My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Kebobolan?



Bima menjabat tangan Alderio dengan penuh kebahagiaan. Akhirnya hari ini, kakak laki-lakinya itu diangkat menjadi seorang Ceo di perusahaan keluarga mereka.


Jika dulu Bima selalu ingin menjadi pemegang tertinggi perusahaan, maka sekarang tidak. Ia tahu bahwa Alderio lah yang lebih pantas untuk posisi tersebut.


“Selamat datang di perusahaan kita, Kak.” Ucap Bima dengan senyuman mengembang di wajahnya yang tampan.


Alderio yang awalnya tidak tahu apa-apa nampak masih kebingungan. Ia kira Papa Aden memintanya datang hanya untuk peresmian cabang perusahaan, tetapi ternyata papa Aden juga memperkenalkan dirinya sebagai pimpinan baru di perusahaan.


“Pa, Bima lebih berhak.” Ucap Alderio pelan.


Papa Aden dan Bima sama-sama menggeleng.


"Tidak, Al. Kalian punya hak yang berbeda, kau anak sulung dan sudah sewajarnya meneruskan perusahaan keluarga kita. Begitu juga dengan Bima, dia akan turut membantu kamu dalam mengembangkan nya.” Tambah Papa Aden menjelaskan.


Alderio mencerna dengan baik kata-kata yang diucapkan oleh Papa dan juga adiknya. Memang benar jika dirinya adalah anak sulung dan sudah sewajarnya untuk meneruskan perusahaan, tetapi Al tidak enak kepada adiknya yang selama ini lebih banyak peran.


Namun karena Bima sudah setuju untuk dirinya menjadi pimpinan perusahaan, maka Al tidak bisa menolaknya lagi. Ia menerima posisi ini dengan syarat Bima akan ikut membantunya.


"Pa, terima kasih banyak." Alderio memeluk sang papa dengan erat.


Papa Aden mengusap punggung Alderio, ia tepuk pelan sebagai bentuk pemberian semangat ayah untuk anaknya.


"Harus semangat, demi Rio dan adiknya." Celetuk Bima tiba-tiba.


Alderio terkekeh, melepaskan pelukan pada sang papa lalu beralih memukul bahu adiknya.


"Belum, kau yang sebentar lagi akan punya anak. Terima kasih ya, sudah memberikan Rio adik." Timpal Al dibalas tawa oleh Bima.


***


Malam harinya di kediaman keluarga Haiyan terlihat ramai dengan para keluarga. Semuanya berkumpul untuk merayakan jabatan Alderio yang baru.


Orang tua Alara dan Reina juga turut hadir di acara tersebut.


"Sudah berapa bulan usia kandungan kamu, Na?" tanya Mama Dania kepada ipar putrinya.


"Jalan delapan minggu, Tante." Jawab Reina seraya mengusap perutnya yang masih datar.


Mama Dania tersenyum penuh arti, ia mengusap kepala Reina.


"Selamat ya, semoga semuanya lancar. Makasih sudah menjadi sahabat Alara sejak dulu, eh Alhamdulillah sekarang malah jadi ipar." Pungkas Mama Dania.


Reina terkekeh, ia menganggukkan kepalanya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih atas doa yang diucapkan oleh Mama nya Alara.


Acaranya tidak mewah, tetapi cukup berkesan bagi mereka semua, terutama Alara yang ikut merasa senang karena suaminya bahagia.


Namun sisi lain Alara juga sedih, sudah beberapa hari ini Rio terus saja menangis tanpa alasan.


Saat bermain nangis, menyusu nangis, bahkan makan pun sering tiba-tiba menangis.


"Rio kenapa, Ra?" tanya Mama Mira kepada sang menantu.


"Nggak tau, Ma. Belakangan ini nangis terus, aku jadi pusing karena bingung." Jawab Alara mengangkat kedua bahunya.


Alara menatap putranya yang sedang menangis sambil menarik-narik bajunya, entah apa yang diminta oleh bayi itu sekarang.


"Adek mau apa, mau susu?" tanya Alara lembut.


"Udah gih susuin dulu di kamar, Al." Tutur Mama Mira.


Alara mengangguk paham, ia segera membawa putranya pergi untuk disusui di kamar Alderio.


Alara tidak mungkin meminta bantuan suaminya yang sepertinya sedang serius bicara dengan Bima dan para Papa di ruang baca.


"Ra, lo mau kemana?" tanya Reina menghampiri sahabatnya.


"Susuin Rio, dia nangis terus." Jawab Alara menunjukkan putranya yang sudah sesegukan akibat sering menangis.


Reina menatap keponakannya dengan lembut.


"Keponakan onty kenapa, kok jadi cengeng gini?" tanya Reina pelan.


Bukannya terhibur, tangis Rio semakin pecah, membuat Alara harus mati-matian mendiamkannya.


"Rio, mau apa Sayang. Lihat kartun mau?" tawar Alara dan kali ini berhasil membuat tangis anaknya berhenti.


Alara kembali duduk di sofa dengan Rio yang menonton kartun di ponselnya. Tangan Alara mengusap kening Rio yang berkeringat karena terus menangis.


"Ra, lo hamil kali makanya Rio rewel banget." Ucap Reina tiba-tiba.


"Nggak lah, nggak mungkin." Sahut Alara menggeleng tegas.


"Kenapa nggak, Ra. Bisa aja kamu sama Al kebobolan, terus jadi Rio punya adik." Timpal Mama Dania.


"Iya, Ra. Biasanya kalo anak rewel tuh mau punya adik, jadi cengeng karena kasih sayangnya terbagi." Tambah Mama Lila.


Alara diam mencerna kata-kata orang tuanya, selama ini Al memang selalu mengeluarkan di dalam jika mereka berhubungan, padahal Alara sudah melarang.


"Nggak mungkin kayaknya, Ma." Kekeh Alara pada pendiriannya.


"Kamu kb atau minum pil gitu nggak?" tanya Mama Mira.


Alara menjawabnya dengan gelengan kepala, selama ini Al selalu melarangnya untuk mengkonsumsi obat pencegah kehamilan.


Hal itu semakin membuat semua orang yakin jika Alara memang sedang berbadan dua.


"Gini aja, besok kamu ajak Rio periksa ke dokter, takut ada apa-apa. Kamu juga periksa, siapa tau dugaan kita semua benar." Ucap Mama Mira menasehati.


Alara menghela nafas, ia mengangguk nurut dengan ucapan ibu mertuanya. Kebetulan sekali ia juga sudah telat datang tamu bulanan, meskipun baru seminggu.


Alara memeluk putranya, sungguh tidak tega jika Rio benar-benar akan punya adik di usianya yang masih sangat kecil, Alara belum rela jika harus membagi kasih sayang nya.


BAHAYA JUGA PAK AL YA😩😩


To be Continued