My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Menyukainya



Hari ini adalah jadwal Reina untuk cek up lukanya ke dokter, sekaligus latihan berjalan. Sudah 1 Minggu berjalan sejak kecelakaan, dan selama itu Reina belum melihat perubahan sama sekali pada kakinya.


Reina pergi tentu tidak sendiri, ia diantar oleh pria yang bersedia melakukan apa saja untuk bertanggung jawab karena ia telah menolongnya.


"Pak Bima, maaf saya jadi merepotkan." Ucap Reina tanpa menatap Bima yang fokus membawa mobil.


Bima menoleh ke arah Reina sebentar lalu tersenyum.


"Tidak merepotkan, Reina. Saya justru senang bisa mengantar kamu," sahut Bima jujur.


Reina ikut tersenyum, entah mengapa ia merasa senang mendengar penuturan Bima yang seakan suka berada di dekatnya.


Namun sesaat kemudian Reina menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh berharap lebih kepada Bima, ia tidak boleh menaruh perasaan kepada adik ipar sahabatnya.


"Ada apa, apakah kamu pusing?" tanya Bima terlihat khawatir.


Reina menggeleng pelan, ia menatap lekat wajah Bima yang tampan, tegas dan sangat berwibawa. 


Terbesit di hatinya sebuah pujian untuk pria dihadapannya ini.


"Tampan, mapan dan sangat baik." Batin Reina dengan tatapan masih terfokus pada wajah tampan Bima.


"Yakin tidak apa-apa?" tanya Bima lagi.


"Iya, saya tidak apa-apa." Jawab Reina mengangguk.


Mereka akhirnya sampai di rumah sakit, Bima turun lebih dulu daripada Reina.


Ia mengeluarkan kursi roda Reina lalu meletakkannya di lobby rumah sakit, setelahnya ia baru membukakan pintu untuk gadis itu.


"Pelan-pelan," ucap Bima seraya membuka seatbelt Reina.


Jantung Reina berdegup kencang, ia bahkan mendadak tegang saat melihat wajah Bima yang sangat dekat dengannya. Bahkan Reina dapat merasakan terpaan nafas hangat berbau mint milik pria itu.


Diwaktu yang bersamaan, entah mengapa seatbelt nya macet, hal yang membuat Reina harus semakin lama dengan posisi demikian, ia sangat khawatir tidak bisa mengendalikan hatinya sendiri.


"Kenapa sulit sekali." Gumam Bima berbisik di depan wajah Reina.


"P-pak, biar … biar saya saja yang membukanya." Ucap Reina terbata akibat rasa gugup yang dirasakannya.


Bima tersadar, ia kini menatap mata Reina yang juga tengah menatapnya. Pandangan mata mereka terkunci satu sama lain.


Meski tatapan mata tetap kepada Bima, namun tangan Reina tetap berusaha membuka seatbelt nya, agar situasi ini segera berakhir.


"Berhasil, Pak!" helaan nafas Reina terdengar saat ia berhasil membuka seatbelt nya.


Bima tersadar, ia buru-buru menjauh dari Reina sambil menggaruk pelipisnya.


"Saya bantu." Ucap Bima lalu menggendong Reina tanpa banyak bicara lagi.


Reina terkejut, ia reflek mengalungkan tangannya di leher pria itu bahkan sangat erat.


"Jangan takut, saya tidak akan menjatuhkan kamu." Ucap Bima ketika tahu bahwa Reina takut jatuh.


Reina tersenyum canggung, ia bukan takut jatuh, tetapi ia hanya terkejut sehingga respon tubuhnya sangat reflek.


Bima menurunkan Reina dengan hati-hati untuk duduk di kursi rodanya. Semua adegan itu tentu disaksikan oleh beberapa pengunjung rumah sakit yang dipastikan akan menganggap mereka berdua adalah suami istri.


"Suster, langsung bawa ke ruang periksa 'ya." Ucap dokter yang menangani Reina.


Bima tersenyum saat Reina menoleh kepadanya. Bima bukan meninggalkan gadis itu sendiri, tetapi ia harus memarkirkan mobilnya dulu.


Setelah selesai memarkirkan mobilnya di tempat yang benar, Bima segera masuk ke dalam rumah sakit dan pergi ke ruang periksa Reina.


"Nah itu Pak Bima, sekarang bisa dimulai latihannya biar semangat 'kan?" tanya dokter itu.


Reina menatap dokter dengan bingung.


"Saya tidak menunggu–" Ucapan Reina terhenti karena Bima memotongnya.


"Berjuanglah, Reina. Saya disini akan menunggu kamu dan mendampingi kamu sampai benar-benar bisa berjalan kembali." Ujar Bima sungguh-sungguh.


Reina menelan salivanya, ia menatap Bima lalu menghela nafas pelan.


"Kenapa kasih semangat udah kaya mau lamaran sih, segala mendampingi." Batin Reina malu-malu.


Reina tersenyum. "Iya, Pak. Terima kasih," balas Reina atas ucapan Bima tadi.


Perlahan suster menurunkan kedua kaki Reina ke lantai, ia juga membantu Reina agar kuat berdiri.


Reina meringis, namun ia berusaha untuk mempertahankan posisinya yang kini sudah bisa untuk berdiri.


"Sakit?" tanya dokter dan dijawab anggukkan kepala oleh Reina.


"Pelan-pelan, coba melangkah 'ya." Tutur dokter lembut.


Wajah Reina mulai dipenuhi keringat, inilah yang membuatnya harus siap seluruh tubuh saat ingin belajar jalan kembali, karena bukan hanya kaki yang sakit, tetapi semua anggota badan ikut merasakannya.


Pelan-pelan Reina melangkahkan kakinya, satu demi satu lantai rumah sakit telah di lewatinya sambil berpegangan pada suster.


"Suster, lepaskan pegangan tangannya." Ucap dokter memberi perintah.


Suster melakukannya, ia melepaskan pegangan Reina di tangannya.


Kini Reina berdiri sendiri, ia menatap kakinya dengan perasaan takut, ia takut jatuh.


"Reina, saya yakin kamu bisa." Ucap Bima memberi semangat.


Reina tersenyum, ia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Kaki Reina mulai melangkah, namun pada langkah kedua tubuh gadis itu hampir terjatuh karena kakinya tidak kuat menahan beban tubuhnya sendiri.


Bima dengan sigap meraih tubuh Reina yang hampir terjerembab ke lantai, ia bahkan reflek memeluk tubuh Reina yang mungil.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Bima dengan posisi masih memeluk Reina.


Reina tidak menjawab, ia sedang menormalkan detak jantung dan hawa panas di tubuhnya. Mata Reina terpejam, wangi tubuh Bima benar-benar membuat pikirannya tenang.


"Reina." Panggil Bima pelan.


Reina berdehem, matanya masih terpejam tanpa berniat untuk membukanya. Ia suka, ia suka sekali dengan aroma tubuh Bima, dan orangnya.


Bima menggendong Reina, hal itu sontak membuat Reina membuka matanya pelan-pelan.


"Sudahi saja latihannya 'ya, saya rasa sudah cukup dan bisa dilanjut di rumah." Tutur Bima seraya mendudukkan Reina di kursi roda.


Bima menunduk, ia merogoh kantong celananya dan mengambil sapu tangan lalu menyeka keringat di dahi Reina.


"Semangat dan jangan pernah menyerah." Tutur Bima tersenyum lebar.


WAHH MBA REINA BAPER 😭😭


Mohoj maaf karena jarang update, lagi benar-benar sibuk sama real life 😌🙏


To be continued