
"Aku cuma malu, Mas. Bukan nggak siap,"
Bima yang mendengarnya tampak sedikit terkejut, namun sesaat kemudian ia langsung mendekatkan wajahnya dan mencium bibir istrinya dalam-dalam.
Bima melakukannya dengan terburu-buru dan menggebu, melupakan niatnya untuk memperlakukan sang istri dengan lembut agar tidak kesakitan.
Napsu sudah membuat Bima hilang akal, selama berbulan-bulan ia berpuasa, dan hari ini akhirnya ia bisa kembali merasakan surga kenikmatan yang halal bersama Reina, istrinya.
Sementara Reina hanya bisa pasrah, ia mungkin merasa sedikit sakit, namun karena tak mau mengganggu kesenangan sang suami, Reina memilih menikmatinya saja.
Bibir Bima perlahan turun ke leher jenjang istrinya, mencetak tanda berwarna keunguan dan membuat Reina meringis karenanya.
Reina menggigit bibirnya, ia merasa sangat aneh saat merasakan bibirnya sedikit lebih besar, dan itu pasti ulah suaminya.
"Ahhhh …" Reina melenguh saat tangan Bima terampil memainkan si kembar indah milik Reina.
Bima tersenyum saat mendengar suara indah istrinya yang mengalun bagai melodi ditelinga nya. Ia kembali menegakkan tubuhnya, menyatukan bibir mereka dalam tarian lidah yang menyenangkan.
Sambil bibir mereka menyatu, tangan Bima mulai menurunkan tali spageti dari lingerie yang dikenakan Reina.
Setelahnya, barulah Bima membuka lilitan handuk yang melingkar erat di pinggangnya.
"M-mas." Reina terbata saat matanya melirik milik suaminya.
Reina mendadak takut, ada sedikit penyesalan karena langsung memberikan hak kepada Bima tanpa tahu ukuran milik pria itu..
Reina rasanya ingin kabur dan menenggelamkan dirinya di samudera Atlantik, membiarkan tubuhnya membeku disana.
"Kenapa, Sayang?" tanya Bima lembut, tangannya menyeka keringat yang mengalir dari kening, turun ke leher sang istri.
"A-aku takut, pasti tidak akan muat, Mas." Jawab Reina gugup sekali.
Bima menahan tawanya, ia tidak mau membuat istrinya tersinggung. Ia mengusap pipi Reina yang terasa halus, kemudian mencium kening nya hangat.
"Aku janji sakitnya hanya sebentar, Sayang. Selebihnya akan nikmat, kamu percaya aku kan?" tanya Bima mencoba menyakinkan.
Reina menatap dalam mata suaminya. Tersirat akan banyaknya gairah dan keinginan untuk berhubungan. Jika Reina menolak, itu sama saja ia mencari dosa karena tidak memenuhi kebutuhan suami.
Reina tersenyum, ia mengalungkan tangannya di leher sang suami lalu mengecup bibir nya.
"Pelan-pelan tapi ya, Mas. Aku takut," cicit Reina malu-malu.
Bima mengangguk, ia balas mencium leher istrinya dan kembali memberikan tanda.
"Shhhhh … Mas." Kembali terdengar suara nikmat dari mulut Reina tatkala suaminya kembali bermain di bukit kembarnya.
Mulut Bima semakin turun, ke perut, kedua paha Reina dan terakhir adalah titik paling sensitif seorang wanita.
"Mas, jangan!!" larang Reina namun tidak dihiraukan oleh suaminya.
"Ahhhh … Mas!!!!" Reina berteriak begitu kencang saat merasakan sapuan lidah suaminya dibawah sana.
Bima semakin gencar, ia sengaja membuat pemanasan sebelum mereka benar-benar ke menu utamanya.
Setelah cukup puas membuat istrinya terengah-engah dan mendapatkan pelepasan, Bima kembali bangkit dan mencium bibir istrinya lagi dengan terburu-buru.
Reina sampai kewalahan menghadapi napsu suaminya yang menggebu-gebu. Ia meremat bahu lebar Bima sebagai tempat pelampiasan, bahkan beberapa kali kukunya menancap di punggung Bima.
