My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Permintaan Bima



Sebulan berlalu sejak kejadian naas yang menimpa Mika dan merenggut nyawa wanita itu. Selama satu bulan itu keluarga Haiyan tidak henti memberi dukungan kepada Bima yang paling merasa kehilangan atas kepergian istrinya.


Mogok makan, berdiam diri di kamar bahkan percobaan bunuh diri telah dilakukan oleh Bima, beruntung dapat dicegah oleh keluarga Haiyan.


Namun kini semua telah baik-baik saja, semenjak Renata dijatuhi hukuman 6 tahun penjara karena kasus tabrak lari dan 3 tahun penjara kasus percobaan pembunuhan yang ditujukan untuk Alara, Bima merasa lebih baik. Setidaknya ada keadilan untuk istri dan anaknya.


Alara dan Alderio pun senang karena Bima sudah bisa menjalankan aktivitas kembali, bahkan pria itu kini sudah bekerja di perusahaan milik keluarga Haiyan.


"Mas, gimana kalo hari ini pulang dari kantor, kita jalan-jalan?" tanya Alara seraya memasangkan dasi di leher suaminya.


"Mau kemana hmm, kamu bosan ya dirumah terus?" tanya Alderio balik seraya merengkuh pinggang istrinya.


"Bosan banget, setiap hari kerjaan aku cuma tiduran, makan, tiduran lagi. Kamu kan nggak izinin aku kerja berat," jawab Alara menekuk wajahnya.


Alderio terkekeh, ia lalu mengusap perut istrinya yang sudah semakin besar.


"Mana mungkin aku biarkan kamu kerja berat, apalagi perut kamu udah besar gini." Ucap Alderio memegang perut Alara yang sudah 7 bulan.


"Dedek aja di dalam sini suka tendang-tendang, Mas. Aku yakin dia kaya gitu karena bosan, mau jalan-jalan tapi papa nya selalu sibuk." Sindir Alara lalu memakaikan jas kepada suaminya.


Alderio tersenyum, ia tahu dan sadar bahwa belakangan ini ia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Kampus dan kantor, bahkan Alderio terpaksa harus mengambil jam kerja di kampus hanya Sabtu dan Minggu agar sisa harinya bisa fokus bekerja di kantor.


"Senin sampai Jumat kamu di kantor, Sabtu dan Minggu di kampus. Kamu nggak ada waktu buat aku, Mas." Lirih Alara menundukkan kepalanya.


Alderio menghela nafas, ia mengangkat wajah istrinya sehingga mereka saling bertatapan.


"Aku minta maaf 'ya. Janji deh aku bakal berusaha punya waktu untuk kamu dan anak kita." Ucap Alderio sungguh-sungguh.


"Dan, aku jemput jam 5 sore ya. Kita jalan-jalan sekalian beli perlengkapan baby yang kurang," lanjut Alderio seraya mengusap wajah istrinya.


"Sungguh, Mas?!!" tanya Alara antusias.


"Iya, Sayangku, cintaku Mama Ara cantik!!" jawab Alderio gemas.


"Yeayyy!!! Makasih banyak, Mas." Ungkap Alara lalu memeluk suaminya.


Alderio membalas pelukan istrinya, ia mengusap rambut lalu turun ke punggung sambil sesekali memberikan kecupan kasih sayang di puncak kepala istrinya.


"Mas, aku udah masak sarapan buat kamu. Yuk makan!" ajak Alara menggandeng tangan Alderio.


Al menurut saat tangannya ditarik oleh Alara keluar dari kamar. Apartemen mereka memang kecil, tetapi Alderio tidak pernah membiarkan Alara mengerjakan tugas rumah seorang diri sehingga ia menyewa jasa asisten rumah tangga yang tidak menginap untuk bekerja di rumahnya.


"Sayang, kamu mau kan jika kita pindah dari sini. Aku kasihan sama kamu jika terus tinggal di apartemen kecil ini." Ucap Alderio menatap istrinya.


"Kecil apa sih, Mas. Apartemen kamu ini besar, meski kamarnya hanya satu, dan aku nyaman kok tinggal disini." Balas Alara melihat sekeliling apartemen nya.


"Tetap saja, Sayang. Sebentar lagi anak kita lahir, dan dia pasti juga butuh kamar sendiri. Jadi aku akan cari rumah kecil-kecilan untuk kita." Ujar Alderio lalu menyantap sarapannya.


Alara menghela nafas, ia akhirnya mengangguk karena ia tahu jika suaminya sudah berkata maka ia tidak bisa untuk menolak, lagipula itu semua demi kebaikannya juga.


"Nambah ya, Mas?" tanya Alara menawarkan.


"Nggak, Sayang. Aku kenyang," jawab Alderio menolak.


"Kamu makan nya sedikit banget sih, Mas." Alara geleng-geleng kepala melihat porsi makan suaminya yang sedikit.


Alderio terkekeh mendengar ucapan istrinya, saat hendak berucap lagi, tiba-tiba suara bel rumah berbunyi.


"Mbak, tolong buka pintunya 'ya." Ucap Alara kepada asisten rumah tangga yang kebetulan lewat.


"Baik, Nyonya." Balas asisten rumah tangga itu mengangguk.


Setelah dibukakan pintu, ternyata yang datang adalah Bima. Pria berkemeja navy itu menghampiri kakak dan kakak iparnya.


"Selamat pagi, Kak. Aku mengganggu ya." Ucap Bima tersenyum lebar.


"Tidak sama sekali, Bim. Ayo duduk, sarapan bersama." Tutur Alderio kepada adiknya.


"Tidak, Kak. Terima kasih, aku sudah sarapan. Aku datang kesini hanya ingin memberitahu bahwa kalian harus datang ke acara ulang tahun perusahaan keluarga kita minggu depan." Jelas Bima seraya menarik kursi untuknya duduk.


"Ya, kak Bima. Kami pasti datang," sahut Alara, meskipun Bima adik iparnya, tetap saja ia memanggil pria itu dengan embel-embel 'kak'.


"Satu lagi, Kak. Ayo bekerja di perusahaan papa, apa kau masih belum memaafkan ku?" tanya Bima memelas.


"Bukan begitu, Bim. Tetapi aku kan sudah dikontrak oleh perusahaan tempatku bekerja, dan tidak benar jika aku berhenti." Jawab Alderio menjelaskan.


"Setidaknya datanglah kesana, sekedar melihat perusahaan yang kelak akan kau pimpin." Pinta Bima.


Alderio menghela nafas, ia akhirnya mengangguk. Mungkin kapan-kapan ia akan mampir ke perusahaan Haiyan.


Enak ya kalo akur🥰🥰


To be continued