
Kondisi Mika yang sudah membaik membuat semua orang memilih untuk kembali ke Jakarta. Satu mobil berisi Mika, Renata dan Bima, sementara di mobil yang lain ada papa Aden dan mama Mira.
Karena pulang di hari libur membuat jalanan cukup padat, perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu 2-3 jam, menjadi 4 jam.
Mereka sampai dirumah keluarga Haiyan, Mika dibantu oleh sang kakak menuju kamarnya, sementara Bima langsung pergi entah kemana.
"Renata, tolong bantu Mika ya. Tante mau istirahat dulu," ucap Mama Mira pelan.
"Iya, Tante. Biar aku yang jaga Mika, Om juga istirahat saja." Sahut Renata menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, katakan jika ada apa-apa." Ucap Papa Aden kemudian pergi bersama istrinya menuju kamar mereka.
Renata memapah tubuh adiknya menuju kamar, namun saat sudah sampai di lantai atas, Mika langsung mendorong Renata menjauh darinya.
Renata terkejut dengan reaksi sang adik, ia menatap Mika dengan tatapan bingung.
"Mika, apa-apaan ini?" tanya Renata mengerutkan keningnya.
"Cukup, hentikan pertanyaan tidak berguna itu. Seharusnya kau tidak perlu bertanya, karena kau sendiri sudah tahu jawabannya." Sarkas Mika menunjuk wajah sang kakak.
"Karena dirimu, karena dirimu aku kehilangan anakku, Kak!!" lanjut Mika sedikit berteriak.
Renata terkejut, ia menatap ke sekitar karena khawatir ada yang akan mendengar ucapan sang adik. Ia dengan cepat menarik tangan Mika ke dalam kamar wanita itu dan tidak lupa menutup pintunya.
"Mika, bukankah kita sepakat untuk merahasiakan ini? Lagipula kamu kan juga kena untungnya." Ucap Renata tanpa malu.
"Apa? Kau berpikir Alderio dan istrinya itu akan benar-benar memutus hubungan? TIDAK!" bentak Mika tepat didepan wajah Renata.
"Alderio dan Alara tidak akan dilupakan oleh keluarga Haiyan, mereka juga pasti akan tetap mendapat bagian harta warisan apalagi mereka memiliki anak, bukan sepertiku." Lanjut Mika dengan nada yang masih sama.
"Mika, kau harus percaya dengan kata-kataku. Alderio tidak akan pernah ikut campur lagi dengan masalah harta, dan jika aku benar-benar bisa merebutnya nanti, maka aku tidak masalah jika tidak dapat harta warisan." Jelas Renata berusaha membuat adiknya tenang.
Mika terdiam seraya berusaha mengatur nafasnya, sesaat kemudian ia kembali menatap Renata dengan tajam, bahkan kakinya maju selangkah mendekati Renata.
"Aku sudah kehilangan anakku dan mengikuti kata-katamu untuk memfitnah Alara, jika suamiku tidak mendapat warisan seperti yang kau ucapkan, maka aku tidak akan segan langsung melaporkan mu." Ancam Mika penuh penekanan.
Renata terkejut, ia tidak menyangka adiknya yang dulu selalu patuh kini berani melawannya, bahkan membentaknya tanpa rasa takut.
"Keluar dari kamarku!" usir Mika menunjuk ke arah pintu.
"Usianya memasuki minggu ke 19, janin juga tampak baik dan aktif." Ucap Dokter kepada pasangan suami istri itu.
"Dok, kapan bisa melakukan USG?" tanya Alderio tidak sabar.
"Cek selanjutnya ya, Pak. Biar kami jadwalkan dulu," jawab Dokter dengan sopan.
"Dokter, usia kandungan saya sudah cukup besar 'kan? Jadi boleh melakukan hubungan suami istri?" tanya Alara asal bicara.
Alderio melotot, sementara dokter terkekeh mendengar pertanyaan ibu hamil itu.
"Boleh, Bu. Asal memperhatikan posisi agar tidak menindih bayinya." Jawab dokter.
"Sayang, ayo kita pulang." Ajak Alderio malu dengan pertanyaan istrinya.
"Dokter, terima kasih banyak 'ya." Ucap Alara seraya beranjak dari duduknya.
Dokter menganggukkan kepalanya. Alara dan Alderio pergi ke apotek sebelum pulang ke rumah mereka.
"Kok tumben kamu yang tanya, biasanya kalo aku yang tanya kamu protes." Ucap Alderio menatap heran istrinya.
"Ya tanya aja, lagian kan nggak ada salahnya bertanya." Jawab Alara mengangkat bahunya acuh.
Alderio geleng-geleng kepala, ia mengusap puncak kepala istrinya.
"Kalo bukan di tempat umum, udah aku gigit kamu Sayang." Bisik Alderio.
Alara mencubit pinggang suaminya. "Kebiasaan." Desis Alara.
Alderio memang hobi menggigit, bahkan bukan hanya pipi, melainkan bibir, leher, tangan, bahkan dada Alara pun tidak luput dari cetakan merah hasil suaminya.
"Papa kaya drakula ya, Nak. Jangan dekat-dekat yuk, takut." Celetuk Alara sambil mengusap perut besarnya.
Alderio tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan aneh istrinya, ia merengkuh pinggang ramping Alara sambil sesekali menduselkan wajahnya ke leher sang istri tanpa peduli dengan tatapan sekitar.
NATA DE COCO TERKEJUT YA SAMA SIKAP MIKA, LAGIAN SIH JAHATš„“
To be continued