My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Kedatangan Mama Reina



Berhari-hari telah berlalu, hari ini merupakan hari terakhir Reina akan menjalani terapi kakinya agar bisa berjalan kembali.


Selama ini, selama ia menjalankan pengobatan di rumah sakit, Bima tidak pernah absen untuk menemaninya, dan hal itu membuatnya tidak tahu diri.


Ya, Reina menyebut dirinya tidak tahu diri karena  mengaku telah jatuh cinta kepada orang yang sudah sangat membantunya.


Ada yang tahu perasaan nya? Alara, wanita itu mengetahui perasaan sahabatnya, bahkan sebelum Reina memberitahunya.


Bagaimana Alara tidak tahu, begitu jelas tatapan Reina untuk adik iparnya, dan hal itulah yang membuat Alara yakin bahwa Reina memiliki rasa kepada Bima.


Tanggapan Alara? Ia bahkan sangat senang, apalagi jika Reina bisa membuat Bima kembali merasa bahagia, karena itulah Alara akan mendoakan yang terbaik untuk keduanya.


"Hari ini yakin lo mau pulang?" tanya Alara yang sedang membantu mengemasi barang sahabatnya.


"Hmm." Jawab Reina hanya berdehem.


"Pulang tanpa kasih tau perasaan lo sama kak Bima?" tanya Alara lagi.


Kali ini pertanyaan Alara membuat Reina mendongak, menatap sahabatnya yang juga sedang menatapnya serius.


"Iya, karena gue cukup tahu diri, Ra. Selama ini pak Bima udah banyak bantu gue, dan sekarang dengan nggak tahu dirinya gue malah suka sama dia." Jawab Reina mendesah pelan.


Alara menggelengkan kepalanya, ia mengulurkan tangannya untuk mengusap bahu sang sahabat dengan lembut.


"Lo cinta sama kak Bima itu nggak bisa disebut 'tidak tahu diri', perasaan lo itu murni. Lagipula kalian sama-sama nggak punya pasangan 'kan." Jelas Alara lembut.


Reina menggelengkan kepalanya.


"Nggak bisa gitu, Ra. Apa tanggapan Tante Mira dan Om Aden." Timpal Reina lirih.


Reina perlahan bangkit dari duduknya, ia pelan-pelan berjalan untuk mengambil tas selempang miliknya.


"Kita keluar yuk, Ra. Gue nggak mau bikin semuanya makin repot," ajak Reina tersenyum hangat.


Alara menghela nafas, ia memegang gagang koper Reina kemudian menariknya pelan.


"Gue doain semoga lo bener-bener jodoh buat kak Bima." Ucap Alara sebelum keduanya keluar dari kamar tempat Reina tinggal.


Reina tersenyum, ia membuka pintu kamar dan keduanya langsung terkejut melihat Bima berdiri disana dengan tangan yang terlipat di dada.


Namun bukan itu yang menjadi titik keterkejutan Reina, ia takut Bima mendengar pembicaraan nya dengan Alara tadi.


"Kak Bima, ada apa dengan wajahmu?" tanya Alara mengerutkan keningnya.


Mendengar pertanyaan Alara, sontak Reina ikut memeriksa pipi Bima yang ditunjuk oleh Alara. Ia mengerutkan keningnya melihat wajah Bima yang merah.


"Sudah siap?" bukan menjawab pertanyaan dua wanita itu, Bima malah balik bertanya.


Reina mengangguk, sementara Alara hanya diam.


Bima mengambil alih koper ditangan Alara, ia lalu mempersilahkan Alara dan Reina berjalan di depannya.


Saat mereka menuruni anak tangga, mereka mendengar keributan di lantai bawah, bahkan saat pijakan kaki semakin ke bawah, suara ribut-ribut itu semakin terdengar jelas.


"Tante Lila." Gumam Alara melihat ibunda Reina ada disana.


Reina tidak kalah terkejutnya melihat kehadiran sang mama disana. Reina berjalan tertatih, ia mendekati sang mama yang sedang marah-marah kepada mama Mira dan juga Alderio.


