
“Tapi kamu senang kan, sekarang sudah tau perasaan masing-masing?” tanya Alderio, si pemilik ide.
Reina mengangguk dengan yakin, bahkan ia reflek mundur dan langsung menggandeng tangan Bima.
“Senang banget, Pak. Makasih banyak ya, saya jadi tau deh kalo cinta saya nggak bertepuk sebelah tangan.” Jawab Reina senang.
“Gercep ya, Reina.Bima nya langsung gemetaran tuh digandeng kamu.” Celetuk Mama Mira meledek putranya.
Bima melotot, ia merasa terfitnah karena ia bukan hanya gemetaran, tetapi juga tidak tahan untuk memperistri Reina.
“Sudah-sudah, sekarang lebih baik kita mulai acara pertunangan nya.” Ucap Papa Aden menyarankan.
Semua orang setuju, mereka buru-buru mengambil tempat yang sudah disediakan. Tidak ada yang datang kecuali keluarga.
Reina duduk disebelah Bima, kepala gadis itu menoleh ke arah tembok yang bertuliskan ‘Engagement Reina&Bima’. Rasanya benar-benar membahagiakan.
“Ayo pasangkan cincin nya, Bim.” Tutur Mama Mira.
Bima langsung menyematkan cincin indah itu di jari manis Reina yang lebih indah dan cantik.
Tepukan tangan langsung terdengar, dan sekarang giliran Reina yang memasangkan cincinke jari manis Bima. Mereka berdua kini sudah menjadi pasangan bertunangan yang akan menikah dengan waktu cepat.
“Pak, saya butuh cerita setelah acara ini. Bagaimana anda bisa tega mengerjai saya,” bisik Reina dengan wajah yang masam.
Bima terkekeh, ia mengusap kepala Reina dengan sayang lalu mengangguk.
“Iya, Sayang.”
BAPER BRUTAL NGGA TUH SAMA KATA MAS BIM DI AKHIR😭😭
To be continued