
Usai acara pernikahan, Bima langsung memboyong istrinya ke kamar hotel. Anggaplah dia tergesa-gesa, ia tidak sabar untuk menunggu saat-saat seperti ini sejak lama.
Saat dimana ia bisa bermesraan secara halal dengan Reina, memeluk dan mencium sambil menggigit apapun yang ada di Reina.
Sementara Reina hanya bisa pasrah saat tangannya ditarik suaminya dari tempat resepsi, untung semua tamu sudah pulang.
Pihak keluarga juga tadi menertawakan mereka berdua, meledek Bima yang sudah tidak sabar untuk malam pertama.
Bicara soal malam pertama, bulu kuduk Reina mendadak berdiri saat ingat ucapan Alara. Entah wanita itu menakuti nya saja atau memang benar.
"Alara bilang rasanya sakit seperti terbelah menjadi dua." Batin Reina bergidik.
"Sayang, kamu mandi duluan gih, biar nyaman tidurnya." Tutur Bima, tangannya mengusap lengan sang istri yang sedang melamun.
Reina tersadar, ia sedikit gelagapan saat Bima mengusap lengannya.
"Eumm … iya, Mas. Aku mandi duluan," sahut Reina manggut-manggut.
Bima tersenyum, pria itu berjalan ke sudut kamar dimana koper miliknya berada. Ia mengambil pakaiannya sendiri lalu menarik koper istrinya.
"Nih koper kamu, aku nggak tau baju mana yang mau kamu pakai." Bima memberikan koper Reina kepada pemiliknya.
"Makasih, Mas. Kalo gitu aku langsung mandi ya." Reina menarik kopernya menuju kamar mandi.
Saat diambang pintu kamar mandi, ia menoleh ke belakang dan melihat Bima sedang bermain ponsel. Tatapan Reina turun ke arah bawah, masa depan Bima yang suatu saat akan masuk ke dalam miliknya.
"Gede nggak ya." Gumam Reina memikirkan.
"Sayang, ada yang ketinggalan?" tanya Bima menyadarkan.
Reina buru-buru menggeleng, ia masuk ke dalam kamar mandi dan tidak lupa mengunci pintu nya.
Di dalam kamar mandi Reina tidak henti memukuli kepalanya sendiri karena bisa-bisanya ia berpikir soal ukuran milik suaminya.
"Udah gila lo, Na." Cerocos Reina untuk dirinya sendiri.
Reina pun segera mandi, ia akan berendam sebentar untuk merilekskan tubuh nya yang terasa penat karena acara pernikahan tadi.
Sementara diluar, Bima sedang membalas pesan dari teman-temannya dan juga pesan dari Alderio.
Entahlah, walaupun ini bukan pernikahannya yang pertama, Bima merasa takut dan gugup. Ia khawatir tidak bisa memperlakukan istrinya dengan benar di malam pertama.
"Kenapa kau khawatir, yakinlah semua berjalan lancar. Proses buat keponakan untukku akan terasa sangat nikmat." Tulis Alderio dalam pesannya.
Bima mengepalkan tangannya seakan ingin meninju ponselnya saat membaca pesan yang kakaknya kirim.
Ia juga tahu rasanya nikmat, tetapi untuk Reina yang belum pernah melakukannya pasti terasa sangat sakit diawal, dan Bima takut tidak bisa melihat istrinya kesakitan.
"Lebih cepat lebih baik, Bim. Jangan membalas pesanku lagi, ini waktunya aku bermesraan dengan istriku." Alderio menulis kalimat itu dalam pesannya, membuat Bima berdecak.
"Dasar, punya kakak nggak mau kalah sama adiknya." Celetuk Bima terkekeh sambil geleng-geleng kepala.
Bima duduk dipinggir ranjang, ia akan menunggu istrinya selesai mandi dan bergantian ia yang mandi.
"Kok jadi panas dingin gini, tenang Bima …" gumam Bima menarik nafas lalu membuangnya perlahan.
Bima membuka jas miliknya, ia juga membuka 3 kancing kemejanya lalu memilih untuk berbaring sambil menunggu istrinya selesai mandi.