"Mama." Panggil Reina, menghentikan ucapan sang Mama.


Reina terkejut, termasuk semua orang yang ada disana. 


Pipi Reina terasa panas, ia ingin menangis namun ia tahan. Penjelasan dari sang Mama lebih penting saat ini.


"Mama, ada apa ini?" tanya Reina pelan.


"Ada apa? Kamu masih tanya ada apa?" beo Mama Lila.


"Kamu udah bohong sama Mama dan Papa, Reina. Kamu bilang temani Alara karena suaminya dinas, padahal kamu cedera karena menyelamatkan pria itu 'kan!!" cecar Mama Lila lalu menunjuk Bima.


Reina tersentak. "Darimana Mama tahu?" tanya Reina pelan.


"Nggak penting, sekarang Mama tanya alasan kamu berbohong itu apa?!" tanya Mama Lila semakin meninggikan suaranya.


Reina menundukkan kepalanya, hal yang membuat sang Mama semakin murka, andai saja ada sang papa, mungkin semua bisa lebih tenang, namun sayangnya papa Reina sedang pergi ke luar kota.


"Nyonya, kita bisa bicara baik-baik. Silahkan duduk," tutur Mama Mira lembut.


Mama Lila tidak membalas, ia fokus menatap putrinya yang masih setia menundukkan kepalanya.


"Tante, Reina nggak cerita soal kecelakaan nya karena nggak mau Tante khawatir." Ucap Alara menjelaskan.


"Tante kecewa sama kamu juga, Ra. Kenapa harus berbohong, kenapa nggak bilang sama Tante kalo Reina cedera karena menyelamatkan dia." Sahut Mama Lila.


"Tante, jika Reina mengizinkan kita untuk bicara, kita juga tidak akan mungkin berbohong. Reina tidak mau terjadi sesuatu dengan anda, makanya dan dia berbohong." Jelas Alderio ikut buka suara.


Mama Lila tidak menjawab, ia sayang kepada putrinya, tetapi ia juga tidak suka kebohongan, apalagi selama ini tidak pernah sekalipun ia mengajarkan kepada anaknya untuk berbohong.


"Pulang sekarang!" Mama Lila menarik tangan Reina kasar.


"Lepasin tangan Reina, Tante!!" Bima angkat bicara, ia yang sejak tadi diam akhirnya bicara juga.


Sejujurnya sejak tadi Bima ingin membela Reina, apalagi saat gadis itu menerima tamparan keras dari mamanya, namun Bima cukup paham bahwa ia tidak bisa ikut campur.


Bima melangkah mendekati Reina dan bundanya, ia melepaskan tangan Mama Lila lalu menatap Reina yang masih menundukkan kepalanya.


"Reina seperti ini karena saya, dan saya akan bertanggung jawab." Ucap Bima ambigu.


"Tanggung jawab, apa yang sudah kamu lakukan sama anak saya?" tanya Mama Lila curiga.


"Mama, pak Bima nggak pernah melakukan hal jahat, dia baik sama aku!" tegur Reina yang paham maksud pertanyaan sang Mama.


"Jangan marahi Reina apalagi sampai memukulnya seperti tadi, jika anda mau. Lakukan saja kepada saya," ucap Bima tanpa ragu.


Mama Lila menggeleng. "Saya sudah cukup sekali menampar kamu." Tolak Mama Lila.


Mama Lila menarik tangan putrinya, sebelum benar-benar pergi. Reina sempat menatap Bima dengan mata yang penuh air mata, namun bibirnya tetap berusaha tersenyum.


"Bima, ibunya marah begitu karena Reina akan menikah." Celetuk Mama Mira tiba-tiba.


MAAF NGGAK UPDATE², YANG FOLLOW IG ATAU PUNYA WA AKU PASTI TAHU KENAPA NGGAK UP BEBERAPA HARI INI 😫


BTW, GIMANA TUH SAMA MAS BIM DAN MBAK REINA🤗


To be continued