
Alara menjadi bulan-bulanan seluruh keluarga karena keluar untuk makan malam dengan rambut basah yang digulung dengan handuk, ini semua terjadi karena Alderio yang tidak tahu tempat, waktu apalagi situasi jika sudah mesumm.
Alara merasa malu, namun sepertinya Al tidak. Pria itu dengan santai menyantap makan malam nya tanpa peduli pada ucapan keluarganya.
"Pantesan di kamar terus, lagi usg pribadi toh." Celetuk Mama Mira meledek putranya.
"Ma, hentikan. Kasihan istriku," tegur Al melirik ke arah Alara yang terus menundukkan kepalanya.
"Nggak usah malu, Ra. Kalian kan memang suami istri, wajar saja." Ucap Mama Dania lembut.
Alara tak menjawab, ia hanya diam sambil menggigit bibirnya. Alderio yang paham istrinya masih ngambek lantas mengusap kepala wanitanya dengan sayang.
"Mau aku suapin?" tawar Al dengan lembut.
Tawa Mama Mira dan yang lainnya kembali terdengar, kecuali Renata, Mika dan Bima yang terlihat tidak suka dengan Alara yang begitu disayang semua orang.
"Aku nggak nafsu makan, Mas. Kamu aja," tolak Alara menggelengkan kepalanya.
"Kamu mau makan yang lain?" Alderio beralih mengusap punggung tangan istrinya.
Alara mengangukkan kepalanya, ia sedang ingin makan seafood yang pedas.
"Mau makan kepiting asam manis." Jawab Alara pelan.
Alderio meraih segelas air putih lalu menenggaknya, ia mengambil selembar tisu untuk mengusap noda disudut bibirnya.
"Yuk." Ajak Alderio.
"Tapi makanan kamu belum habis, Mas." Ucap Alara melihat makanan suaminya masih utuh.
"Aku udah kenyang." Balas Alderio seraya bangkit dari duduknya.
Alara ikut bangkit, mereka hendak pergi namun suara Renata menghentikan langkah keduanya.
"Al, boleh aku ikut. Aku ingin makan seafood juga," ucap Renata dengan tidak tahu malunya.
Mama Dania dan Papa Wahyu saling pandang, mereka kembali menatap Renata yang entah mengapa mereka tidak suka. Tadi tanpa sengaja papa Wahyu mendengar ucapan Renata yang menjelekkan Alara.
"Kamu bisa pergi sama Mika, Ta. Jangan mengganggu Alderio dan istrinya." Sahut Papa Aden.
"Iya, Renata. Kamu bisa ajak Mika, tapi jangan ganggu Al dan Alara." Sambung Mama Mira.
Renata terlihat mengepalkan tangannya, ia tidak mau jika Alderio dan Alara terus saja bermesraan, hatinya terasa panas.
"Mika tidak bisa, Ma. Dia sedang hamil," ucap Bima membuka suaranya.
"Alara juga sedang hamil, lagipula kamu kan sudah besar, Ta. Pergi saja sendiri," timpal Mama Mira.
Alderio dan Alara sama-sama menghela nafas, tanpa berpamitan lagi, Alderio langsung menarik tangan istrinya keluar dari vila. Terasa buang-buang waktu jika menunggu wanita itu, lagipula Al tidak tertarik mengajak Renata.
"Mas, Renata itu caper ya sama kamu." Ucap Alara dengan suara tak suka.
"Biarkan saja, yang penting aku nggak tanggapin." Balas Alderio mengusap pipi Alara yang terasa lembut.
"Kita cari seafood dimana, Mas? Jalan kaki aja?" tanya Alara dengan polos.
"Ya nggak dong, Sayang. Kita kan harus turun buat cari, jalannya kan lumayan jauh." Jawab Alderio gemas.
"Maaf ya, Mas. Tapi ini permintaan Dedek bayinya," ucap Alara mengusap perutnya yang sudah sedikit besar.
Alderio tersenyum, ia ikut mengusap perut Alara lalu mencium kening istrinya.
"Nggak apa-apa, Sayang. Aku mengerti dan memang sudah tugasku memenuhi keinginan kamu." Sahut Alderio dengan suara yang begitu manis.
Alara dan Alderio masuk ke dalam mobil, mereka langsung pergi untuk mencari penjual seafood sesuai permintaan Alara.
Sementara Alara dan Alderio pergi, kini Renata sedang meluapkan emosinya di kamar. Ia melempar bantal dan juga selimut yang tertata rapih diatas ranjang.
"Lihat saja kau Alara, aku akan mengambil Alderio kembali. Dia milikku!" Renata menjambak rambutnya sendiri karena frustasi.
Renata beranjak dari duduknya, ia segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berharap otaknya juga bisa terasa segar.
Baru saja melangkah masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba kakinya terpeleset yang mana membuatnya jatuh terduduk di lantai.
"Awwwww …" ringis Renata memegangi pinggangnya.
Renata meraba tembok, ia bangkit dari duduknya lalu berjalan tertatih ke ranjang.
"Sial, kenapa jatuh sih. Sakit banget lagi," gumam Renata memijat kakinya sendiri.
Renata mengusap kakinya yang terasa sakit, tiba-tiba sebuah ide muncul dikepalanya. Ia memikirkan dengan matang idenya dan berakhir menciptakan seringai di wajahnya.
"Let's play the game, Alara." Gumam Renata tersenyum senang.
JANGAN BOSAN TUNGGU UPDATENYA AKU YA😭😭
To be continued