My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Hari yang manis



Alara tak henti tersenyum saat merasakan perlakukan lembut dari suaminya. Setelah acara wisuda selesai, Al langsung memboyong istrinya pergi ke sebuah tempat yang sudah pria itu siapkan untuk Alara seorang.


"Mas, makasih 'ya." Ucap Alara sambil menatap suaminya dengan dalam.


Alderio yang sedang memotong steak daging untuk istrinya lantas membalas tatapan sang istri, ia letakkan garpu dan pisau lalu membuka tangannya lebar.


Alara tersenyum, namun matanya berkaca-kaca. Wanita itu bangkit dari duduknya lalu memeluk Alderio dengan erat, bahkan sangat erat. Menumpahkan air mata bahagia karena merasa beruntung telah dicintai oleh Alderio dengan begitu besar.


"Makasih, Mas. Makasih sudah sangat mencintai aku, aku beruntung punya kamu." Lirih Arsha menciumi bahu suaminya.


Alderio tersenyum tipis, ia melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah cantik Alara yang selalu bertambah setiap harinya.


"Sayang, aku yang makasih karena kamu sudah hadir dalam hidupku. Hidupku yang gelap dan membosankan, kini jauh lebih berwarna dan sangat membahagiakan semenjak ada kamu." Balas Alderio dengan suara selembut mungkin.


Alara mengangukkan kepalanya, ia kembali mendekap tubuh suaminya dan menumpahkan air mata bahagia dengan bibir yang tidak henti menyunggingkan senyum manis.


Alara ingat bagaimana dulu ia sangat menolak suaminya, andai saja Alderio menyerah, maka saat ini Alara akan menjadi wanita paling bodoh yang sudah menyia-nyiakan pria sebaik suaminya. 


Beruntung Alderio adalah pria bertanggung jawab dan bertekad kuat, meski sudah berkali-kali ditolak, namun ia tetap berusaha sampai akhirnya berhasil mendapatkan Alara dan kini merasakan yang namanya bahagia.


Alderio melepaskan pelukannya, ia mengajak Alara duduk di tempatnya lagi, lalu menyuapi daging yang sudah dipotong kecil olehnya.


"Untuk istriku cantik dan sangat aku cintai ini." Ucap Alderio seraya memasukkan daging ke dalam mulut Alara.


Alara terkekeh, ia mengambil garpu di tangan suaminya lalu bergantian menyuapi pria itu.


"Untuk suamiku yang tampan dan baik hati, aku mencintaimu." Balas Alara tak kalah mesra.


Meraka saling suap-suapan diiringi tawa penuh bahagia. Beruntung Alderio sudah menyewa satu restoran hanya untuk istrinya, agar Alara merasa nyaman menerima semua perlakukan nya ini.


Setelah selesai makan, Alderio mengajak istrinya untuk pulang, malam nanti masih ada kejutan lain yang menanti Alara, yang sudah disiapkan matang-matang oleh Alderio sejak jauh-jauh hari.


Sesampainya di rumah, Alara langsung bersih-bersih begitu juga dengan Alderio. Meraka memang mandi bersama, namun tidak melakukan hal yang lebih karena Alderio tahu istrinya sedang lelah.


Selesai mandi, Alderio juga membantu istrinya mengeringkan rambut nya yang basah sehabis keramas, bahkan ia terlihat begitu serius melakukannya.


"Mas, perut kamu kok bisa kotak-kotak gitu?" tanya Alara memegang perut suaminya lalu mengusapnya pelan.


"Shhhh … jangan, Sayang!" tegur Alderio mendesis.


"Aku nggak boleh pegang perut kamu ya?" tanya Alara bersedih.


Alderio menggelengkan kepalanya. "Bukan nggak boleh cintaku, tapi nanti yang ada kamu habis sama aku." Jawab Alderio menjelaskan.


Alara menekuk wajahnya, ia lalu beralih menatap perutnya yang sudah semakin besar.


Alderio tertawa begitu keras bahkan sampai terbahak-bahak mendengar ucapan istrinya yang begitu polos itu. Ia meletakkan hairdryer lalu mencium gemas pipi Alara.


"Alara, aku gigit kamu ya!!" protes Alderio tak kuat menahan kegemasannya.


"Nggak! Kamu itu kali gigit suka nggak tahu batas, sampai merah-merah!" sahut Alara sewot.


Alderio tertawa, ia menyusupkan wajahnya ke leher sang istri lalu mencium bahkan menggigitnya sampai meninggalkan bekas.


Alara memekik, ia memukul bahu suaminya cukup keras karena terkejut. "Mas, sakit!!!" Pekik Alara.


Alderio mengusap hasil karyanya dengan lembut, ia lalu menciumnya dengan cepat.


"Kamu tambah cantik kalo ada tanda merah-merah gini, Sayang." Ucap Alderio tak masuk akal.


"Nggak usah aneh-aneh, mana ada cantik, yang ada aku dilihatin orang nantinya." Balas Alara ketus.


"Ya kamu dilihatin karena cantik, Sayang." Ujar Alderio tak mau kalah.


Alara tak membalas ucapan suaminya, ia menyisir rambut sementara Alderio tiba-tiba menunduk lalu mencium perutnya dan mengusapnya lembut.


"Anak Papa sedang apa ya sekarang?" celoteh Alderio seakan bicara pada janin dalam kandungan Alara.


Alderio mendekatkan telinganya lalu manggut-manggut. "Oh karaokean, ajak Papa dong, Nak." Celetuk Alderio kontan membuat Alara tertawa.


"Mas, jangan aneh-aneh. Anak aku lagi bobok!" tegur Alara sambil tertawa.


Alderio tersenyum melihat istrinya yang tertawa, ia segera menggendong Alara lalu membawanya berbaring diranjang. Ia ikut naik lalu mendekap tubuh istrinya. 


Sementara Akara berusaha pasrah saja, ia mendaratkan kepalanya di dada bidang Al yang tidak tertutup apapun karena sekarang suaminya itu masih hanya berbalut handuk.


"Papa Al, pakai bajunya dulu dong. Nanti masuk angin aja." Ucap Alara seraya menggambar abstrak di dada bidang Alderio.


"Iya, tapi tanganmu itu jangan nakal atau aku gigit lagi." Sahut Alderio dengan suara berat.


Alara bergidik, daripada membuat suaminya nanti malah menyerang, lebih baik ia diam dan mendusel di dada Alderio. Menghirup dalam-dalam aroma segar dari tubuh suaminya itu.


AUTHOR DAN SEGENAP KELUARGA MENGUCAPKAN MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 🙏🤗🤗


KELUARGA HAIYAN DAN PRAMUDITO JUGA MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA, YANG MAU THR DATANG AJA KE RUMAH MEREKA YA, MEREKA OPEN HOUSE LOHH🤪😂😂


To be continued