
Reina menatap pantulan dirinya di cermin dengan perasaan sedih bercampur kesal. Ia terpaksa mengiyakan permintaan kedua orang tuanya yang mengancam akan menuntut Bima atas dasar penculikan.
Ancaman tanpa bobot bukan? Memang benar, mungkin ancaman itu tidak berguna dan tidak akan benar-benar dilakukan oleh Mama maupun Papa nya, tetapi entah mengapa Reina ketakutan, ia tidak mau Bima mendapat masalah karena dirinya.
Selain alasan itu, Reina memiliki rencana lain dengan menyetujui datang ke acara pertunangan itu. Lihat saja nanti!
"Reina, sudah siap Sayang?" tanya Mama Lila dengan lembut.
Reina tidak menjawab, ia bangkit dari duduknya kemudian mendekati sang Mama.
"Ma, setelah ini tolong jangan membawa-bawa nama pak Bima, dia tidak bersalah." Pinta Reina dengan serius.
Mama Lila tersenyum lalu mengangkat kedua bahunya.
"Tergantung sama kamu sendiri, Sayang. Kalo kamu nurut sama Mama dan mau menikah, Mama tidak akan membawa nama pria itu." Balas Mama Lila dengan tenang.
Reina berdesis, ia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.
"Kenapa gitu, Ma. Intinya aku sudah mau datang ke acara pertunangan itu, bukankah sudah cukup?" tanya Reina gemas.
Mama Lila menggeleng. "Belum, masih ada hari pernikahan." Jawab Mama Lila.
Reina ingin marah, namun rasanya percuma. Ia berlari keluar dari kamar dan pergi meninggalkan sang Mama. Reina tidak akan mungkin bisa kabur, ada sang papa juga dirumah.
Saat sampai di lantai bawah, ia melihat sang Papa sudah rapi dengan pakaiannya yang formal. Setelan jas berwarna hitam yang tampak cocok di tubuhnya.
Reina bernafas lesu, ternyata orang tuanya memang benar-benar ingin dirinya menikah, terbukti dari keantusiasan dari keduanya.
"Sayang, kamu cantik sekali." Puji Papa Jaya seraya mendekati putrinya.
Reina tidak bicara, ia hanya diam dengan wajah malas dan tidak ada semangatnya.
"Hari pertunangan kok mukanya lesu gitu?" tanya Papa Jaya seraya mengusap lengan putrinya.
"Gimana nggak lesu, Pa. Kan dia nya belum terima pertunangan ini, giliran diancam mau laporin pria itu, baru dia mau." Sahut Mama Lila yang masih menuruni anak tangga.
Reina tetap bungkam, ia memilih untuk diam saja daripada ujungnya malah membantah kedua orang tuanya nanti.
"Ya sudah, ayo kita pergi. Kita bisa terlambat nanti," ajak Papa Jaya setelah melihat jam tangannya.
Mama Lila menggandeng tangan Reina lalu menariknya keluar dari rumah. Mereka pun segera pergi dari rumah untuk ke tempat acara pertunangan diadakan.
Selama perjalanan, Reina hanya diam. Berharap seperti adegan di film-film yang mana aktor utama menyelamatkan si wanita yang akan dinikahkan. Bima tentu yang menjadi aktor utamanya, sementara Reina yang menjadi tokoh wanita dalam film tersebut.
Namun sayang, semua itu hanya ada di film. Apa lagi Reina dan Bima bukanlah aktris ataupun aktor, tetapi Reina masih boleh berharap kan, kuasa Tuhan itu nyata dan Reina yakin bahwa ia akan bersatu dengan Bima dengan cara apapun.
“Masih berharap pria itu datang?” tanya Mama Lila seakan tahu isi hati dan pikiran putrinya.
Reina menoleh ke arah sang Mama. “Mama kenapa sih kaya nggak suka banget sama pak Bima?” tanya Reina kesal.
“Kata siapa Mama nggak suka, Mama suka kok.” Jawab Mama Lila diakhiri senyuman misterius.
Reina berdecak pelan, ia memilih untuk tidak bicara daripada nantinya sang Mama malah menyalahkan Bima lagi.
