
Alara mengusap bahu suaminya yang terlihat masih emosi, padahal jarak Jakarta dan Bandung seharusnya sudah cukup untuk meredakan amarah Al, namun saat kembali Alderio justru terlihat murung dan kesal.
"Kamu kenapa, Mas. Kok pulang langsung murung gini?" Tanya Alara lembut.
Alderio mengatur nafasnya, ia membuang nafasnya pelan lalu menatap istrinya dengan lembut.
Alderio menarik istrinya untuk duduk di pangkuannya, ia mengusap pipi tembem Alara karena faktor kehamilan, kemudian tangannya turun mengelus perut istrinya yang mulai terlihat besar.
"Anak Papa sedang apa, Sayang?" tanya Alderio lembut.
Alara tersenyum senang mendengar suaminya sudah kembali baik.
"Sedang tidur, Mas. Dari tadi nungguin Papanya nggak pulang-pulang." Jawab Alara bergurau.
Alderio terkekeh mendengar ucapan istrinya, ia mencubit pipi ibu hamil itu dengan gamas.
"Kamu habis darimana, Mas?" tanya Alara mengusap dada bidang suaminya.
"Dari Bandung, Sayang." Jawab Alderio seraya fokus mengusap perut istrinya.
"Kamu pergi menemui Mika, bagaimana keadaanya Sayang?" tanya Alara antusias.
Alderio menatap wajah cantik istrinya, ia mengusap kening Alara lalu menciumnya dalam.
"Jika aku meminta kamu untuk melupakan bahwa kita adalah keluarga Haiyan, apa kamu mau?" tanya Alderio serius.
Alara mengerutkan keningnya, ia tidak paham dengan maksud ucapan suaminya barusan.
"Maksud kamu apa, Mas?" tanya Alara bingung.
Alderio menegakkan tubuhnya, ia masih tetap memangku istrinya. Alderio pun bercerita tentang bagaimana tuduhan Bima dan Renata terhadap Alara, serta sikap kedua orang tuanya yang langsung mengklaim Alara bersalah hanya karena pengakuan yang bisa saja palsu.
Alara terkejut, ia menatap suaminya dengan tatapan tidak menyangka. Alara senang suaminya percaya penuh padanya, namun jika sampai memutus hubungan keluarga itu bukan hal yang benar.
"Mas, kenapa kamu mengambil keputusan itu. Itu nggak baik, Mas. Mereka keluarga kamu, dan mereka pasti sedih dengan apa yang kamu ucapkan." Ucap Alara menggelengkan kepalanya.
"Sayang, aku tidak peduli. Sudah aku katakan bukan bahwa aku lebih percaya kamu, bahkan daripada diriku sendiri. Saat mama dan papa membela Mika, tentu aku marah karena mereka hanya melihat dari satu sisi." Sahut Alderio menjelaskan dengan tenang.
"Aku tahu, Mas. Aku tahu kamu percaya penuh sama aku, tapi nggak sampai kaya gini. Aku takut mama Mira akan semakin membenciku karena putranya lebih membela istri daripada orang tuanya sendiri." Ujar Alara seraya bangkit dari pangkuan Alderio.
Alara menangis, ia menundukkan kepalanya seraya menyeka air mata yang mulai keluar.
"Hiks … tapi nggak gitu, Mas. Aku nggak mau keluarga kita sampai pecah," lirih Alara.
Alderio yang tahu istrinya menangis lantas menarik wanita itu ke dalam pelukannya, ia dekap hangat tubuh gemetar Alara dan tidak lupa kecupan berkali-kali di puncak kepala istrinya.
"Sayang, aku sudah mengambil keputusan. Terserah bagaimana menurut kamu, tetapi yang jelas aku tidak akan menganggap mereka sebagai keluargaku sebelum mereka mengakui bahwa kamu nggak salah!" tegas Alderio.
Alara mengangkat wajahnya, ia menangkup wajah suaminya yang terlihat begitu merah karena amarah. Ia satukan kening mereka, disini Alara yang paling merasa bersalah.
"Maafin aku, Mas. Gara-gara aku, kamu harus membantah keluarga kamu." Bisik Alara dengan mata terpejam.
Alderio menggelengkan kepalanya, ia tentu tidak setuju dengan penuturan istrinya. Ia melakukan itu atas kemauannya sendiri, ia hanya melakukan apa yang menurutnya benar. Seorang suami yang baik akan selalu membela istrinya sampai akhir, jika istrinya itu memang tidak bersalah seperti kasus Alara.
"Hiks … akhhhh … awww, perut aku sakit, Mas." Alara tiba-tiba meringis merasakan perutnya yang kram dan tegang.
Alderio panik, ia menatap wajah istrinya yang tengah menahan sakit.
"Sayang, kenapa? Perut kamu sakit, kita ke rumah sakit 'ya?" ucap Alderio tergesa-gesa.
Alara menggelengkan kepalanya. "Nggak, Mas. Cuma kontraksi aja, aku mau istirahat, Mas." Tolak Alara seraya meremat lengan suaminya.
"Sayang, aku takut terjadi apa-apa. Kita ke rumah sakit ya," bujuk Alderio namun lagi-lagi di tolak oleh Alara.
"Ini sudah biasa, Mas. Dengan istirahat sebentar, sakitnya juga akan hilang." Jelas Alara.
Alderio dengan sigap menggendong istrinya lalu membawanya ke kamar mereka. Ia ikut berbaring di sebelah Alara dengan tangan yang aktif mengusap perut Alara.
"Anak Papa baik-baik ya di dalam sini, jangan buat Mama kesakitan." Bisik Alderio membuat Alara yang melihatnya tersenyum.
Alara mengusap kepala suaminya, meski ia kecewa dengan keputusan Alderio, namun sebagai istri ia akan ikut kemanapun suaminya pergi, dan ia akan ikut pendapat Alderio yang sudah sangat membelanya.
PAK AL ITU TEGAS BANGET MBA ARA, KAMU JANGAN KHAWATIR 😌
To be continued