My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Syok berat



Alderio bersama istri dan mertuanya memilih untuk kembali ke Jakarta karena tidak terima jika Alara dituduh telah menyakiti Mika, bahkan Al masih tidak menyangka bahwa orang tuanya akan lebih percaya pada Renata dibandingkan Alara yang jelas-jelas menantu mereka.


Mereka baru saja sampai setelah 2 jam perjalanan, Alderio langsung membawa istrinya istirahat.


"Mas, aku kepikiran dengan kondisi Mika." Ucap Alara lirih.


Alderio merebahkan tubuh istrinya dan tidak lupa menyelimuti sampai batas perut, wajahnya naik tepat di depan wajah sang istri lalu mencium kening Alara.


"Tidak usah memikirkan wanita itu, dia dan kakaknya sudah sangat jahat." Sahut Al lembut.


Alara menggelengkan kepalanya. "Nggak bisa, Mas. Bagaimanapun Mika itu adik ipar ku," Alara menangis pelan.


Alderio duduk di pinggir ranjang, menyeka air mata istrinya. "Baiklah, kita akan tunggu Mika sadar dulu, jika nanti dia berkata jujur maka itu bagus, namun jika dia bicara sebaliknya, lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya dan kakaknya itu." Ucap Al dengan tegas.


"Kamu percaya aku kan, Mas?" tanya Alara menatap suaminya dalam.


"Aku lebih percaya sama kamu dibanding diri aku sendiri." Jawab Alderio jujur.


Alara senang, setidaknya ia punya suami dan kedua orang tua yang begitu mempercayai nya, meski mertuanya itu tidak percaya.


"Makasih, Mas. Aku dan anak kita senang mendengarnya," Alara mencium punggung tangan suaminya.


Alderio tersenyum hangat, ia mengusap lembut kepala Alara dan tidak lupa menciumi seluruh wajah wanitanya.


Setelah beberapa saat akhirnya Alara sudah tidur, Al buru-buru keluar untuk menemui kedua mertuanya yang pasti sedang bicara tentang Alara yang sudah difitnah oleh Renata.


"Ma, Pa." Panggil Alderio seraya duduk di single sofa.


"Al, Alara sudah tidur?" tanya Mama Dania.


"Sudah, Ma. Baru saja tidur," jawab Alderio mengangguk.


"Syukurlah jika sudah tidur, kasihan dia." Papa Wahyu mengusap dadanya sendiri mengingat seperti apa putrinya itu di fitnah.


Alderio menatap kedua mertuanya dengan segan, ia merasa tidak enak dan malu karena orang tuanya yang sudah ikut memfitnah Alara, meski tidak mengatakannya secara langsung.


"Ma, Pa. Atas nama kedua orang tuaku, aku minta maaf. Mungkin mereka sedang emosi dengan kabar Mika yang keguguran." Ucap Alderio.


Mama Dania dan Papa Wahyu saling melirik, mereka lalu kembali menatap Alderio yang tampak tidak enak pada mereka dan mereka tentu sadar akan hal itu.


"Kamu tidak perlu khawatir, Al. Selama wanita itu tidak menyakiti Alara apalagi sampai mengganggu rumah tangga kalian, dan untuk urusan orang tuamu, kami paham akan hal itu." Sahut Mama Dania lembut.


"Al, kenapa mama kamu bisa dekat dengan Renata?" tanya Papa Wahyu.


Alderio menghela nafas. "Awalnya Renata ingin dijodohkan denganku, Pa. Aku menolak nya, tetapi dia tidak menyerah dan terus mencari perhatian mamaku." Jawab Alderio memijat pelipisnya.


"Lupakan saja, katakan pada kami jika ada apa-apa dan jika adik iparmu sudah sadar. Kami sangat berharap bahwa Mika akan mengatakan yang sebenarnya." Ucap Mama Dania lalu bangkit dari duduknya.


"Kalian mau pulang?" tanya Alderio ikut bangkit.


"Maaf ya, Ma, Pa. Apartemen ini hanya satu kamar, jadi tidak bisa mengajak kalian untuk menginap." Ucap Alderio dibalas tepukan di bahunya oleh papa Wahyu.


"Tidak apa-apa, Al. Asal kamu dan Alara nyaman, itu sudah cukup." Sahut Papa Wahyu begitu pengertian.


Alderio bersyukur memiliki mertua yang pengertian, tetapi ia justru kasihan pada istrinya yang tidak dipercayai oleh mertua yang tak lain ada orang tuanya.


Alderio mengantar kedua mertuanya sampai lobby apartemen, ia tidak bisa pergi lama-lama karena Alara sedang tidur dan pasti akan mencari dirinya jika ia pergi tanpa permisi.


Selesai mengantar mertua, Al kembali ke apartemennya dan langsung masuk ke kamar menyusul istrinya yang sudah pulas.


Alderio berbaring di sebelah sang istri lalu memeluknya dengan erat.


"Maaf ya, Sayang. Aku janji akan selalu percaya sama kamu, dan akan ku pastikan orang-orang itu menderita." Bisik Alderio lalu mencium kening istrinya dalam.


Sementara itu di Bandung, tepatnya di rumah sakit tempat Mika di rawat. Wanita itu baru saja sadar dan langsung histeris setelah mendengar kabar bahwa ia telah kehilangan anaknya.


Mika menangis sambil berteriak, bahkan suster dan dokter pun kesulitan menangani Mika, hingga akhirnya memilih jalan dengan biusan.


"Dokter, kenapa adik saya bisa sampai seperti itu?" tanya Renata terlihat menangis, meski dalang dibalik semua ini adalah dirinya sendiri.


"Nyonya Mika syok berat setelah tahu kehilangan anaknya, karena itu reaksinya demikian. Saya mohon kalian bantu untuk membuat nyonya Mika mengerti." Jawab dokter menjelaskan.


"Tapi menantu saya akan baik-baik aja kan, Dok?" tanya Mama Mira dengan wajah yang sudah basah air mata.


"Kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan, untuk kedepannya akan saya pantau lebih dulu." Jawab dokter.


Mama Mira menangis dalam pelukan suaminya, ia tidak kuat melihat menantunya yang seperti tadi. Sementara Bima sudah duduk dengan perasaan kacau, ia tidak menyangka istrinya akan sampai seperti itu.


"Alara, lihat bagaimana aku akan membalasnya." Tekan Bima teringat pada pelaku yang dituduhkan.


Bima bangkit dari duduknya, ia hendak pergi tetapi tangannya di cegah oleh sang Papa.


"Mau kemana, Bim?" tanya Papa Aden.


"Aku ingin menghancurkan Alara, Pa. Gara-gara dia istriku sampai seperti ini." Jawab Bima tidak sabar.


"Tenang, Bim. Ini bukan waktu yang tepat, ingat Mika sedang butuh kamu." Jelas Papa Aden berusaha membuat putranya mengerti.


Renata menjadi serba salah, ia menyesal namun sudah tidak berguna, kini adiknya yang harus menanggung semua perbuatannya, harus kehilangan anak bahkan sampai syok berat dan berteriak layaknya orang tidak waras.


"Alara, kau benar-benar wanita menjengkelkan." Batin Renata mengepalkan kedua tangannya.


ADUH MBA NATA DE COCO SIH LAGIAN 🥴🥴


To be continued