My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Vibes suami istri



Alara sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah karena kondisinya sudah semakin baik, begitu pula dengan bayinya. 


Kini Alara, Alderio dan baby Arion sedang dalam perjalanan menuju rumah mereka, Bima yang menjemput sekaligus membantu mengurus administrasi di rumah sakit tadi.


"Tumben mau jemput." Celetuk Alderio terkikik.


"Reina yang meminta, dia sudah ada di rumah kalian dan akan menyambut baby Ar." Sahut Bima tanpa menatap kakaknya.


"Oh, jadi jika aku yang meminta, Kak Bima nggak akan mau jemput?" tanya Alara sekedar bercanda.


"Eh, bukan seperti itu, Kakak ipar. Tentu saja aku akan menjemput, apalagi ada keponakanku yang tampan ini." Jawab Bima dengan cepat.


Alara dan Alderio terkekeh, Bima selalu bisa mengelak dalam hal apapun.


Reina, gadis itu menjadi topik pembicaraan Alara dan suaminya sejak semalam. Bukan apa, mereka hanya sedang bingung dengan perubahan sikap Bima semenjak ada Reina di rumah.


Bima yang dulu lebih sering dikantor, kini lebih banyak di rumah, bahkan sampai memiliki waktu untuk menjemput kakak iparnya.


Reina juga, entah mengapa akhir-akhir ini Alara merasa sahabatnya itu sedikit berbeda. Reina yang dulu selalu menghindar dari seorang pria, kini justru sebaliknya.


Alara tidak menyebut sahabatnya itu genit, ia justru senang jika Reina sampai benar-benar dekat dengan adik iparnya, dan bisa membuat Bima kembali membuka lembaran baru dalam hidupnya.


"Bagaimana hubungan mu dan Reina?" yang Alderio to the point.


Bima tersentak, ia menatap kakaknya dari cermin yang ada di tengah mobil.


"Hubungan apa, kami hanya berteman biasa." Jawab Bima terlihat gelagat aneh saat menjawab.


"Kapan aku mengatakan kalian lebih dari teman." Timpal Alderio tidak mau kalah.


"Yaudah iya, aku yang salah kaprah. Tetapi aku dan Reina memang tidak ada hubungan apa-apa." Jelas Bima sekali lagi.


"Jika kalian ada apa-apa pun bukannya tidak masalah, kalian kan sama-sama lajang." Ujar Alara menyahut.


Bima mengerem mendadak saat mendengar ucapan kakak iparnya, hal itu sontak membuat Alara dan Alderio terkejut, bahkan Alderio sigap menahan tubuh istrinya yang hampir terjerembab ke depan.


"Bim!" teguh Alderio.


Bima tersadar, ia menatap kakak dan kakak iparnya bergantian.


"Maafkan aku, Kak. A-aku tidak sengaja, tadi ada kucing lewat." Ucap Bima terbata.


"Ya sudah, ayo lanjut." Tutur Alderio menyuruh adiknya itu melanjutkan perjalanan.


Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di apartemen Alderio dan Alara. Ternyata memang benar bahwa Reina sudah menunggu untuk menyambut kedatangan baby Ar.


"Hallo Onty Reina." Sapa Alara menirukan suara anak kecil.


Reina tertawa, ia mengulurkan tangannya untuk menggendong baby Ar, ia sudah sangat menantikan anak sahabatnya itu untuk ia gendong dan ia cium.


Alara memberikannya, ia membiarkan anaknya digendong oleh Onty cantiknya itu.


Alderio mengangguk, ia pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.


"Reina, kak Bima. Titip baby Ar 'ya, aku mau ke kamar dulu." Ucap Alara pamit.


"Ingat, Kak. Baru habis melahirkan, jangan sampai buat adik Arion lagi." Celetuk Bima bergurau.


Alara melotot, namun tak ayal ia ikut tertawa mendengar ucapan adik iparnya.


Tidak mau ambil pusing, Alara segera pergi ke kamar dan menyusul suaminya yang pasti sudah masuk ke dalam kamar mandi sekarang.


Kini diruang tamu tinggal Reina dan juga Bima, dua orang itu asik menatap baby Ar yang sedang tidur, bahkan tangan Bima berkali-kali menyentuh pipi Arion.


"Pak, anda sudah cuci tangan 'kan?" tanya Reina menegur.


"Sudah dong, tangan saya sudah steril. Lagipula saya tidak mungkin berani menyentuh anak-anak tanpa mencuci tangan dulu." Jawab Bima menunjukkan tangannya yang sudah bersih.


Reina menyipitkan matanya, ia mengangguk karena tangan Bima memang sudah bersih.


"Arion tampan banget kaya uncle nya." Ucap Bima percaya diri.


Reina tertawa, ia bahkan sampai menutup mulutnya saat mendengar ucapan Bima.


"Kenapa tertawa, apa ada yang lucu?" tanya Bima keheranan.


"Tidak ada, tapi saya hanya ingin tertawa." Jawab Reina seraya menghentikan tawanya.


"Kamu menertawakan saya?" tanya Bima menyipitkan matanya.


Saat Bima berucap, tiba-tiba tubuh baby El menggeliat karena terkejut dengan suara Bima. Hal itu membuat Reina dan Bima langsung mempuk-puk baby Ar agar tidak menangis.


"Cup … cup, anak ganteng bobok lagi ya." Ucap Reina seraya mengusap kepala Arion.


"Maaf ya, dengar suara uncle kamu jadi kaget." Celetuk Bima seraya terus mempuk-puk baby Ar.


Tanpa disadari keduanya, kini Bima dan Reina terlihat seperti sepasang suami istri yang sedang mengurus anak mereka.


Reina yang tampak seperti seorang ibu yang ingin menidurkan anaknya, sementara Bima seperti ayah siaga yang menjaga anak dan istrinya.


"Sudah tidur lagi, Pak." Ucap Reina pelan.


"Iya, cocok juga kita kalo jadi orang tua." Sahut Bima tanpa sadar.


"Hah?!"


LAH KOK BENER YA, MEREKA COCOK JADI PASANGAN 😂


To be continued