
Reina dilarikan ke rumah sakit dan mendapat penanganan dari dokter akibat kakinya yang terluka cukup parah. Bima dan seluruh keluarga Haiyan turut datang ke rumah sakit karena khawatir akan keadaan Reina usai menyelamatkan Bima.
Bima terlihat paling khawatir diantara yang lainnya termasuk Alara.
“Aku takut terjadi sesuatu yang fatal dengan Reina!” gumam Bima yang masih didengar oleh Alderio karena pria itu berdiri tepat di sebelah adiknya.
"Kita doakan saja dia tidak apa-apa, kau jangan merasa bersalah gini." Sahut Alderio mencoba menenangkan.
Bima tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya pelan.
Jika boleh jujur, Bima trauma dengan rumah sakit. Ia teringat masa dimana dirinya harus kehilangan istrinya dulu, ia berasumsi bahwa jika masuk ke rumah sakit karena kecelakaan, maka akan berakhir tiada.
Alara duduk sambil mengusap perutnya, air matanya sudah membasahi wajahnya yang cantik. Ia takut terjadi sesuatu pada sahabatnya yang sudah rela mengorbankan diri untuk adik iparnya.
Mama Mira juga turut sedih, ia tidak mengenal Reina, namun ia tahu bahwa gadis yang sudah menyelamatkan Bima adalah sahabat menantunya.
"Mama nggak tahu harus bilang apa sama gadis itu, Pa. Jika saja dia tidak menyelamatkan Bima, maka kepala Bima bisa langsung tertusuk lampu tadi." Lirih Mama Mira.
"Iya, Ma. Karena itulah kita harus mendoakan supaya gadis itu bisa baik-baik saja." Sahut Papa Aden seraya mengusap bahu sang istri.
Tidak lama kemudian dokter keluar dari ruang periksa Reina. Bima dan yang lainnya langsung mendekat untuk menanyakan keadaan gadis itu.
"Bagaimana keadaan Reina, Dok?" tanya Bima.
"Keadaan nona Reina baik-baik saja, tetapi kakinya mengalami cedera cukup parah dan tidak akan bisa berjalan kurang lebih dua minggu." Jawab Dokter menjelaskan.
Alara sedikit lega, meskipun sahabatnya mengalami cedera kaki, setidaknya hal yang ia takutkan tidak terjadi, lampu tadi tidak mengenai kepala gadis itu.
"Dokter, bisa kami menemui nya?" tanya Mama Mira.
"Silahkan, Nyonya." Jawab Dokter mempersilahkan.
Semuanya pun segera masuk ke dalam ruangan dimana Reina berada, disana, tepat di atas brankar terlihat seorang wanita sedang berbaring dengan perban yang melilit kakinya.
"Ara." Panggil Reina pelan.
Alara segera mendekat, ia memeluk sahabatnya bagai tidak bertemu selama bertahun-tahun.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Alara.
"Beres, cuma sobek dikit." Jawab Reina diakhiri tawa.
Alara mengepalkan tangannya, ia memberi gerakan untuk memukul sahabatnya, namun tidak benar-benar melakukannya, ia hanya geregetan dengan Reina.
"Bisa-bisanya lo masih ketawa, lo nggak bisa jalan selama 2 minggu!" tegur Alara mengingatkan.
"Iya tau, dan gue mohon jangan kasih tau mama gue ya, nanti sampai kaki gue pulih, gue bakal nginep di rumah …" Reina menggantung ucapannya, ia tidak tahu harus menginap dimana.
Reina menatap mertua sahabatnya dengan hangat, ia tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
"Nggak usah, Nyonya. Saya bisa menginap di rumah teman saya," tolak Reina tidak enak hati.
"Lo nggak punya temen selain gue, jadi nggak usah ngarang." Ketus Alara memicingkan matanya.
Reina menghela nafas, Alara segala pake membongkar rahasia nya yang tidak punya teman.
"Lo pilih, mau di rumah gue atau rumah Mama Mira?" tanya Alara.
"Rumah kami saja." Bukan Mama Mira yang menyahut, melainkan Bima.
"Kamu menyelamatkan saya, karena itu saya harus bertanggung jawab, dan dengan tinggal di rumah kami, saya jadi lebih mudah membantu kamu." Lanjut Bima menjelaskan.
Alderio mengangguk setuju. "Yang Bima katakan benar, Reina. Kamu tinggal saja di rumah orang tua saya, agar Bima bisa membantu segala kebutuhan kamu." Timpal Alderio.
Reina terdiam, ia menimang-nimang ucapan keluarga Haiyan yang memaksanya untuk tinggal. Andai saja kakinya tidak cedera, ia pasti memilih untuk pulang ke rumah saja, tetapi mama nya itu bawel dan pasti akan banyak bertanya dan mengintrogasi tentang kondisinya yang begini.
Reina menghela nafas, ia tidak punya pilihan lain lagi, kepalanya mengangguk sebagai jawaban.
"Baiklah," ucap Reina yang entah mengapa membuat Bima senang.
"Tapi sebelum itu, Alara. Tolong hubungi mama gue ya, dan bilang gue nginep di rumah lo buat jagain karena suami lo dinas." Pinta Reina cengengesan.
"Iya, jangan khawatir. Aman sama gue," balas Alara manggut-manggut.
Reina terkikik, meskipun tawanya itu berhasil membuat rasa nyeri tersendiri bagi lukanya.
Bima yang memperhatikan Reina tanpa sadar ikut tersenyum.
"Bim, urus administrasi nya dulu." Tutur Papa Aden mengingatkan.
Bima mengangguk paham, ia akan pergi ke dokter sebelum pergi mengurus administrasi, ia harus tahu apakah Reina harus di rawat inap atau tidak.
"Reina, kamu butuh sesuatu?" tanya Bima lembut.
"Tidak, Pak. Tapi saya haus, mau makan." Jawab Reina bergurau.
Semua yang ada disana terkekeh mendengar ucapan Reina. Gadis itu sengaja melakukan candaan agar ruangan itu tidak terlalu tegang, terlebih lagi Bima yang tampak merasa bersalah akan kondisinya, padahal ia baik-baik saja.
BAKAL KAYA APA NIH KISAH R DAN B🙈🙈
To be continued