
Alunan musik yang terdengar halus dan romantis begitu memanjakan telinga para tamu, belum lagi para pasangan yang berdansa dengan indah, menambah kesan tersendiri dalam pesta malam ini.
Ditengah-tengah lantai dansa, tampak pasangan dadakan yang terpaksa harus berdansa bersama karena paksaan dari satu pihak yang tidak bisa mereka tolak.
Alara, orang yang sudah memaksa Bima dan Reina untuk berdansa malam ini, membiarkan para tamu memberikan nilai pada tiap gerakan dan penampilan keduanya yang sangat bagus.
Alara tersenyum senang saat melihat adik ipar dan sahabatnya itu saling tatap, ia tidak berniat memaksakan kehendak, namun tidak ada salahnya jika mencoba untuk mendekatkan mereka bukan?
Jika tidak menjadi kekasih, setidaknya mereka bisa menjadi teman.
"Mas, mereka berdua gemesin banget 'ya!!" ungkap Alara seraya menggandeng tangan suaminya.
"Nggak, lebih gemesin kamu." Sahut Alderio jujur.
Alara mendongak, menatap suaminya yang tampan dibawah cahaya temaram karena sengaja dimatikan.
"Kamu akan terus cinta sama aku kan, Mas?" tanya Alara serius.
Alderio menunduk, membalas tatapan istrinya yang entah mengapa tiba-tiba bertanya demikian.
"Kenapa tanya gitu?" tanya Alderio, mengusap lembut wajah cantik istrinya.
"Tentu kamu sudah tahu jawabannya, Sayang. Aku pasti akan selalu cinta sama kamu, sampai kapanpun!" jawab Alderio dengan yakin.
Alara tersenyum senang, ia hanya butuh jawaban itu dari suaminya.
Alara berjinjit, ia mencium bibir Alderio, menyatukan dua benda kenyal dan mulai menggerakkan nya.
Alara tidak peduli jika ada yang melihat aksinya, toh ia melakukannya dengan suaminya sendiri.
Alderio sama tidak pedulinya, ia hanya fokus meresapi rasa manis dari bibir Alara yang masih betah di bibirnya. Namun mereka terpaksa harus berhenti saat musik telah berhenti dan lampu pun kembali menyala.
Dansa selesai, Alara dan Alderio melarikan tatapan mereka ke arah Bima dan Reina yang sedang saling tatap dengan posisi yang begitu mesra.
Keduanya tersadar saat mendengar riuh tepuk tangan dari para tamu untuk bintang dansa malam ini, yaitu Bima dan Reina.
"Maafkan saya, Pak." Ucap Reina gugup seraya merapikan penampilannya.
Bima tersenyum, kepalanya mengangguk dengan tatapan yang masih terkunci pada gadis itu.
"Saya juga minta maaf, dan terima kasih sudah mau jadi pasangan dansa saya malam ini." Sahut Bima.
Reina membalas dengan angukkan kecil, ia pamit pergi untuk mengambil minum, sekaligus memeriksa sisa pekerjaan nya.
"Cantik." Batin Bima tertuju pada Reina.
Terlalu fokus menatap Reina, membuat Bima tidak sadar jika Alderio dan Alara mendekatinya.
"Menyenangkan bukan?" tanya Alara langsung.
Bima tersadar, ia terkekeh mendengar pertanyaan dari kakak iparnya. Tidak ayal, kepalanya mengangguk sebagai jawaban.
"Sangat, Kak." Jawab Bima.
Bima dan Alderio segera pergi untuk menemui rekan kerja mereka, sementara Alara pergi untuk menemui Reina yang duduk di pojok ruangan.
"Reina!" panggil Alara seraya menarik kursi untuknya duduk.
"Eh, Ra. Kenapa?" sahut Reina.
"Sorry ya, lo pasti nggak nyaman sama adek ipar gue, lo terpaksa cuma demi gue." Ucap Alara pelan.
Reina tertawa, ia memukul pelan bahu Alara.
"Gue nyaman kok, Ra. Gue juga nggak terpaksa kok, pak Bima itu menyenangkan." Jelas Reina jujur.
Alara senang mendengarnya, ternyata Reina dan Bima memiliki penilaian yang baik atas dansa yang baru saja mereka lakukan.
***
Hari semakin malam, kini pesta akan segera selesai, namun sebelum itu Bima akan menyampaikan pesan sebagai penutup kepala para tamu yang hadir.
Bima naik ke atas panggung kecil yang ada, ia meraih mic kemudian menepuknya.
"Baiklah, selamat malam semuanya." Sapa Bima mengarah ke seluruh tamu yang hadir.
"Saya ucapkan terima kasih atas waktu yang kalian luangkan untuk datang ke pesta kami. Doa dan harapan yang kalian ucapkan untuk perusahaan kami semoga dapat dikabulkan oleh Tuhan …" lanjut Bima mulai bicara.
Reina berada di belakang panggung untuk sekedar melihat tes suara agar semuanya baik, namun tiba-tiba seorang tim nya datang dan mengatakan sesuatu.
"APA?!!" kejut Reina melototkan matanya.
Reina beralih ke sebelah panggung, ia terkejut melihat lampu yang tepat berada di atas Bima mulai bergerak.
Lampu yang ukurannya besar, namun bukan terbuat dari kaca, akan tetapi jika sampai menimpa kepala maka itu akan sangat berbahaya.
"Pak!!!" Reina berlari naik ke atas panggung kemudian mendorong Bima agar tidak tertimpa lampunya.
Telat, kaki Reina tidak sampai menghindar. Sebelah kakinya tertimpa lampu yang terbuat dari besi dan aluminium tipis sebagai hiasan, hingga membuat kulit kaki Reina tertusuk.
"Akhhhh!!!!" Ringis Reina tanpa sadar meremat lengan Bima kencang.
"Reina!" Bima tidak kalah terkejut, ia menatap gadis yang berada di atasnya yang sedang meringis kesakitan.
Semua tamu ikut panik terutama Alara, ia khawatir saat melihat darah yang keluar dari kaki sahabatnya.
Reina terluka cukup parah di bagian kaki sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Bima dengan sigap menggendong tubuh gadis itu lalu membawanya keluar dari hotel.
"Bertahanlah, Reina." Ucap Bima lirih.
BELOM APA-APA UDAH BERKORBAN YA MBAK REINA😭
To be continued