20 menit berlalu, tanpa sadar Bima ketiduran saat menunggu istrinya selesai mandi, sehingga ketika Reina keluar, ia melihat suaminya terlelap.
"Mas … mas bangun dulu, kamu mandi gih." Ucap Reina seraya menepuk-nepuk lengan suaminya.
"Mas!!" panggil Reina lagi, usapan tangannya kini naik ke wajah sang suami.
Bima perlahan membuka matanya, ia tersenyum karena yang pertama kali ia lihat adalah wajah cantik gadis yang kini telah menjadi istrinya.
Bima perlahan bangkit, membuat Reina harus mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang suaminya.
Kening Bima mengerut saat melihat istrinya itu menutupi tubuhnya dengan bantal hotel.
"Kamu kenapa tutupin gitu?" tanya Bima serak khas bangun tidur.
"A-aku, baju aku. Nggak kok, Mas." Jawab Reina tidak jelas dan terbata-bata.
Bima semakin mengerutkan keningnya, ia merasa aneh sekali melihat gelagat sang istri.
"Kamu nggak nyaman dengan suasana kita disini?" tanya Bima lembut.
"Bukan gitu, Mas. Aku cuma malu aja," jawab Reina menundukkan kepalanya.
Bima bangkit, ia mengacak rambut istrinya lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum memulai permainan, eee … maksudnya tidur.
Saat Bima masuk ke dalam kamar mandi, Reina mengusap dadanya lega, ia sejujurnya takut dan malu jika Bima sampai melihat penampilannya sekarang.
"Alara, benar-benar deh!!" gerutu Reina berdecak sebal.
Reina mengambil ponselnya, ia mencoba menghubungi sahabatnya itu, namun sayangnya tidak aktif.
"Tega banget sama gue lo, Ra. Bisa-bisanya kasih gue baju belum jadi gini." Cetus Reina merengek seraya menatap penampilannya.
Saat ini Reina hanya terbalut dengan gaun tidur satin berwarna hitam dengan model jaring di bagian dada dan bawah nya, sehingga dapat dipastikan jika Bima melihat, maka pria itu pasti mendadak tegang.
"Aaaaaa …. Mama takut!!!" teriak Reina tanpa sadar.
Siapa sangka Bima yang sedang mandi saat itu langsung keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya. Pria itu terkejut dan khawatir saat mendengar teriakan sang istri.
"Sayang, kamu kenap–" Ucapan Bima terhenti saat melihat penampilan istrinya.
"MAS, PAKAI BAJUNYA!!!" teriak Reina menutup matanya.
Bima hendak masuk ke dalam kamar mandi lagi, namun langkahnya terhenti saat ingat bahwa mereka suami istri, dan wajar saling buka-bukaan.
Buka puasa ciee.
"Sayang, kamu kenapa teriak?" tanya Bima membalik badannya lagi.
"Nggak apa-apa." Jawab Reina seraya menyilangkan tangannya untuk menutupi dada dan bawah.
Bima mendekat, buru-buru Reina melompat ke ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"M-mas, kamu pakai baju dulu." Ucap Reina terbata.
Bima tetap mendekat, ia duduk di sisi Reina membuat istrinya itu semakin gemetaran.
"M-mas." Panggil Reina terbata, nafasnya makin tidak beraturan.
Bima mendekatkan wajahnya, ia mencium kening istrinya dalam membuat Reina langsung terdiam dan memejamkan matanya.
Bahkan tangan Reina reflek memegang dada bidang Bima yang kala itu tidak tertutup apapun.
"Aku tahu kamu takut sama aku, aku juga nggak akan paksa kamu, Sayang. Jika kamu belum siap, aku bisa mengerti." Ucap Bima dengan lembut.
"Perlakukan aku senyaman nya kamu." Lanjut Bima seraya mengusap wajah cantik istrinya.
Reina sesaat tertegun, ia merasa sangat dicintainya oleh suaminya. Bima sangat mengerti keadaannya.
Bima beranjak dari duduknya, ia hendak melanjutkan acara mandinya, namun tiba-tiba tangannya dipegang oleh Reina.
"Aku cuma malu, Mas. Bukan nggak siap,"
WADUHHH MBAK UDAH SIAP SEKALI 😂
To be continued