
Bima terdiam di kamarnya, teringat akan ucapan Mama Mira beberapa saat lalu, ketika Reina dibawa pergi oleh orang tuanya sambil menangis, dan apa yang bisa ia lakukan, hanya diam bagaikan orang bodoh.
“Reina akan menikah.”
Rasanya kalimat itu tidak mau pergi dari telinga Bima dan terus saja terngiang di indera pendengarannya, rasanya kata-kata itu menghantui Bima dan membuat pria itu menjadi tidak bisa fokus dengan pekerjaannya.
“Lalu kenapa jika Reina akan menikah, kenapa aku harus peduli.” Gerutu Bima mengacak-acak rambutnya.
Di tengah-tengah rasa gusarnya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.
“Den, ditunggu sama nyonya di meja makan.” Ucap pelayan di rumah keluarga Haiyan.
Bima menghela nafas, ia segera membuka pintu kamarnya.
“Iya.” Balas Bima kemudian pergi.
Bima menghampiri kedua orang tua bersama kakak dan kakak iparnya yang sudah menunggu untuk makan siang bersama.
“Lama banget, Bim. Ngapain sih?” tanya Papa Aden yang kebetulan pulang cepat saat tahu ada sang cucu di rumahnya.
“Biasa, Pa. Ada sedikit kerjaan dari kantor,” jawab Bima seraya menyendok nasi ke dalam piringnya.
“Bicara soal kantor, kapan mulai gabung sama perusahaan kita, Al?” tanya Papa Aden kepada putra sulungnya.
Alderio menenggak air minumnya, ia menatap sang Papa lalu mengangguk.
“Kontrak ku masih butuh satu tahun sebelum berakhir, Pa.” Jawab Al diakhiri helaan nafas.
“Bayar saja dendanya, kita punya cukup uang untuk membayar itu bukan!” celetuk Papa Aden.
“Papa!!” tegur Mama Mira yang tidak setuju dengan saran sang suami.
Bukan masalah nominal uangnya, namun ia tidak mau anak-anaknya kehilangan citra mereka. Dengan membatalkan kontrak, itu sama saja menunjukkan bahwa Al tidak bertanggung jawab.
“Jangan gitu deh, Pa. Mentang-mentang punya uang, ajarin anaknya untuk nggak bertanggung jawab.” Cetus Mama Mira melirik suaminya dengan tajam.
Papa Aden terkekeh, ia bukan mengajari anaknya untuk tidak bertanggung jawab, hanya saja ia ingin Alderio segera bisa bergabung diperusahaan mereka.
“Mama sewot banget sih sama Papa, mentang-mentang belum dikasih jatah.” Timpal Papa Aden seraya mengedipkan sebelah matanya.
Semua orang yang ada di meja makan sontak tertawa mendengar ucapan Papa Aden, termasuk para pelayan yang sedang bekerja disana.
“Ya ampun, ternyata Papa sama anak sama aja ‘ya. Sama-sama asal kalo ngomong!” celetuk Alara tiba-tiba.
Alderio tertawa keras melihat tingkah kedua orang tuanya, sementara Bima hanya terkekeh pelan karena saat ini pikirannya benar-benar tidak fokus.
“Tunggu deh, kaya ada yang aneh nggak sih?” tanya Papa Aden menghentikan tawanya.
Mama Mira dan yang lainnya kebingungan mendengar ucapan Papa Aden barusan. Aneh? apa yang aneh sekarang.
“Bim, tumben nggak ikut ledekin Papa sama Mama. Tugas kantor berat banget ya sampai kamu kepikiran gitu?” tanya Papa Aden yang menyadari perubahan sikap putra keduanya.
Bima tersadar, ia menatap sang Papa lalu tersenyum.
“Nggak kok, Pa. Aku lagi kebetulan melamun aja, nggak ada hubungannya sama urusan kantor!” jawab Bima, tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia memikirkan soal Reina.
“Bukan urusan kantor, tapi urusan hati, Pa.” Sahut Alderio dengan cepat.
Alara mencubit tangan suaminya, tidak bisakah mulut pria itu diam. Meskipun tahu segalanya, namun akan lebih baik tutup mulut saja.
“Sakit, Sayang.” Ringis Alderio yang dibalas pelototan oleh istrinya.
Sementara Papa Aden menatap sang istri, meminta kejelasan atas ucapan Alderio barusan. Dan Mama Mira malah menjawabnya dengan gelengan kepala, ia tidak tahu apapun urusan percintaan anak-anaknya.
“Aku masih ada kerjaan, aku permisi ‘ya.” Bima bangkit dari duduknya lalu beranjak pergi meninggalkan ruang makan.
Alara berdecak kesal. “Kamu sih, Mas!” tegur Alara.
Alderio hanya tersenyum tanpa dosa, namun ia beranjak untuk mencari keberadaan sang adik untuk meminta maaf jika ia sudah salah bicara.
Setelah kepergian Alderio dan Bima, kini tinggal Alara dan kedua mertuanya yang ada di meja makan, menatap penuh bingung kepada kakak beradik itu.
“Sebenarnya ada apa, Alara?” tanya Papa Aden kepada menantunya.
“Aku nggak bisa bicara banyak, Pa. Aku nggak ada hak, yang bisa aku katakan hanya semoga apapun yang terjadi akan baik untuk kak Bima.” Jawab Alara dengan sopan.
“Yaudah nggak apa-apa, dilanjut makan nya, Nak.” Tutur Mama Mira dengan lembut.
Sementara Papa Aden hanya bisa menghela nafas, ia memang penasaran dan ingin tahu, namun jika harus memaksa juga tidak mungkin. Benar kata menantunya, ia harus mendoakan apapun semoga yang terbaik untuk putranya.
“Papa yakin jika cinta Bima tulus, maka mereka pasti akan bersama. Meskipun Papa belum tahu siapa gadis itu, yang jelas Papa mau Bima bahagia sama seperti Al bahagia dengan pasangannya.” Ucap Papa Aden tersenyum hangat.
MAS BIMA KENAPA YA? APA SUKA JUGA SAMA MBA REINA??
To be continued