"Sayang, langsung ya?" tanya Bima berbisik.
Reina mengatur nafasnya, ia mengangguk dan membiarkan suaminya melakukan hubungan yang sudah sangat dinantikannya itu.
"Lakukan, Mas. Ingat, pelan-pelan." Tutur Reina pelan.
Bima mengangguk paham, ia mulai mendekatkan miliknya ke lembah basah istrinya.
"Shhhh … sakit, Mas." Ringis Reina pelan.
Bima tahu, istrinya pasti kesakitan, namun ia benar-benar sudah sangat ingin melakukan ini. Gairahnya sudah diujung tanduk.
Dengan sekali dorong, Bima akhirnya berhasil membobol gawang pertahanan Reina yang telah dijaga bertahun-tahun.
Ada rasa bangga dalam dirinya karena menjadi yang pertama untuk Reina.
"Makasih, Sayang. Sudah menjaganya," bisik Bima mesra.
Reina tidak bicara apapun, ia sedang memejamkan mata sambil menahan sakit yang terasa di bawah sana.
Reina bahkan merasakan bahwa ia telah mencakar suaminya, kukunya yang panjang pasti akan meninggalkan bekas cakar di punggung Bima.
Setelah beberapa saat, Bima mulai memacu tubuhnya di atas sang istri. Ia melakukannya dengan hati-hati, tidak mau semakin dalam menyakiti istrinya.
"Mas, cepet sedikit." Pinta Reina terbata.
Bima melakukan apa yang istrinya minta, berawal dengan gerakan perlahan, kini mulai cepat, bahkan Reina sampai tersentak karenanya.
"Reina … sayang, kamu istriku, hanya milikku!!" teriak Bima ditengah kegiatannya.
Reina tersenyum mendengar ucapan suaminya, ia berusaha menggapai tengkuk sang suami dan mencium bibirnya.
Kegiatan yang panas dan nikmat itu berlangsung cukup lama. Bima yang seakan tidak puas terus mengulangi lagi dan lagi, hingga membuat Reina remuk dan hampir pingsan.
Gadis yang kini berubah menjadi wanita terlihat sudah memejamkan mata dengan nafas memburu, berulang kali ia meminta suaminya berhenti dan baru sekarang permintaanya didengar.
"Makasih, Sayang. Dan maafkan aku," bisik Bima kemudian menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
***
Keesokan harinya, Bima dan Reina bangun bersama. Mereka tidur berdua, namun bangun bertiga.
Paham kan?
"Nggak mau, Mas. Aku capek, semalam cuma tidur sebentar loh!" tolak Reina sambil merengek.
"Sayang, dia bangun gara-gara lihat kamu." Celetuk Bima tak kalah merengek.
Reina berdecak, ia tidak menyangka Bima memiliki napsu yang sangat besar. Apakah pria memang begini atau hanya suaminya saja.
"Ihhh, janji sekali aja ya?" pinta Reina ketus.
Bima tersenyum, ia tidak menjawab permintaan sang istri dan langsung menindih tubuh Reina.
Pagi hari yang harusnya diawali dengan sarapan, justru Bima malah mengajaknya olahraga tiada henti sebelum puas.
Reina benar-benar harus belajar menandingi kekuatan suaminya diatas ranjang, ia bisa pingsan jika tidak protes.
Yang katanya sekali justru menjadi berkali-kali, itulah ucapan pria yang tidak pantas dipercaya, apalagi jika sudah soal ranjang.
Setelah semuanya usai, Reina langsung memukuli suaminya yang berdusta. Ia marah, tidak mau bicara dengan Bima, bahkan sarapan saja Reina keluar duluan.
Bima ketar-ketir, ia takut istrinya marah dan mengadu kepada seluruh keluarga nanti, dan yang paling ia takuti adalah tidak mendapat jatahnya.
Sumpah! Bagi kalian yang punya sandal, pentungan, ember atau apapun. Dipersilahkan untuk melempar kepada Bima yang tidak pernah puas dan terus menyiksa istrinya.
Yuk yuk dipersilahkan😅
To be Continued