“Papa juga suka kok sama Bima, tapi …” Papa Jaya menggantung ucapannya.
“Bukan apa-apa.” Jawab Papa Jaya yang sukses membuat putrinya kesal.
Reina mendesah lelah. Sungguh hari ini benar-benar menyebalkan, sang Papa yang biasanya bersahabat dengan segala pendapatnya, kini malah sama dengan sang Mama.
“Sedih banget, bukan jodoh pak Bima.” Batin Reina menangis dalam hatinya.
Tidak terasa akhirnya mereka sampai ditempat acara pertunangan akan diadakan. Reina pasrah saat tangannya ditarik oleh sang Mama ke dalam, ia sudah lelah untuk menyakinkan kedua orang tuanya bahwa ia tidak mau menikah.
Reina diajak ke sebuah ruangan yang sudah dihias sedemikian rupa. Ada namanya di tembok dan nama pria yang akan bertunangan dengannya, namun nama itu masih tertutup oleh tirai.
“Kamu tunggu disini, calon suami kamu bakal datang dan kalian bicara berdua sebentar ya. Ini sesuai permintaan kamu ‘kan.” Tutur Mama Lila seraya mendudukkan Reina di salah satu dari banyaknya kursi disana.
“Ma, dimana-mana itu perkenalan sebelum tunangan, kenapa aku malah sebaliknya?!” tanya Reina kesal.
“Jangan bicara gitu sama Mama, Na. Nanti calon kamu dengar dan dia menilai kamu bukan anak yang baik, bahkan bisa jadi dia nggak mau nikah sama kamu.” Tegur Mama Lila lembut.
“Benar itu, Nak. Jangan meninggikan suara saat bicara dengan Mama kamu,” sambung Papa Jaya yang ikut menyahut.
Reina menangis lagi, ia tidak membalas ucapan kedua orang tuanya dan terus menangis.
“Kami tinggal ya, sebentar lagi dia datang.” Mama Lila dan Papa Jaya segera keluar dari ruangan tersebut.
Kini tinggal lah Reina disana yang sedang menunggu kehadiran calon suaminya. Bukan menunggu karena tidak sabar ingin tunangan, melainkan ia ingin segera berteriak kepada pria itu, mengapa harus mau dijodohkan.
Tidak lama setelah kepergian kedua orang tua Reina, tiba-tiba seorang pria berjas cream datang dan menghampiri Reina.
Reina mengepalkan tangannya, ia bangkit lalu mengacungkan jari telunjuk di depan wajah pria itu.
“Jadi lo yang mau dijodohin sama gue?” tanya Reina berteriak.
Pria itu hendak membuka suara dan menjawab pertanyaan Reina, namun lagi-lagi dipotong oleh Reina.
“Lo denger baik-baik ya, gue nggak akan mau nikah sama lo, karena gue udah cinta sama pria lain. Gue cintanya sama pak Bima, lo denger nggak? GUE CINTANYA SAMA BIMA!!!” teriak Reina sampai memenuhi ruangan.
“Lo mending pergi deh, dan bilang kalo pernikahan ini batalin aja.” Celetuk Reina, kali ini suaranya lebih pelan dari sebelumnya.
Pria dihadapan Reina hanya diam saja, bahkan cenderung bingung
“Lo denger nggak? kok diem aja sih?” tanya Reina kesal.
“Mbak salah paham, saya bukan pria yang mau dijodohin sama anda. Saya penanggung jawab acara pertunangan sampai pernikahan nanti,” jelas pria itu setelah habis dibentak oleh Reina.
Reina membuka mulutnya lebar, ia tentu saja terkejut karena ternyata ia salah orang dan malah memaki orang yang tidak bersalah.
“Apa, mmmm … kalo gitu tolong maafkan sa–” ucapan Reina terhenti saat matanya melirik ke arah pintu masuk.
Tatapan Reina berubah teduh, ia yang awalnya hendak bicara tadi langsung diam saat melihat siapa yang ada di pintu masuk.
“Pak Bima.
WAH KALIAN PENASARAN NGGAK?
To be continued