
Alderio dan Bima sedang sama-sama duduk di balkon kamar Bima. Menatap lurus ke arah taman belakang yang ada di rumah mereka, sambil berbincang ringan.
"Aku akan bantu masalah perusahaan, kirimkan saja file nya melalui email." Ucap Alderio setelah mereka membahas masalah kantor.
Bima merogoh ponselnya, ia menunjukkan pesan email yang sudah dikirimkan seminggu yang lalu, namun belum mendapat balasan apapun dari Alderio.
Alderio cengengesan, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena baru sadar jika Bima sudah mengirimkan pekerjaan ke email nya.
"Lupa, kan ngurus baby Ar." Ucap Alderio dengan menjual nama sang anak.
"Keponakanku kau bawa-bawa, Kak." Timpal Bima geleng-geleng kepala.
Alderio terkekeh, namun setelah beberapa saat tawanya terhenti seraya menepuk bahu adik satu-satunya itu.
"Kau menyukai Reina?" tanya Alderio serius.
"Apa, ah tidak." Jawab Bima terbata.
"Katakan saja dengan jujur, sekali kau bilang 'iya' maka aku pasti akan membantumu." Tutur Alderio dengan tegas.
Bima menghela nafas, ia memijat pelipisnya sebentar lalu kembali menatap sang kakak yang kini menanti jawabannya.
"Entahlah, aku merasa nyaman dengannya. Senyuman, tawa dan suaranya berhasil membuatku lupa akan masa lalu yang kelam. Dan selama berhari-hari bersamanya, aku merasa hariku berbeda." Jelas Bima sambil membayangkan kenangan bersama Reina.
"Apakah itu bisa disebut cinta?" tanya Bima setelahnya.
Alderio tertawa, ia menggelengkan kepalanya lalu memukul bahu sang adik sedikit kencang sampai Bima meringis.
"Maaf, tapi aku tidak membahas cinta disini. Aku bertanya kau menyukainya atau tidak. Kenapa kau jadi bahas cinta?" tanya Alderio masih tertawa.
Bima mengerutkan keningnya. "Bukankah cinta dan suka itu sama?" tanya Bima.
Alderio menggeleng. "Jika kau sudah cinta sama seseorang, itu artinya kau juga sudah menyukainya, tapi jika kau hanya menyukainya, belum tentu kau mencintainya." Jawab Alderio.
"Suka hanya sebatas rasa kagum, tetapi cinta perasaan tulus yang datang langsung dari hati." Lanjut Alderio.
Bima kembali terdiam, ucapan sang kakak membuatnya dilanda rasa bingung dan resah. Cinta dan suka itu baginya sama saja, tetapi ada anggapan lain rupanya.
"Lalu jika aku tidak rela Reina menjadi milik orang lain, apa artinya itu?" tanya Bima serius.
Alderio tersenyum, sesaat kemudian ia mendatarkan wajahnya dan kembali melayangkan pukulan ke bahu adiknya.
"Itu artinya kau harus mengejar dia, bocah! Kau sudah besar, sudah tua bangka, masih saja tidak paham dengan perasaan sendiri." Cibir Alderio dengan pedas.
"Kenapa kau jadi memarahiku, kau juga sudah memukulku terus. Lihat saja, aku akan mengadu pada kakak ipar!" ancam Bima seraya bangkit dari duduknya.
Alderio ikut bangkit, ia dengan cepat melingkarkan tangannya di leher adiknya dari belakang, seakan sedang membegal sang adik.
Tepat saat itu, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Alara datang dengan mata terbuka lebar melihat suami dan adik iparnya disana.
"Mas!!" Teriak Alara buru-buru mendekati sang suami.
"Kamu ngapain, Mas?!" tanya Alara sambil mempuk-puk pantat baby Ar.
Alderio merapikan penampilannya, ia hendak menjelaskan kepada sang istri, namun Bima sudah lebih dulu nyerocos.
"Kak Al menganiayaku, Kak." Timpal Bima berbohong.
"Hei! Itu tidak benar, lagipula aku tidak akan memukul mu jika kau pintar." Sahut Alderio tidak terima.
"Iya, kau bodoh." Bukan Alderio yang menjawab, tetapi Alara.
Bima menatap kakak iparnya dengan terkejut. Pertama kalinya Alara mengatai Bima, padahal selama ini kakak ipar itu selalu membela adik iparnya.
"Kakak?" panggil Bima pelan.
"Apa kakak-kakak? Kau itu bodoh kak Bima, kau akan kehilangan Reina sekarang juga, karena besok dia akan bertunangan!" jelas Alara dengan nada tinggi.
Alderio dan Bima sama-sama terdiam. Mereka berusaha mencerna ucapan Alara barusan, Reina bertunangan?
"Sayang, secepat itu?" tanya Alderio dijawab anggukkan kepala oleh istrinya.
"BAGUS, lebih bagus Reina segera menikah, karena percuma saja menunggu pria bodoh ini sadar." Lanjut Alderio tertawa puas.
"Kak!" tegur Bima berdecak kesal.
Bima lalu beralih menatap kakak iparnya dengan serius.
"Kakak ipar, secepat itu Reina akan menjadi milik orang lain?" tanya Bima serius.
Alara menghela nafas lalu mengangguk.
"Reina tadi menelpon, sambil menangis dia berkata bahwa calon suaminya akan pergi ke luar negeri bulan depan, karena itulah pernikahan harus dipercepat." Jawab Alara menjelaskan.
"Maksudnya setelah menikah Reina akan ikut bersama suaminya ke luar negeri?" tanya Alderio.
"Iya, Mas. Dan bisa jadi selamanya kita tidak bisa menemui Reina lagi," jawab Alara sedih.
Alderio memeluk istrinya, ia tahu Alara merasa sedih karena sahabatnya sebentar lagi akan menikah dan pergi jauh, apalagi dalam waktu yang sangat cepat.
Reina yang beberapa hari lalu masih ada di rumah Haiyan sebentar lagi akan menjadi menantu dirumah orang lain.
"Keputusan ada ditanganmu, Bim. Reina akan benar-benar diambil orang lain," ucap Alderio menasehati.
Bima masih terdiam, mata dan seluruh tubuhnya terasa begitu panas mendengar Reina akan bertunangan besok.
"Aku mencintai Reina, Kak." Aku Bima tiba-tiba.
"Kejar dia, cegah pernikahan itu dan yakinkan kedua orang tuanya. Aku yakin kau akan berhasil!" sahut Alderio memberi semangat.
"Tapi bagaimana perasaan Reina terhadapku?" tanya Bima dengan polosnya.
"Kak, kau pernah berkenalan dengan sandalku?" tanya Alara pelan, namun penuh ancaman.
"Belum." Jawab Bima dengan tampang bocah baru bangun tidur.
"Kau akan tahu perasaan Reina setelah bertemu dengannya, sekarang pergi dan temui gadis itu!!" ucap Alara gemas sekali.
Bima mengangguk mantap, ia berlari keluar dari kamar untuk mendatangi rumah Reina. Hatinya sudah sangat yakin, dan ia harus menggagalkan acara pertunangan Reina besok.
Tetapi masalahnya sekarang adalah.
"Aku kan tidak tau rumah Reina." Celetuk Bima memukul dahinya sendiri.
MAS BIM JANGAN NGELAWAK MULU DEH, LAGI SERIUS NIHðŸ˜ðŸ˜
To be continued