
Alderio mengerutkan keningnya dengan mata terpejam saat mendengar ringisan kecil dari sebelahnya. Perlahan-lahan ia membuka matanya dan terkejut melihat istrinya sedang meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
Alderio duduk, ia menepuk-nepuk pipi sang istri untuk membangunkannya nya.
"Sayang." Panggil Alderio tergesa-gesa.
Alara membuka matanya, wanita itu tampak kesakitan dengan keringat dingin yang sudah membasahi wajahnya.
"Sakit, Mas. Perut aku, hiks …" adu Alara meremat bajunya.
Alderio panik, ia menyingkap selimut dan keterkejutan nya semakin besar kala melihat ranjang yang ditempati Alara basah karena ketuban.
"Sayang, kamu akan melahirkan!!" ucap Alderio setelah mencerna situasi yang saat ini terjadi.
Alderio meraih ponsel dan kunci mobilnya yang ada di nakas, ia turun dari ranjang lalu mengambil jaket untuk istrinya.
"Sayang, pakai ini. Kita harus ke rumah sakit sekarang!" Alderio langsung menggendong istrinya yang masih terus meringis kesakitan.
Alderio keluar dari apartemen nya, ia langsung masuk ke dalam lift dan menekan angka lantai yang akan mereka tuju. Mereka harus ke basemen.
"Hiks … akhhh … sakit, Mas!!!" teriak Alara di telinga suaminya.
Alderio semakin khawatir, ia ikut berkeringat mendengar suara ringisan dan teriakan dari sang istri.
"Sayang, tenang 'ya. Kita akan ke rumah sakit," bisik Alderio lembut.
Saat sampai di basement, Alderio langsung menuju mobilnya, ia mendudukkan sang istri di kursi samping kemudi, tidak lupa ia juga memasangkan seatbelt nya.
"Mas, aku nggak tahan!!" ucap Alara memegangi perutnya yang besar.
Alderio mencium kening istrinya, ia buru-buru menyusul dan masuk ke dalam mobil.
Alderio menyalakan mesin dan langsung tancap gas meninggalkan area apartemennya. Karena jalanan yang sepi, membuat Alderio bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Alderio melesat, menyalip tiap mobil yang ada di depannya, ia harus bisa membawa istrinya ke rumah sakit segera.
Sementara Alara meremat jok mobil suaminya, ia menarik nafas dan membuangnya perlahan, dan cara itu bisa sedikit mengurangi rasa sakit di perutnya.
"Sayang, aku tahu kamu kuat. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit, sabar ya!" ucap Alderio berusaha untuk menenangkan istrinya.
Alara mengangguk, ia berusaha untuk tersenyum agar suaminya tidak terlalu khawatir padanya.
"Akhhhh …" Alara tidak bisa lagi mengontrol teriakannya saat rasa sakit semakin dirasakannya.
Akhirnya Alderio berhasil sampai di rumah sakit, tanpa memarkirkan mobilnya dulu, Alderio langsung keluar dari mobil dan membawa istrinya ke dalam.
"Dokter … Dokter!!!" teriak Alderio memenuhi satu koridor.
Tidak lama kemudian seorang suster dan dokter datang, mereka langsung meminta Alderio untuk membawa istrinya ke ruang persalinan.
"Hiks … awww … Mas, sakit banget!!" ucap Alara sambil menggenggam tangan suaminya.
"Iya, Sayang. Aku tahu, tapi aku juga tahu kamu kuat, sebentar lagi anak kita lahir, kita berjuang sama-sama ya." Bisik Alderio seraya melangkah cepat mengikuti laju brankar yang istrinya tiduri.
Alderio diperbolehkan untuk ikut masuk dan menemani istrinya melahirkan, saat sudah di dalam ruangan, dokter tidak langsung membantu Alara persalinan sebab pembukaan nya belum lengkap.
"Dokter, berapa lama lagi??" tanya Alderio tidak sabar.
"Mas, aku takut!" Cicit Alara ditengah-tengah ringisan nya.
Alderio menggeleng, ia mencium kening sang istri dengan hangat.
"Nggak ada yang harus ditakuti, Sayang. Aku yakin kamu bisa melewati ini semua," sahut Alderio lirih.
Alara kembali meringis dengan keras, dan hal itu membuat Alderio benar-benar berteriak memanggil dokter.
Dokter datang, ia memeriksa keadaan Alara dan ternyata pembukaan untuk melahirkan sudah lengkap.
"Siapkan segalanya, Sus." Ucap Dokter kepada perawat di sebelahnya.
Alderio menggenggam tangan Alara sambil sesekali menciumnya, ia juga mengusap wajah berkeringat istrinya yang kini masih menangis dan meringis.
"Bu Alara, dalam hitungan ketiga, maka mengejan lah dengan kencang 'ya." Ucap dokter menginstruksikan.
Alara mengangguk, ia menarik nafas dan membuangnya secara teratur agar pernafasan tetap terjaga.
"Satu, dua, tiga. Dorong, Bu!!!" Ucap dokter.
Alara dengan sekuat tenaga langsung mengejan, pegangan di tangan suaminya semakin kencang.
"Lagi, Bu." Pinta dokter lagi.
Alara menarik nafas, ia lalu mengejan dengan sekuat tenaga, bahkan sampai wajahnya memerah.
"Sayang, aku disini sama kamu. Aku tahu kamu kuat," bisik Alderio sekedar menyemangati istrinya.
"Akhhhhh!!!!" teriak Alara menggenggam tangan Alderio dan pinggiran brankar dengan kuat.
Oekkk … oekkk …
Alderio tidak henti menciumi seluruh wajah istrinya saat tangisan bayi terdengar begitu nyaring di semua penjuru ruangan.
Pria yang berprofesi sebagai dosen sekaligus kepala keuangan itu tidak henti mengucapkannya terima kasih kepada sang istri yang mau berjuang untuk melahirkan buah cinta mereka ke dunia.
"Sayang, hiks … terima kasih banyak!" ucap Alderio berbisik, bahkan pria yang mendapat julukan dingin dan datar itu kini menangis.
Alara tersenyum, nafasnya masih terengah-engah setelah memperjuangkan anaknya yang ingin melihat indahnya dunia.
Tangan Alara yang masih lemas berusaha menggapai wajah tampan suaminya, ia mengusapnya dengan lembut.
"Terima kasih sudah berjuang bersama, Mas." Ucap Alara pelan.
Alderio mengangkat wajahnya, ia menatap wajah cantik istrinya dan tersenyum.
Senyuman Alderio hilang saat istrinya tiba-tiba memejamkan matanya dan tangan yang ada di wajahnya jatuh begitu saja.
"Sayang." Panggil Alderio menangkup wajah istrinya.
BABY GIRL OR BOY???
To be continued